Dakwah dari Tumang ke Tumang (2-habis)

Warga Dusun Puncak termasuk dalam gelombang terakhir yang masuk Islam dibandingkan dengan warga dusun lainnya seperti Dusun Pusung Duwur dan Bakalan. 

Jumlah mualaf di kedua dusun itu pun lebih banyak dibandingkan dengan yang di Puncak. Untuk membina para mualaf di seluruh Argosari, Ustadz Edy tidak bergerak sendirian. Ia ditemani oleh dai-dai lainnya dari beberapa ormas Islam. 

Semangat para mualaf ini dalam belajar Islam memang sangat tinggi. Mulai dari anak-anak hingga kakek-nenek berlomba-lomba belajar baca tulis Al-Qur’an di musala. 

Belajar mengaji ini biasanya dilakukan habis Maghrib hingga Isya. Namun usai shalat Isya, mereka minta diajari lagi. Di rumah pun kadang mereka minta ‘les tambahan’ ketika para dai bersilaturrahim. 

Mayoritas warga Desa Argosari adalah petani. Mereka menanam kentang, kubis dan bawang daun. Lahan mereka adalah lereng-lereng gunung yang tinggi dan curam dengan kemiringan sekitar 50 derajat. Secara ekonomi hidup mereka berkecukupan. 

Jalan ke arah Puncak lebih berat daripada ke Pusung Duwur atau Bakalan. Hanya sebagian jalan yang menuju dusun kecil itu saja yang diaspal. Sisanya alami, tanah pegunungan dengan tanjakan dan turunan tajam. 

Ketika musim kemarau berdebu, ketika musim hujan licin dan berlumpur, bahaya untuk dilewati. Jangankan naik sepeda motor, dengan berjalan kaki saja orang luar biasanya terpeleset. 

Edy dan istrinya pernah terjatuh dari motor ketika naik gunung. Waktu itu ia mengajak istrinya untuk mengajar di Pusung Duwur. Kebetulan hujan turun dengan deras, jalan alami berupa tanah itu pun berubah licin karena air campur lumpur. 

Sepeda motornya oleng karena tak kuat menaiki jalan yang menanjak. Untunglah mereka berdua tidak terjatuh ke jurang yang dalamnya mencapai ratusan meter di kanan-kiri.

Sebenarnya, jumlah dai yang ada tidak cukup untuk membimbing mualaf yang sedemikian banyaknya. Untuk sementara, para dai hanya mengajarkan baca tulis Al-Qur’an, tata cara berwudhu, shalat serta pemantapan akidah dan tauhid kepada mereka. Maklum, sebagai orang yang baru beriman, mereka benar-benar buta soal Islam. 

Tantangan paling berat yang dihadapi Edy selain medan dakwah adalah jumlah mualaf yang masih minim. Penduduk Desa Argosari yang mencapai 6.000 jiwa, baru 1.000 saja orang yang masuk Islam. 

Dari jumlah yang 1.000 ini tenaga dainya tidak sampai 20 orang. Edy dan kawan-kawan berharap akan banyak terjadi pengiriman tenaga-tenaga dakwah lainnya. 

“Kalau ini tidak diimbangi dengan pengiriman tenaga dai, maka akan mudah terjadi resistensi dengan misionaris yang juga giat ‘berdakwah’ di sana. Kalau kita tidak memerhatikan kebutuhan para mualaf ini, nanti orang lain yang akan masuk,” kata bapak tiga anak ini.

Metode dakwah

Metode dakwah yang diterapkan Edy sebenarnya sederhana, silaturahmi. Setiap bertemu orang di Argosari, dia selalu menyebarkan salam. Kalau yang ditemui kebetulan orang Hindu, ia cukup tersenyum dan menyapa. 

Bagi Edy, kunci daripada dakwah adalah silaturahmi dan komunikasi. Yang tak kalah pentingnya adalah shalat malam. Edy berupaya tiap malam selalu bangun dan memohon pada Allah agar perjalanan dakwahnya mendapatkan kemudahan.

Masalah lain yang jadi tantangan para dai adalah rendahnya tingkat pendidikan warga dusun. Mereka tidak bisa baca tulis, walau telah berusia uzur sekalipun  karena tidak pernah mengecap bangku sekolahan. Oleh karena itu, Edy dan kawan-kawan kerap menganjurkan para mualaf agar menyekolahkan anak-anak mereka, entah di pesantren atau sekolah umum. 

Di Puncak sendiri, tidak terdapat Sekolah Dasar (SD). Sekolah itu hanya ada di Dusun Legok, jauh di bawah pedusunan. Itulah yang membuat mereka malas menyekolahkan anak-anaknya. Kini, sebagian anak-anak para mualaf ini telah dikirim ke beberapa pesantren di sekitar Lumajang. 

Namanya mualaf yang sebelumnya beragama Hindu, masih ada di antara mereka yang memelihara babi. Untuk melarang secara langsung para dai tidak mau. Edy khawatir larangan itu akan menimbulkan keguncangan, sementara untuk beternak hewan lainnya masih belum bisa dilakukan. 

“Kita tidak bisa hanya sekedar melarang tanpa memberikan solusi. Kita harus bisa mencari alternatif ternak lain yang dapat dipelihara oleh para mualaf,” katanya.

Kini Edy tengah sibuk mencari sponsor atau donatur yang mau mempercayakan pada mualaf untuk beternak kambing atau sapi. Dan warga pun siap mengganti ternaknya kalau memang ada alternatif. Sebenarnya warga tahu bahwa babi diharamkan dalam Islam, namun karena desakan ekonomi, mereka tidak mampu berpaling. 

Sebelum bertugas di pegunungan Argosari, Edy Purwanto adalah dai Pesantren Hidayatullah yang bertugas di Timor Leste. Dia ikut bergabung dengan Pesantren Hidayatullah cabang Jember pada tahun 1991 silam. Kala masuk pesantren saat itu, Edy baru menginjak semester tiga di Politeknik Fakultas Pertanian Universitas Jember. 

Setahun setelah bergabung di cabang Jember, Edy pun melangsungkan pernikahan. Bulan madunya adalah penugasan di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pada tahun 1994, ia memboyong keluarganya untuk menjalani tugas baru di Timor-Timur, sekarang Timor Leste. Di negara baru dan termiskin di dunia itu, Edy bertugas selama dua tahun. 

Dakwah di Timor Leste, tidak seperti daerah lain yang mayoritas Muslim. Tantangannya lebih berat dan keras. Edy mengontrak rumah yang dijadikan basis pesantren di tengah-tengah perkampungan Kristen, di Fatuhada, Dili. Di sana ia membina dua puluh dua orang anak-anak mualaf. 

Hampir tiap malam rumah tersebut dilempari batu oleh penduduk setempat. Kadang, beberapa orang mabuk mendatangi pesantrennya, menebar ancaman dan teror. Ketika melaporkan kejadian yang dialaminya ke aparat keamanan, dengan enteng sang petugas malah menyuruh Edy pindah saja ke tempat lain.

Karena resistensi dan reaksi masyarakat yang kian keras, Edy pun terpaksa mengungsikan santri-santrinya ke Kupang, di tempat dia bertugas sebelumnya. Kemelut di Timor-Timur yang memanas ditambah lagi oleh perlakuan masyarakat sekitarnya yang semakin keras meneror, Edy pun pindah akhirnya pindah mencari rumah kontrakan baru. 

Di bekas provinsi termuda di Indonesia itu, Edy pernah mencicipi pengapnya jeruji besi selama delapan bulan. Ia dituduh mengambil anak-anak yang jadi santrinya secara paksa dari orangtua mereka. 

Padahal mereka adalah anak-anak yatim-piatu yang tidak memiliki orang tua lagi. Ketika diserahkan ke pesantren, dokumen-dokumennya penyerahannya ditandatangani oleh Hanafi, tokoh masyarakat di mana anak-anak itu tinggal. 

Kini di puncak gunung tinggi, di tumang-tumang rumah warga, Edy dan kawan-kawan terus bergiat menebarkan rahmatan lil alamin-nya Islam. Dia hanya ingin keberadaan para dai di komunitas Suku Tengger itu membawa manfaat dan maslahat bagi umat.*

 

Posted in

One response to “Dakwah dari Tumang ke Tumang (2-habis)”

  1. […] Warga dan para dai bergotong-royong, bahu-membahu membangun kembali tempat sujud mereka. Tanah tempat musala itu berada adalah milik salah seorang warga yang diwakafkan setelah ia kembali menjadi Muslim. (bersambung) […]

    Like

Leave a comment