Kemilau Marmer yang Memukau (2-habis)

Pada waktu itu memang bisnis marmer dan onyx tengah naik daun. Hampir seluruh warga Desa Gamping terjun dalam bisnis bebatuan ini.

Tidak mengherankan, karena lahan persawahan di desa yang dikelilingi gunung dan sungai itu tidak memungkinkan untuk bercocok tanam. Yang tidak punya pabrik atau showroom, kerja ikut orang lain.

Karyawan UD Adhi Jembatan Batoe terbagi dalam dua bagian, di dalam dan di luar pabrik. Yang di luar pabrik ia sub-kan ke para perajin sekitarnya. Yon bertindak sebagai bapak angkat bagi mereka.

Sementara untuk dalam pabrik adalah karyawan yang memang bertugas untuk mengolah bahan baku yang ada hingga jadi hasil produksi yang siap dipasarkan. Karyawan di pabriknya sebanyak 60 orang, yang di sub hampir 200 orang. “Jadi lebih besar di sub ketimbang di dalam,” kata pengusaha yang tidak mau menyebut anak buahnya dengan sebutan kuli ini.

Yon Museni mempunyai misi mengembangkan usaha marmer secara bersama-sama dengan masyarakat sekitar. Ia tidak ingin mencari mencari keuntungan semata. “Yang penting masyarakat sekitarnya dapat merasakan manfaat secara sosial maupun ekonomi dan dapat hidup lebih baik dari yang dulu,” papar suami Anjarwati itu.

Dalam usaha Yon berprinsip harus melibatkan orang lain. Seandainya ia dipesan oleh pembeli di luar negeri dalam jumlah besar, ia tidak mau mengerjakannya sendiri. “Saya tidak mau usaha ini menjadi terlalu besar. Saya lebih senang bekerja sama dengan orang lain. Kita harus bekerja sama untuk mencapai kesuksesan, jangan hanya mau jalan sendiri,” tegasnya.

Untuk itu, anak ketiga dari lima bersaudara ini tidak mau mengerjakan sesuatu yang tidak bisa ia kerjakan. Lebih baik ia menyerahkannya kepada orang lain.

Meja dan bank dari marmer. Foto: Anditamarmer2.blogspot.co.id.

Adapun pabrik marmer dan onyx yang termasuk besar di Desa Campurdarat Kecamatan Campurdarat adalah Kerajinan Baru Marmer/Onyx Prima Al-Hajar milik H. Rahmat Supriyanto. Showroomdan Pabriknya terletak  Jl. Sukomakmur RT 03 RW 03 Kauman, Campurdarat. Rahmat termasuk generasi awal perajin marmer di desanya.

Sebagaimana Yon Museni, Rahmat Supriyanto juga bergerak di pasar ekspor. Walau demikian, ia tidak melupakan pangsa pasar lokal. Rahmat mengekspor hasil produksinya ke Jepang dan Perancis. Ke Negeri Sakura itu, ia menjual lantai marmer, sedangkan ke Perancis ia menjual wastafel. Kini aset Prima Al-Hajar mencapai Rp 2 miliar lebih.

Rahmat Supriyanto memulai usahanya sejak 1990. Ia menggunakan modal sendiri tanpa bantuan keluarganya. Tak sulit bagi pria tamatan STM ini membuka usaha, karena sebelumnya ia mempunyai pengalaman panjang dalam industri marmer. Selama tujuh tahun Rahmat bekerja di PT IMI (Industri Marmer Indonesia) yang terletak di Desa Besole, Kecamatan Besuki, Tulungagung.

PT IMI adalah pabrik BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang memproduksi plat-plat (lempengan) marmer. Dengan modal awal yang cuma Rp 35.000, Rahmat membeli bahan baku dan sebuah mesin potong.

Pada tahun pertama membuka usaha, bapak dua orang anak ini dibantu oleh empat orang tukang. Bentuk kerajinan yang pertama kali dibuatnya adalah asbak, vas bunga dan hiasan lampu. Pemesannya adalah orang-orang sekitar Jawa Timur.

“Waktu itu, kerajinan marmer belum seberapa dikenal. Jadi, kita hanya melayani untuk wilayah Jatim saja, terutama mereka yang sering lewat jalan sini menuju Pantai Popoh,” tutur Rahmat.

Setelah kian lama dan berkembang, usaha-usaha sejenis mulai bertumbuhan. Sejak tahun 1995 marmer Tulungagung pun mulai dikenal oleh segenap lapisan masyarakat. Harga kerajinan yang telah jadi bervariasi, tergantung bentuk dan ukuran.

Mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah per item. Adapun luas tanah lokasi pabrik dan showroomPrima Al-Hajar seluas 60 ru, terdiri dari tempat pemotongan batu, ruang produksi dan showroomhasil kerajinan.

Krisis moneter yang menghantam negeri ini pada tahun 1997 lalu juga menghantam usaha Rahmat. Pabriknya sempat mengalami kevakuman produksi. Dampak krisis moneter itu dirasakannya hingga tahun 2005. Beberapa pengusaha marmer mengalami kebangkrutan.

Namun suami Hj. Isti Sunifah ini tetap bertahan dengan menerapkan sistem subsidi. Walau keuntungan seret, dia tidak mau memecat karyawannya. “Pembeli di masa krisis itu memang ada, namun tidak sebanyak di masa normal,” ia menuturkan.

Kini karyawan Prima Al-Hajar tinggal 13 orang, terdiri dari bagian quality control, tukang belah batu, tukang bubut hingga pembuat kerajinannya.

Rahmat mengaku sangat mencintai pekerjaannya. Ia ingin dapat memanfaatkan kekayaan alam yang diberikan Allah SWT, berupa bahan baku marmer yang tidak setiap daerah memilikinya.

“Hasil alam anugerah Allah itu harus dimanfaatkan betul sebagai bentuk syukur. Ada batu kita kelola bisa jadi uang. Bisa menyerap tenaga kerja. Hasilnya bisa dinikmati orang lain,” ujar pria yang hobi berolahraga ini.

Rahmat juga kerap mengadakan pameran di dalam maupun di luar negeri. Di dalam negeri biasanya ia mengikuti pameran di Jakarta, atas undangan pemerintah daerah Tulungagung. Adapun di luar negeri, ia mengikuti pameran di Malaysia.

Saat ini kondisi usaha marmer dan onyx di Tulungagung mulai membaik. Hal ini dirasakan Rahmat Supriyanto dan beberapa rekannya sesama pengusaha, termasuk Yon Museni. Dampak krisis moneter yang pernah terjadi mulai berkurang sedikit demi sedikit.

Banyaknya pengusaha dan perajin marmer dan onyx yang terdapat di Campurdarat dan Gamping tidak menimbulkan persaingan yang tidak sehat. Para pengusah dan perajin malah bersyukur, karena dengan demikian akan memacu mereka untuk menghasilkan hasil kerajinan yang lebih baik lagi.

Para pengusaha marmer di Tulungagung ini juga mempunyai organisasi sendiri sebagai wadah kerja sama dalam memproduksi atau menjual produk.

Marmer Tulungagung masih tetap berkilau hingga kini. Semoga tetap demikian seterusnya.*

 

 

Posted in

One response to “Kemilau Marmer yang Memukau (2-habis)”

  1. […] Yon Museni mulai merintis usaha kerajinan marmer sejak tahun 1987 silam sendirian. Setahun kemudian ia merekrut empat orang tenaga produksi. Bermodalkan uang pinjaman dari BRI Tulungagung sebesar Rp 5 juta, ia membeli bahan dan mesin pemotong sederhana. Barang yang pertama kali diproduksi adalah aksesoris ruangan seperti kap lampu, vas bunga dan asbak. Karena usahanya berjalan lancar, tiap tahun ia menambah jumlah tenaga kerja. (bersambung) […]

    Like

Leave a comment