Jaipur, kota tua berjuluk Kota Merah muda, diguncang rentetan ledakan bom.
Pagi yang cerah itu, Mohammad Fareed baru saja turun dari sebuah becak ketika bom meledak mengguncang kotanya. Tak ayal, ia terkena reruntuhan bangunan yang berjatuhan di dekat kios pedagang gelang, “Saya merasa seperti disambar halilintar,” katanya kepada BBC.
Tak lama kemudian, Fareed sudah terbaring di pinggir jalan. Samar-samar, ia melihat orang-orang berlarian sambil berteriak, “Ledakan, ledakan!” Beberapa orang datang merubung dan membantu Farid, kemudian membawanya ke rumah sakit.
Hari itu, Selasa (13/5) Jaipur, sebuah kota tua di India Barat, diguncang serangkaian ledakan bom. Sebanyak 60 orang tewas seketika, dan 200 orang lainnya luka-luka. Ledakan bom terjadi hingga delapan kali di pusat keramaian kota itu. Bom pertama meledak pada pukul 19.15 waktu setempat (20.15 WIB) kemudian disusul ledakan berikutnya dalam jarak beberapa menit.
Reruntuhan bangunan dan ceceran darah bertebaran di jalan-jalan. Salah satu bangunan yang turut menjadi korban adalah Hawa Mahal atau Istana Angin, sebuah peninggalan bersejarah paling terkenal di Jaipur. Sejumlah orang yang menjadi korban langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.
Aparat keamanan segera memberlakukan jam malam, guna mencegah terjadinya ledakan susulan sekaligus melindungi warga lainnya. Penjagaan keamanan ditingkatkan di semua bandar udara dan stasiun kereta di seluruh negara. Para petugas medis mengimbau warga agar memberikan sumbangan darah bagi para korban yang luka-luka.
Presiden India, Pratibha Patil dan Perdana Menteri, Manmohan Singh mengutuk serangan tersebut. Mereka meminta warga untuk tenang. Kepala Polisi Negara, Jenderal Amarjot Singh Gill seketika mengeluarkan pernyataan bahwa ledakan itu adalah serangan teroris. Polisi juga telah menangkap beberapa orang untuk diinterogasi. Esok harinya dua orang ditahan karena dicurigai terlibat dalam ledakan.
Kota Merah Muda
Jaipur termasuk wilayah negara bagian Rajasthan, merupakan tempat tujuan wisata yang populer dan terletak sekitar 260 kilometer dari ibukota India, New Delhi. Sebagian besar warga Jaipur beragama Hindu, tetapi kota itu juga dihuni penduduk minoritas Muslim yang cukup besar, terutama imigran asal Bangladesh. Kota ini juga tidak memiliki sejarah kekerasan antara agama. Hubungan antara mayoritas Hindu dan minoritas Muslim selama ini cukup baik.
Jaipur termasuk salah satu “Segitiga Emas” kawasan wisata India, di samping situs-situs bersejarah di Rajasthan dan Taj Mahal di negara bagian Uttar Pradesh. Jaipur juga dikenal dengan sebutan Kota Merah Muda, karena warna benteng, istana dan tembok kota yang didominasi warna merah muda.
Ledakan bom itu juga menyebabkan hubungan masyarakat Hindu dan Muslim mengalami ketegangan akibat berkembangnya spekulasi bahwa pelakunya adalah Muslim.
Muslim Jaipur kebanyakan berdiam di kawasan kumuh dan berprofesi sebagai buruh migran, bekerja di pabrik-pabrik milik penduduk lokal. Mereka merasa takut terhadap pemeriksaan yang dilakukan aparat keamanan ke tempat tinggal mereka. Kaum minoritas ini juga khawatir akan terjadinya serangan balasan.
“Mereka mencurigai kami karena kami Muslim, itu salah besar!” kata Daulat Kan, buruh migran asal Bangladesh, sebagaimana dikutip Washington Post.
Pemeriksaan polisi ke kantong-kantong imigran Muslim ini terjadi sehari setelah ledakan. Inspektur Jenderal Polisi Jaipur, Pankaj Singh, mengatakan polisi sedang mencoba untuk bersikap hati-hati ketika bertanya pada orang-orang Bangladesh.
“Tapi pada saat yang sama, kami berbicara kepada setiap orang yang dicurigai dan tidak mengikuti aturan negara,” kata Sing kepada AFP.
Tiga hari setelah ledakan bom, Jumat (16/5) polisi menyebarkan sketsa bergambar tiga lelaki berkulit gelap, berusia sekitar 20-an tahun, yang diduga terlibat dalam rangkaian serangan tersebut.
Ketiga lelaki itu membeli sepeda yang digunakan untuk melakukan peledakan. Sketsa itu berasal dari deskripsi yang diberikan oleh orang yang menjual sepeda tersebut. Tidak disebutkan bahwa mereka adalah buruh migran Bangladesh.
Kaum miskin
Para pekerja migran Bangladesh di Jaipur menegaskan tidak terlibat dengan ledakan bom yang terjadi. “Kami adalah orang-orang miskin,” kata Daulat Kan. Pria paruh baya ini tinggal di kawasan kumuh dan miskin di wilayah Bagrana.
“Kami tidak mempunyai dana untuk melakukan hal-hal semacam itu,” tegasnya.
Imigran Bangladesh telah berdiam di Jaipur selama beberapa dekade. Sebagian datang dengan visa kerja resmi, sebagian lagi datang secara gelap. Mereka melarikan diri dari kemiskinan parah yang dirasakan di Bangladesh, tapi mendapat penghasilan yang hanya sedikit lebih tinggi dari pendapatan di negara asal mereka.
Walau demikian, serangan di hari Selasa itu tak menyurutkan langkah kaum Muslimin Jaipur untuk membantu para korban. Mereka bersama orang-orang Hindu berbondong-bondong memberikan sumbangan darah. Penduduk setempat juga menggelar acara doa bersama.
Menyikapi tragedi Jaipur tersebut, para pemimpin Muslim di India Utara telah memulai perangnya melawan terorisme melalui sebuah wadah yang disebut Movement Against Terrorism (Gerakan Melawan Terorisme), disingkat MAT.
Organisasi ini juga melakukan koreksi atas persepsi yang salah tentang Islam. “Selain mengedukasi kaum Muslimin, kami juga terus melakukan upaya menghilangkan kesalahpahaman terhadap Islam di media maupun di antara orang-orang non-Muslim, bahwa agama ini tidak ada hubungannya teror,” ujar Khaleed Rasheed Firangi Maheli, salah seorang anggota MAT.
Pria yang termasuk anggota komite eksekutif Dewan Hukum Muslim seluruh India ini, juga mengutuk teroris yang melakukan aksi kekerasan atas nama Islam. MAT, kata Maheli, dibentuk untuk menjelaskan kepada semua pihak bahwa tak ada pembenaran dalam Islam untuk melakukan teror demi pembalasan dendam.
“Semua orang telah diberitahukan bahwa tidak adil menghubungkan serangan teror dengan Muslim dan agama Islam,” tegasnya.
Jumlah Muslim di India mencapai 13% dari total populasi, menjadikannya komunitas Islam terbesar di dunia setelah Indonesia dan Pakistan. Sayang, aksi terorisme dan serangan bom, masih saja dihubungkan dengan mereka.*

Leave a comment