Dakwah dari Tumang ke Tumang (1)

Di lereng gunung ia berdakwah. Menyebarkan salam dan memperkenalkan Islam kepada warga Suku Tengger. Medan yang berat dan dinginnya hawa pegunungan tak menghalangi langkahnya menyebarkan kemuliaan Islam.

Empat orang lelaki itu duduk di atas bangku kecil mengelilingi tumang (tungku) yang terletak di dapur rumah Sunarsan, warga Dusun Puncak, Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Mereka adalah para mualaf yang baru saja masuk Islam setelah Idul Fitri 1428H, beberapa waktu lalu.

Di ujung bangku kecil sebelah kiri tumang sepanjang satu setengah meter, Ustadz Edy Purwanto tengah berbicara tentang tauhid dan shalat. Edy adalah salah seorang dai yang membina para mualaf ini. 

Walau udara di luar terasa dingin dan menusuk tulang, mereka tetap khusyuk menyimak kata-kata yang keluar dari mulut sang ustadz. Malam itu mereka berkumpul karena baru saja menunaikan shalat Isya secara berjamaah di Musala An-Nur yang terletak di sebelah kanan rumah Sunarsan. 

Dan Edy, menyempatkan diri mampir untuk bersilaturahim. “Shalat itu memang berat, tapi kalau kita membiasakan diri, akan jadi mudah,” kata Edy disambut anggukan pendengarnya.

Dai Pesantren Hidayatullah Lumajang itu memberikan tamsil tentang pentingnya shalat ibarat orang yang mandi lima kali sehari. “Kalau panjenengan (Anda) semua ini mandi lima kali sehari, apakah masih kotor atau bersih?” tanyanya sebagaimana Rasulullah dulu bertanya pada para sahabat.

“Tentu saja bersih,” jawab mereka berbarengan. 

Di tengah kekhusyukan suasana, tiba-tiba seorang pemuda masuk dari pintu samping lalu duduk di bangku pendek di sebelah kanan tumang, berdekatan dengan dua warga lainnya. Dia pun ikut mendengarkan dengan saksama apa yang disampaikan Edy. 

Istri Sunarsan, segera mengambil beberapa gelas dan menuang kopi panas ke dalamnya. Tiap orang mengambil gelas tanpa dipersilakan, seolah tahu bagian masing-masing. 

Selain tamu biasa, yang hadir di tumang Sunarsan malam itu adalah Karyo Slamet, salah seorang tokoh Dusun Puncak. Sebelum memeluk Islam, Yok, panggilan Karyo, termasuk salah seorang penentang Islam yang paling keras. Namun, setelah mendapatkan hidayah dan bersyahadat, dia pun berbalik menjadi orang yang peduli dengan agama Allah. 

Mendengar ceramah Edy itu, Yok nyeletuk, “Kadang saya agak malas untuk shalat, karena tidak sempat.”

“Memang harus dibiasakan Pak Yok, kalau tidak, ya nggak bisa,” sahut Bakri, warga sedusunnya, yang malam itu turut nimbrung. 

Edy pun menimpali, “Yang namanya pekerjaan berat, pasti hasilnya akan berlipat ganda. Demikian pula dengan shalat. Sampeyan-sampeyan harus bersyukur kepada Allah karena diberi hidayah untuk masuk Islam. Alangkah indahnya agama ini, dan alangkah mahalnya hidayah Allah. Oleh karena itu, marilah kita pertahankan hingga akhir hayat.”

Ketika bersilaturahmi seperti inilah biasanya Edy memberikan tausiah kepada mereka tentangnya pentingnya shalat wajib, shalat tahajud, shalat dhuha maupun ibadah lainnya. 

Tausiah tidak melulu ia berikan di musala. Malah yang di depan tumang itulah yang paling sering. Dan biasanya, kata Edy, dakwah di tumang lebih mendalam dan mengena ke hati mereka, ketimbang ceramah di musala. 

Tungku multifungsi

Dakwah di depan tumang warga dusun adalah salah satu cara Edy membina para mualaf yang haus siraman rohani. Tumang adalah tempat multifungsi. Ia bisa jadi tempat makan, menerima tamu, tempat rehat, ruang berkumpul, maupun tempat menghangatkan tubuh. Nyala api di tumang tidak akan mati, kecuali penghuni rumahnya telah beranjak ke peraduan. 

Warga Suku Tengger di depan tumang. Foto: Weka Bhagawan/Kompasiana.com

Hawa dingin khas pegunungan yang menusuk tulang memaksa mereka untuk selalu mencari kehangatan. Dan tumang adalah tempat praktis untuk melakukan itu semua. Tak heran jika tumang adalah tempat atau pusat segala kegiatan rumah tangga Suku Tengger. 

Tumang adalah tungku berbentuk kotak dengan tiga buah lubang, dua di atas untuk menanak nasi atau lauk dan satu lubang di depan tempat memasukkan kayu bakar. Di depan lubang tempat kayu bakar tergantung seuntai rantai yang dikaitkan pada  para-para. 

Rantai itu digunakan untuk menjerang air di teko yang telah dikaitkan kawat di atasnya. Teko ini tergantung di rantai, persis di depan lubang tempat memasukkan kayu bakar. 

Dusun Puncak adalah kawasan tertinggi di Desa Argosari. Sekitar dua kilometer ke arah barat dusun, Gunung Bromo tampak indah menjulang. Puncak Gunung Semeru tampak gagah menantang langit di sebelah utara. 

Pemandangan sekitar dusun dihiasi oleh lereng-lereng curam yang ditanami bawang daun dan kubis, yang berderet-deret simetris membentuk pemandangan indah dan memesona. 

Rumah-rumah penduduk terletak di pinggir jalan setapak yang tidak seberapa lebar. Jalan kecil yang dari kejauhan mirip seleret garis itu tak cukup luas dijadikan perkampungan. 

Tak heran jika di tiap pinggir jalan, paling hanya dimuat satu atau dua bangunan rumah. Itu pun harus berebutan dengan lereng tempat mereka bercocok tanam. Walau di Dusun Puncak terdapat 41 kepala keluarga, namun rumah mereka berjauhan, karena keterbatasan lahan.

Dahulu kala, sebagian warga Puncak memeluk agama Islam sebelum menjadi penganut Hindu. Ini terbukti dengan adanya ‘bekas’ musala yang terdapat di sana. Kondisi musala itu sangat memprihatinkan karena tak terpakai dalam waktu lama. 

Atapnya banyak yang bocor, dinding-dindingnya terkelupas dan bolong di sana-sini. Lantainya tak kalah seru, terbuat dari tanah dan penuh kotoran hewan. Wajar saja, sebab kambing dan ayam menjadikannya tempat favorit untuk bermain.

Begitu mereka telah kembali berikrar ke pangkuan Islam, tentu saja keberadaan musala menjadi vital. Mereka membutuhkan tempat untuk shalat dan beribadah. Musala yang hampir roboh dimakan usia dan tak pernah dipakai itu direnovasi kembali. 

Warga dan para dai bergotong-royong, bahu-membahu membangun kembali tempat sujud mereka. Tanah tempat musala itu berada adalah milik salah seorang warga yang diwakafkan setelah ia kembali menjadi Muslim. (bersambung)

 

Posted in

One response to “Dakwah dari Tumang ke Tumang (1)”

  1. […] terus bergiat menebarkan rahmatan lil alamin-nya Islam. Dia hanya ingin keberadaan para dai di komunitas Suku Tengger itu membawa manfaat dan maslahat bagi […]

    Like

Leave a comment