Musuh Bernama Lapar

Lonjakan drastis harga pangan dunia yang terjadi saat ini telah memercikkan bara kerusuhan di beberapa negara. Jutaan orang terhuyung dalam kumparan kegemparan lapar, sementara pemerintah berjuang keras menghentikan laju krisis yang demikian cepat sebelum menjadi serangan yang tak terkendali.

Dari Meksiko hingga Pakistan, demonstrasi telah berubah jadi kekerasan. Para pemrotes mengoyak tiga kota di negara Afrika Barat, Burkina Paso. Mereka membakar gedung pemerintahan dan menjarah pertokoan.

Yang paling gawat di Haiti, makanan pokoknya beras naik dua kali lipat dari harga 35 dolar AS menjadi 70 dolar AS untuk 60 kilogram beras, atau dari sekitar Rp5.450 per kilogram beras menjadi Rp10.750 per kilogram.

Akibatnya, protes rakyat berlangsung panjang dan sedikitnya lima orang korban tewas dan sekitar 14 orang terluka dalam unjuk rasa itu. Warga Haiti pun menuntut pergantian pemerintahannya yang dianggap tidak becus menangani masalah pangan

Bahkan di negeri kaya biji-bijian seperti Amerika saja harga kulakan bahan pokok menjulang hingga ke angka yang tak pernah terjadi pada tahun 2007 lalu. Inflasi sembako yang paling akut justru terjadi di Asia dan Afrika, dimana harganya melampaui proporsi pendapatan keluarga.

Baru-baru ini, para sopir taksi di Kamerun juga melakukan protes dengan kekerasan yang menyebabkan 20 orang tewas. Protes serupa juga terjadi di Senegal dan Mauritania, akhir tahun lalu. Di Bengali, Afrika, penduduk setempat membakar ratusan toko penjual bahan pokok, karena menuduh pemiliknya menjual sembako subsidi pemerintah dengan harga melambung demi mencari keuntungan berlimpah.

“Ini benar-benar isu keamanan yang sangat serius,” kata Joachim von Braun, Dirut IFPRI (International Food Policy Research Institute) di Washington.

Selain Afrika, Asia juga menjadi benua yang terancam serius dengan krisis makanan ini. Bahkan, untuk menyelamatkan warganya dari kelaparan, Malaysia melarang “orang luar” membeli beras di negaranya.

“Kami khawatir akan kekurangan bahan makanan akibat krisis pangan global,” ujar Menteri Perdagangan Domestik dan Urusan Konsumen, Shahrir Abdul Samad.

Larangan ini, menurut Shahrir, bertujuan untuk menindak tegas pembelian beras dari negara tetangga seperti Singapura dan Thailand yang melintasi perbatasan untuk membeli beras murah dan makanan lain di Malaysia.

“Kami harus mengambil langkah untuk memastikan bahwa beras kami tidak keluar batas negeri karena perbedaan harga yang terlalu besar antara Malaysia dan Singapura, Thailand dan Indonesia,” lanjut Shahrir.

Malaysia bukanlah negera pengekspor beras,  mengimpor 30 persen kebutuhan,  tapi beras lokalnya lebih murah dibandingkan dengan di negeri jirannya. Berdasarkan kualitasnya, beberapa varites beras Thailand lebih mahal dua kali lipat dibanding beras Malaysia di pasar-pasar Thailand.

Saat ini Malaysia tidak mengalami kekurangan stok beras walau krisis global yang terlihat pada harga beras Thailand hampir tiga kali lipat dalam lima bulan terakhir. Shahrir mengatakan, usaha untuk menjadikan beras sebagai komoditas yang terbatas dilakukan bukan karena hal itu perlu, tapi sebagai upaya memberikan kenyamanan dan jaminan pangan bagi masyarakat.

Melambungnya harga pangan mengentak di beberapa negara penghasil beras di tengah memburuknya cuaca dan permintaan yang melampaui persediaan. Beberapa negara Asia, termasuk India dan Vietnam, telah kena imbasnya dan dipersalahkan karena kontribusi mereka atas krisis dengan cara membatasi ekspor demi menjamin persediaan mereka sendiri.

Baru-baru ini Malaysia juga telah mengumumkan rencana untuk menaikkan keamanan pangan domestik dengan menanam padi secara luas di wilayah Kalimantan. Malaysia juga menyiapkan dana lebih dari 4 juta ringgit untuk menjamin ketersediaan pangan negerinya.

Shahrir mengatakan, pemerintahnya akan bersiap-siap melakukan subsidi beras di masa datang, jika memang diperlukan. Walau tidak ada subsidi beras secara langsung, namun pemerintah Malaysia bakal menyiapkan pupuk dan konsesi lainnya bagi para petaninya agar harga beras tetap terkendali.

Pemerintah negeri Jiran itu juga telah menyiapkan lebih dari 900 juta ringgit untuk konsesi semacam itu pada tahun 2007 lalu. Malaysia juga menghabiskan dana sebesar 4 juta ringgit tiap tahun terkait dengan subsidi pangan, termasuk tepung, roti dan minyak goreng.

Berlangsung lama

Kemungkinan naiknya harga bahan pangan ini akan berlangsung lama. Hal ini diungkapkan oleh Presiden Bank Dunia, Robert Zoellick. Bank Dunia memperkirakan harga pangan global akan terus meningkat pada 2008 dan 2009, dan sedikit turun pada tahun-tahun berikutnya.

“Kami memperkirakan bahwa lonjakan harga pangan hingga dua kali lipat sepanjang tiga tahun terakhir ini bisa mengakibatkan 100 juta rakyat di negara-negara miskin terjerumus pada kemiskinan yang jauh lebih dalam lagi,” kata Zoellick.

Laporan Bank Dunia pekan lalu menyebutkan harga gandum dunia melonjak 181 persen selama 36 bulan hingga Februari, sedang harga pangan keseluruhan naik 83 persen.  Sementara itu menurut data Bloomberg, di perdagangan dunia saat ini harga kedelai sudah naik rata-rata 87 persen, beras naik rata-rata 74 persen dan jagung naik rata-rata 31 persen dibanding tahun sebelumnya.

Tak pelak lagi, harga bahan makanan pokok yang naik tajam dalam beberapa bulan terakhir ini memicu antrian warga miskin yang meningkat, seperti di negara terkaya Asia Tenggara Singapura, sampai dengan pecahnya protes unjuk rasa di banyak negara, seperti di Mesir, Kamerun, Pantai Gading, Mauritania, Ethiopia, Madagaskar, Filipina dan Indonesia.

Krisis pangan yang lebih membahayakan dari krisis finansial ini memaksa Bank Dunia mengeluarkan kebijakan baru dalam mengatasi pangan global, yang disebutnya “New Deal for Global Food Policy”.

Kebijakan itu bertujuan meningkatkan produktivitas sektor pertanian di negara-negara miskin agar mereka mampu mengatasi masalah pangan lokal. Caranya dengan memperbaiki akses para petani melalui pelatihan dan pengembangan, serta sedikit bantuan dana stimulan bagi petani membeli benih untuk musim tanam mendatang.

Di bulan ini Bank Dunia menggandakan jumlah pinjaman di sektor pertanian di Afrika dari 450 juta dolar AS menjadi 800 juta dolar AS. Sedangkan di Haiti yang tengah bergejolak ada tambahan dana 10 juta dolar AS untuk program pangannya.

Biofuel

Membubungnya harga pangan dunia, sebagian merupakan akibat banyak bahan pangan yang penggunaannya untuk bahan bakar organik (biofuel), yang dimaksudkan menjadi tren kesadaran lingkungan negara industri maju. Seperti jagung dan kelapa sawit, sebelumnya kedua pangan itu untuk konsumsi masyarakat dunia, namun saat ini banyak dijual untuk biofuel yang permintaannya tinggi.

Produksi jagung di dunia dari 2004 – 2007, dalam catatan Bank Dunia, hampir seluruhnya digunakan untuk biofuel di AS. Perubahan iklim saat ini turut menyebabkan produksi pangan tidak optimal. Perubahan iklim ini terkait dengan banyaknya hutan tropis dibabat untuk membuka lahan perkebunan baru, seperti kelapa sawit atau jagung.

Dalam masalah beras, lonjakan harganya terjadi karena ada aksi penimbunan meluas di pelbagai negara, termasuk tindakan negara surplus beras seperti Thailand dan Vietnam mengurangi ekspornya.

Pada saat yang sama terjadi tren para spekulan yang tadinya bermain di lantai bursa efek dan pasar uang di AS, kini beralih ke pasar komoditi pangan, yang akibatnya banyak langkah spekulatif dalam transaksi dagangnya termasuk menahan stok. Tindakan itulah yang membuat harga pangan warga dunia itu terus melonjak.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon mengatakan PBB akan turun tangan melawan krisis pangan dunia. PBB akan memberikan solusi jangka panjang untuk akar masalah yang menyebabkan keadaan ini.

“Biarkan saya memberikan tawaran langkah darurat sebagai respons yang mendesak,” ujar Ban setelah kembali dari perjalanannya ke Afrika dan Eropa. Di sini, kenaikan harga pangan menjadi topik utama pembicaraannya dengan pemerintah setempat. Dia mengatakan, PBB harus mengurangi krisis pangan global secepatnya.

Ban Ki-moon telah menunjuk sekretaris untuk urusan kemanusiaan, John Holmes, untuk mengoordinasi langkah PBB. John bekerja sama dengan wakilnya, David Nabarro, pemimpin PBB yang menangani flu burung. Bank Pembangunan Asia (ADB) menyatakan bahwa lebih dari satu miliar orang di Asia akan jatuh miskin tanpa ada penghasilan tambahan untuk harga kebutuhan yang meningkat.

Ban juga menyatakan bahwa krisis ini telah menyebabkan kerusuhan di negara-negara berkembang. “Jika kemiskinan tidak ditangani, krisis ini akan memberi dampak pada perdagangan, kerusuhan di negara-negara berkembang,” ujarnya.*

Posted in

Leave a comment