Bisnis dan Dakwah di Jalur IT (1)

Tak banyak orang Muslim yang terjun dalam bisnis IT (Informasi Teknologi) di tanah air, pengusaha muda ini adalah salah satunya. Bisnis yang dijalankannya tak hanya sekedar sarana mencari uang, dakwah dan ibadah adalah yang utama.

Suasana di sebuah bangunan berlantai dua di Jalan Salahutu Indah, Malang, Jawa Timur itu tampak sibuk. Beberapa karyawan, baik pria maupun wanita tengah asyik dengan komputer di hadapan masing-masing. 

Dari tampilan karyawan wanita yang semuanya memakai jilbab, terpancar kentalnya nuansa Islam. Tempat itu adalah kantor pusat jaringan bisnis ISP (Internet Service Provider) bernama Spin Internet, biasa disingkat Spin Net.  

Spin Net adalah ISP yang dikenal karena layanan internetnya yang dapat memblokir situs-situs porno. Sang pemilik adalah Atet Sugiharto, lelaki muda kelahiran Sumenep, Madura, 34 tahun lalu. Kini Atet telah menjadi sosok yang diperhitungkan dalam bisnis IT di Indonesia. 

Spin Net sendiri adalah salah satu usaha bisnisnya di bawah bendera PT Immedia Visi Solusi. Spin sebenarnya singkatan dari selalu produktif dan inovatif. “Spin juga berarti muter. Kita ingin selalu memutar pikiran untuk melakukan apa yang bisa kita lakukan, selalu berinovasi,” jelas Atet. 

Beberapa layanan Spin Net antara lain Spin Aksi Plus, adalah layanan akses internet khusus bagi universitas atau perguruan tinggi, Spin Broadband, layanan internet yang memberikan koneksi sharing bagi pengguna personal atau perumahan, Spin VPN (Virtual Private Network) yang memberikan koneksi antar perusahaan untuk wilayah Malang, Bangil, Ngoro, Mojokerto dan Pandaan, 

Sementara Spin Aksi yang memberikan layanan akses internet bagi sekolah-sekolah di Indonesia. Semua layanan ini bisa digunakan untuk link nasional dan internasional dengan harga terjangkau.

Sebelumnya, Atet bekerja di sebuah ISP nasional selama sepuluh tahun. Merasa telah mampu membuka usaha sendiri, ia pun memutuskan keluar dari tempat kerjanya. Pengalaman kerja di ISP besar itu telah memberikannya pelajaran, bahwa seharusnya umat Islam yang menjadi kiblat teknologi, bukan orang-orang non-Muslim. 

Namun, kenyataan berbicara lain, bisnis teknologi di dunia ini kebanyakan dikuasai mereka. “Seharusnya teknologi itu kita kuasai. Kita jangan hanya jadi kelinci percobaan,” prinsip Atet ketika mulai membuka usahanya.

Oleh karena itu, sejak 1997, ia pun mulai merintis usaha provider sendiri walau masih berstatus pegawai pada ISP tersebut. Kebetulan waktu itu belum banyak provider yang beroperasi di Malang. 

Sejak awal Atet bertekad untuk mengukir prestasi agar jadi kiblat orang lain di bidang teknologi. “Selama ini kita selalu menjadi konsumen IT pihak lain. Kita dijejali teknologi oleh pihak lain. Demikian pula dengan internet,” ujar bapak dua anak ini. 

Melihat pangsa pasar dan target pengguna internet di Indonesia yang masih banyak dan mengalami peningkatan, terutama dengan adanya internet murah, Atet pun tertarik untuk terlibat dalam bisnisnya. 

Perkembangan internet yang kian pesat belakangan ini, kata Atet, tidak diimbangi dengan sebuah edukasi yang benar. Menurut dia, harus ada yang mengedukasi teknologi itu. Hal inilah yang juga menjadi faktor pendorong alumnus STIKI (Sekolah Tinggi Ilmu Komputer) Malang ini mendalami bisnis IT.

Karena keterbatasan modal yang dimilikinya, Atet merintis Spin Net dengan cara franchise dari ISP tempatnya bekerja. Seiring dengan bergulirnya waktu, pada tahun 2003, Spin Net mendapat penghargaan sebagai The Best Sub-net Provider di Indonesia.

“Semua itu kita dapatkan karena pertolongan Allah juga. Itu kebanggaan tersendiri bagi kami. Artinya, minimal kami bisa melangkah satu langkah dan orang-orang kita (Muslim) tidak dinomorduakan,” kata Atet penuh syukur. 

Wajar saja Atet merasa bangga dan bersyukur dengan apa yang telah diraihnya, mengingat kebanyakan komunitas penggiat bisnis provider itu adalah orang-orang Cina. “Kini mereka telah mulai melirik kita. Sebagai umat Islam, seharusnya kita menguasai IT, karena posisi kita di situ,” singgungnya. 

Akhirnya, sejak tahun 2004 Atet berpikir bahwa Spin Net tidak bisa terus-menerus menggantungkan diri dengan provider frenchise-nya. Ia merasa ada suatu batu sandungan di sana, yaitu masalah akidah. 

Setelah itu, dia mulai mengurus segalanya untuk mendirikan provider sendiri. Dengan dibantu oleh lima orang karyawan, suami Dian Candra Safitri ini pun membuka kantor provider di tiga kota di Jawa Timur, yaitu Malang, Pasuruan dan Mojokerto. 

Spin Net adalah satu-satunya provider internet milik Muslim yang dikelola oleh orang-orang Muslim, mulai dari tingkat atas sampai ke bawahnya. Dengan jumlah karyawan sebanyak 31 orang, Spin Net kini telah merambah ke lima kota di tanah air, antara lain Malang, Pasuruan, Mojokerto, Jakarta dan Surabaya. 

Jumlah pelanggannya mencapai 100 korporasi dengan omzet rata-rata Rp 200-an juta per bulan. Total aset Spin Net sekitar Rp 4 miliar saat ini.

Membidik korporasi sebagai pelanggan bukanlah tanpa sebab. Bagi Atet, korporasilah yang memegang kekuatan finansial yang besar, bukan perseorangan. “Kita ingin menghemat resources (sumber daya). Ibaratnya, mengelola sedikit orang dengan income yang banyak,” ungkapnya. (bersambung)

Posted in

One response to “Bisnis dan Dakwah di Jalur IT (1)”

  1. […] antara ritme kerja dan ibadah yang dirangkai dalam dakwah adalah salah satu kunci kesuksesan Atet Sugiharto. Dan, ia layak mendapatkan […]

    Like

Leave a comment