Kabupaten Tulungagung tidak hanya dikenal karena keelokan wisata Pantai Popoh. Wilayah di Selatan Jawa Timur itu juga terkenal karena industri marmer dan onyx.
Menyusuri jalananan provinsi sepanjang Kecamatan Campurdarat dan Kecamatan Besuki yang menuju ke arah kawasan wisata Pantai Popoh Tulungagung, toko, showroom, pabrik dan home industrymarmer dan onyx berderet memenuhi di kanan-kiri jalan.
Tak heran, sebab industri marmer dan onyx yang menjadi kebanggaan Kabupaten Tulungagung terpusat di Kecamatan Campurdarat dan Besuki. Hampir semua warga desa yang terdapat di dua kecamatan tersebut terjun dalam usaha kerajinan marmer dan onyx.
Kecamatan Campurdarat terletak di kawasan strategis karena sebagai jalur lalu lintas perdagangan dan jasa antara Kecamatan Bandung, Besuki, Pakel, Tanggunggunung dan Boyolangu. Ibu kota Kecamatan Campurdarat juga termasuk jalur lalu lintas utama tujuan wisata Pantai Popoh di wilayah Kecamatan Besuki dan juga Pantai Prigi.
Dengan letaknya yang strategis secara geografis, Kecamatan Campurdarat dan Besuki memang cocok dijadikan sentra perdagangan industri kerajinan yang berorientsi wisata, yaitu marmer dan onyx. Showroomdan toko-toko yang berderet di sepanjang jalan kedua kecamatan itu tentu saja mengundang hasrat dan minat para wisatawan yang mengunjungi Pantai Popoh.
Salah satu pabrik marmer dan onyx terbesar di Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat adalah UD Adhi Jembatan Batoe Marmer dan Onyx, milik Yon Museni. Pengusaha muda kelahiran desa setempat. Pabriknya khusus membuat kerajinan untuk pasar ekspor. Kebanyakan ke Eropa seperti Inggris, Italia, Perancis dan Amerika. Untuk pasar lokal, Yon hanya memproduksi barang kerajinan kurang dari 10% total produksi.
Pilihan ke pangsa pasar ekspor dilakukan Yon karena menurutnya, tidak tergantung pada jangka waktu rusaknya barang.
“Orang Indonesia tidak akan mengganti barang jika belum rusak, orang luar negeri tidak. Mereka memakai hasil produksi kita bergantung dengan musim. Musim panas misalnya, warna yang dipakai berbeda dengan musim dingin. Demikian pula dengan musim semi atau musim gugur. Jadi, kita terus produksi untuk ekspor,” jelas bapak empat orang anak ini.
Awal terbukanya pasar ekspor UD Adhi Jembatan Batoe bermula dari kunjungan-kunjungan wisatawan ke Tulungagung. Para turis mancanegara ini tertarik dengan hasil produksi yang dipamerkan di showroommilik Yon. Pria bertubuh gempal ini pun dikenal sangat ketat menjaga kualitas barangnya. Demikian pula dengan ketepatan waktu pengerjaan.
Sebab, kata dia, sekali pasar ekspor kecewa, maka untuk selanjutnya mereka tidak pernah lagi mau memesan. “Kalau mereka tidak dapat mencari pengganti, lebih baik tidak dapat order. Itulah kejamnya pasar ekspor. Beda dengan pasar lokal yang masih bisa kita rayu.”

Puncak kejayaan marmer Tulungagung terjadi pada tahun 1990-1995, di mana semua masyarakat sekitarnya bekerja di pengolahan marmer. Sekarang pun, kata Yon, telah terjadi permintaan ekspor yang besar-besaran, namun para pengusaha belum siap. Hasil kerajinan untuk eskpor memang berbeda dengan pangsa pasar lokal.
Selain itu, barang eskpor juga mempertimbangkan banyak faktor seperti kualitas, kuantitas dan ketepatan waktu pengerjaan. Tidak semua perajin berani menghadapi ketentuan seperti itu. Mereka hanya siap memproduksi, namun kurang siap di bidang pemasaran.
Sayang Yon enggan menyebutkan berapa jumlah omzetnya per bulan. Ia mengaku tidak menggunakan manajemen modern sehingga tidak tahu persis berapa jumlah keuntungan yang didapatnya.
“Saya hanya menerapkan pola manajemen sederhana dalam menjalankan usaha ini. Yang penting saya dapat membayar pekerja tepat waktu,” ujar pria tamatan SMA ini merendah.
Padahal lokasi pabrik UD Adhi Jembatan Batoe seluas 350 ru (1 ru = 14 m²), terdiri dari tempat produksi dan kantor. Sedangkan showroom-nya terletak sekitar 50 meter di selatan pabrik. Showroomitu digunakan untuk pameran produk lokal. Adapun untuk pasar ekspor tidak dipajang atau dipamerkan. “Karena standarnya beda dengan untuk pasar lokal,” kata lelaki kelahiran 1967 ini.
Yon Museni mulai merintis usaha kerajinan marmer sejak tahun 1987 silam sendirian. Setahun kemudian ia merekrut empat orang tenaga produksi. Bermodalkan uang pinjaman dari BRI Tulungagung sebesar Rp 5 juta, ia membeli bahan dan mesin pemotong sederhana.
Barang yang pertama kali diproduksi adalah aksesoris ruangan seperti kap lampu, vas bunga dan asbak. Karena usahanya berjalan lancar, tiap tahun ia menambah jumlah tenaga kerja. (bersambung)

Leave a comment