Abdul Jawwad melanjutkan dan berpesan agar para pencinta Ahlul Bait ini bersikap tabah, sabar dan tetap istiqamah mengikuti pengajian (mereka menyebutnya maknawiyah) walau jumlah mereka sedikit.
“Jangan berputus asa. Dan tetaplah memuji Allah dalam tiap kesempatan, agar kita mendapat kemenangan!”
Salah seorang jamaah di bagian belakang berteriak, “Allahumma shalli ala Muhammad!”
Yang langsung dijawab hadirin, “Allahuma shalli ala Muhammad wa ali Muhammad,” sebanyak tiga kali dengan suara keras, kompak dan teratur.
Di antara ceramahnya, sang syeikh juga berpesan agar para jamaah tidak ragu-ragu dalam mengamalkan dan menyebarkan ajaran Syiah kepada masyarakat sekitar. Tak lupa, ia juga menyinggung tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib dan 12 imam Syiah yang diklaim sebagai orang-orang yang ma’sum. Sebagian kepala para jamaah tampak mengangguk-angguk tanda mafhum.
Sebagai “pencinta” Ahlul Bait, tentu saja para jamaah diharap paham dan mengerti tentang tragedi Karbala. Peristiwa terbunuhnya cucu Rasulullah, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Abdul Jawwad Ibrahimi “membawa” hadirin ke Karbala dengan menukil syair-syair yang menuturkan peristiwa tragis itu dengan nada puitis.
Suaranya renyah dan merdu dengan intonasi dan irama yang melangutkan. Bibirnya bergetar dalam ritme yang bergelombang, melagukan lirik dan syair berbahasa Arab dan Parsi yang silih berganti. Para pendengar tenggelam dalam isak yang tertahan. Tak sedikit yang meneteskan air mata.
Begitu kisah sampai pada babak di mana Husein menangis dan memanggil-manggil pengikutnya, “…manakah orang-orang yang akan menolongku? Manakah orang-orang yang akan menolong cucu Rasulullah?”
Kata-kata Husein yang berulang-ulang namun tak mendapatkan jawaban sebagaimana terucap dari bibir mullah itu seolah-olah menjebol pertahanan hadirin. Isak yang tertahan pun pecah, menjadi jerit kepedihan dan kepiluan.
Apalagi ketika syair Abdul Jawwad yang melankolis nan sendu itu sampai pada adegan di mana para musuh Allah akan membunuh bayi putra Husein ketika dalam gendongannya. “Apakah engkau tega membunuh bayi yang tak berdosa ini? Apakah salahnya? Apakah engkau tega?”
Suara Husein bergetar melihat wajah-wajah para pembunuh yang haus darah. Tiba-tiba sebatang anak panah dengan tiga cabang pada kepalanya menancap pada tubuh si bayi tak berdosa. Nyawanya melayang seketika.
Tangis hadirin pun meledak diselingi sedu-sedan. Beberapa orang bahkan meraung-raung dengan suara pelan sambil menutupi wajah mereka yang banjir air mata. Sebagian lagi tampak memukul dadanya dengan kepalan tangan masing-masing sambil terisak.
Abdul Jawwad berhasil menciptakan suasana magis bagi mereka pada Jumat malam yang diwarnai rintik hujan itu. Tetesan air di atap seolah-olah mengiringi simfoni tragedi Karbala di teras rumah.
Sekitar sepuluh menit kemudian, acara tangis-tangisan ala Karbala itu pun usai. Sang mullah mengungkapkan, dirinya benar-benar bahagia. Bahagia dan gembira bisa bertemu para pencinta Ahlul Bait di Malang.
“Saya telah berkeliling di negeri ini untuk bertemu dengan pencinta Ahlul Bait dan mendapatkan sambutan yang luar biasa berkesan dari para jamaah. Seolah-olah saya bertemu keluarga sendiri. Dan kita memang keluarga,” kata Abdul Jawwad.
Ia kembali menegaskan pada hadirin agar selalu memuji Allah dan memanjatkan shalawat kumayl, istiqamah dalam menggelar maknawiyah agar para pencinta Ahlul Bait bertambah banyak di negeri ini, hingga datangnya Imam Mahdi. Sang mesiah yang ditunggu-tunggu.
Menjelang pukul 22.00 WIB, acara maknawiyah berakhir. Ditutup dengan doa oleh sang mullah. Setelah itu dilanjutkan dengan makan malam dan ramah-tamah. Kain hijab berwarna hijau dilepaskan, sebuah meja besar dengan aneka sajian dan makanan di atasnya telah tergelar di ruang tengah. Para jamaah itu pun makan malam bersama-sama.
Di luar garasi, beberapa orang aparat kepolisian dengan pakaian preman tampak berjaga-jaga. Demikian pula di jalan raya, di luar pagar rumah. Gerimis masih menetes, walau tak seberapa deras. Rintiknya yang jarang-jarang mengantarkan penulis membelah malam di atas roda dua.
Tragedi Karbala itu masih terngiang-ngiang di telinga. Begitu mistis dan magis, seolah diri terbawa serta ke dalamnya. Namun, dinginnya embusan angin malam Kota Lawang menepiskan semuanya. Dan roda dua terus melaju, meninggalkan ciprat air di atas aspal.*

Leave a comment