Sejak Agustus 2007, Spin Net mulai terjun ke level perseorangan, karena ingin melakukan edukasi ke masyarakat. Apalagi saat ini internet sedang booming.
Menurut Atet, jika dalam kondisi seperti itu, tidak dilakukan edukasi pada masyarakat, akan menimbulkan masalah. Kalau internet sudah ada di rumah dan anak-anak sudah teracuni, susah untuk membendungnya.
“Kita khawatir, kalau internet sudah jadi kebutuhan dan kita tidak bisa mengedukasi masyarakat, maka imbasnya sangat besar. Mumpung belum, mulai sekarang harus kita lakukan edukasi. Oleh karena itu, kita langsung terjun ke level personal,” jelasnya.
Sistem berlangganan Spin Net sama dengan provider lainnya, sesuai dengan regulasi pemerintah. Spin Net menawarkan layanan langganan dengan model kuota. Harga yang paling murah sebesar Rp. 99.000 per bulan dengan kuota 250 MB (megabyte). Untuk korporasi, Spin Net mempunyai paket-paket yang lebih variatif sesuai dengan kebutuhan korporasi yang bersangkutan.
Bisnis untuk dakwah
Sebagai salah satu usaha bisnis, Spin Net tentu saja mempunyai target-target yang harus dicapai. Salah satunya adalah ingin menjadi ISP yang syar’i. Atet juga berencana membuka warnet-warnet syariah dengan cara bermitra dengan pengusaha Muslim yang lain. “Kita memberikan pedoman dan guideline-nya tapi yang mengelola adalah mereka,” ujarnya.
Walau dunia internet sedang booming, namun Atet melihat respon masyarakat Islam tidak begitu besar. Hal ini terjadi karena kesadaran mereka untuk menggunakan teknologi masih kurang. Untuk menciptakan kesadaran ini dibutuhkan stimulan, karena biasanya kesadaran orang Indonesia tidak akan muncul kalau tidak distimulus.
Oleh karena itu, Spin Net sering melakukan talk show dan pelatihan-pelatihan. “Ini lho kami punya suatu produk teknologi yang insya Allah kita kelola secara syar’i, ayo dong dibantu! Dengan demikian, edukasi berjalan,” kata Atet.
Persaingan dunia ISP saat ini termasuk ketat, Atet sangat menyadarinya. Oleh karena itu, ia lebih menjual content (isi) ketimbang kecepatan akses. Provider-provider lain banyak yang lebih besar dan lebih cepat dari dari Spin Net karena memiliki uang dan infrastruktur.
Dalam hal ini, Atet mengaku tidak bisa bersaing dengan mereka. Namun, yang menjadi diferensiasi Spin Net adalah nilai dakwah, dimana dengan content itu Spin bisa memblokir situs-situs porno. “Jadi, kalau orang memakai layanan kita, mereka tidak akan bisa mengakses situs-situs yang berbau pornografi,” jelasnya.
Dengan Spin Net, Atet juga mengharapkan para dai dan masyarakat Muslim yang punya akses informasi terhadap internet, berkumpul di situ. “Manfaatkanlah Spin Net semaksimal mungkin untuk ummat dan dakwah!” anjurnya.
Atet juga dikenal sebagai pengusaha yang anti sogokan, apapun bentuknya dan berapapun jumlahnya. Dia pernah mendapatkan tawaran pemasangan internet di salah satu instansi pemerintahan Kota Malang, tapi mereka meminta agar kwitansinya dikosongkan. Maunya ditulis sendiri. Tentu saja Atet menolak. Akhirnya, proyek itu gagal.
Walau demikian, dia tidak menyesal. Baginya, rezeki sudah ada yang mengatur. Oleh karena itu, Atet terus memacu rekan-rekannya di Spin Net agar terus berjuang mencapai yang terbaik.
Bisnis monopolistik
Model regulasi bisnis ISP di Indonesia yang masih belum beres, memang jadi keprihatinan Atet Sugiharto. Kacaunya model regulasi itu hanya menguntungkan pemain-pemain besar saja. Apalagi mereka bermain dari hulu ke hilir.
“Semuanya mau dimonopoli sendiri. Sepertinya serakah banget,” ungkap Aset sambil menyebut salah satu provider besar di tanah air.
Padahal regulasinya tidak mengizinkan monopoli seperti itu, tapi realitanya terjadi. Spin Net yang ingin bermuamalah dan menunjukkan jati diri dalam bisnis ISP jadi terhalang. Namun, Atet tetap berkomitmen untuk tidak mau bermain dari hulu ke hilir. “Kami adalah operator, penyedia jasa. Jadi, tugas kami hanya menyediakan jasa,” ujarnya berprinsip.
Kendala lainnya yang dihadapi Atet adalah masih mahalnya harga infrastruktur interkoneksi yang menghubungkan provider dengan pelanggan. Harga interkoneksi yang paling murah sekitar Rp 800 ribu, sehingga dia harus patungan untuk mendapatkannya. Sayangnya, regulator (pemerintah) tidak mendukung dengan baik infrastruktur ini karena mereka juga bermain di situ.
“Inilah yang seharusnya jadi PR (pekerjaan rumah) pemerintah. Setiap ketemu dengan birokrasi, selalu saya bicarakan masalah itu. Kata mereka, sesegera mungkin akan kita wujudkan, tapi sampai sekarang belum ada hasilnya,” tutur pria yang dikenal santun ini.
Bisnis untuk ibadah
Sebagaimana yang dialami oleh kebanyakan pengusaha di Indonesia, masalah SDM (Sumber Daya Manusia) dan finansial, merupakan tantangan yang cukup berat bagi Atet. Untuk itu, ia berusaha dan selalu berupaya menjaga stabilitas dan temperatur SDM yang ada.
Sejak awal mendirikan Spin Net, dia selalu menyelenggarakan pengajian bagi karyawannya. Kebetulan, yang jadi ‘pasukannya’ kebanyakan adalah teman-temannya sendiri yang sudah cukup lama bergaul dengannya.
Atet juga terbiasa menekankan kepada karyawannya bahwa Spin Net bukanlah tempat mencari uang. Mencari uang dalam konteks bukan tempat untuk memperbanyak uang.
“Di sini tempat ibadah. Dengan bekerja, insya Allah kita menjemput rezeki. Alhamdulillah, bisa berjalan seiring. Tentunya diimbangi dengan upaya-upaya membuat manajemen semaksimal mungkin balance (seimbang) antara makanan duniawi dan makanan ukhrawi,” terangnya.
Hingga kini, di kantor Spin Net selalu ada pengajian setiap minggunya. Setiap hari ada kegiatan dimana seluruh karyawan mengirimkan minimal dua ayat terjemahan Al-Qur’an secara berurutan menurut absensi. Yang tidak mengirimkan sekali saja, sama dengan alpa. “Tujuannya, minimal kita selalu baca Al-Qur’an, tanpa terlewatkan,” kata Atet.
Setiap usai shalat zuhur secara berjamaah, dibacakan terjemahan hadits. Spin Net juga memberlakukan jam khusus untuk shalat dhuha dari pukul 08.30 hingga 09.30 pagi. Di kantor yang terletak di kompleks perumahan Salahutu Indah itu, tiap waktu shalat adalah waktu istirahat.
Keseimbangan antara ritme kerja dan ibadah yang dirangkai dalam dakwah adalah salah satu kunci kesuksesan Atet Sugiharto. Dan, ia layak mendapatkan hasilnya.*

Leave a comment