Gencatan Senjata Setengah Hati

Gencatan senjata antara Israel-Hamas, telah diteken. Namun banyak pihak pesimistis, gencatan setengah hati itu tak bertahan lama.

Keinginan pemuda Palestina 22 tahun itu sangat sederhana, hanya ingin tidur nyenyak tanpa mendengar raungan pesawat tempur atau rentetan senjata mesin. Namanya Eman Mahmoud, seorang mahasiswa Universitas Gaza. Ia berharap gencatan senjata Israel dan Hamas benar-benar dapat mewujudkan perdamaian.

“Kami telah hidup dalam mimpi-mimpi buruk. Aku tidak tahu berapa lama gencatan senjata ini akan berakhir, tapi impianku adalah ketenangan ini terus berlanjut,” ujarnya kepada kantor berita AP.

Setelah dicapainya kesepakatan gencatan senjata, suasana di Israel dan Palestina agak tenang. Raungan pesawat tempur Israel dan dentuman roket pejuang Hamas tidak terdengar lagi. Sepertinya, perdamaian benar-benar menampakkan wujudnya. Remaja-remaja Palestina merayakannya dengan mengendarai sepeda di jalanan sepanjang Gaza. Anak-anak bermain layang-layang di pantai Darul Balah, pusat Jalur Gaza.

Di pihak Israel, suasana serupa juga mengemuka. Serdadu Israel asyik bermain bola dekat tank dan mesin tempur mereka di perbatasan Kissufim. Sementara itu pejuang Hamas, dengan wajah ceria bermain pingpong di Kota Rafah, selatan Gaza. Namun banyak pihak menyangsikan “ketenangan” itu akan abadi. Gencatan senjata masih setengah hati dan mudah pecah sewaktu-waktu.

Rapuh

Gencatan senjata antara Israel dan Hamas tercipta atas prakarsa pemerintah Mesir. Setelah berbulan-bulan terlibat perdebatan yang cukup panjang, kedua belah pihak sepakat menghentikan serangan mulai Kamis (19/6) pukul 06.00 waktu setempat (sekitar pukul 10.00 WIB). Ini merupakan gencatan senjata pertama sejak Hamas menguasai kota berpenduduk 1,5 juta jiwa tersebut. Hal ini sekaligus mengakhiri pertumpahan darah di wilayah Palestina.

Walau demikian, Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert tak cukup puas dengan gencatan senjata. Ia masih terkesan enggan menghentikan serangan militernya ke wilayah Palestina. Sehari sebelum gencatan senjata berlaku efektif sang perdana menteri telah mengeluarkan peringatan. “Militer siap bertindak jika gencatan senjata gagal. Kita tidak berkhayal tapi gencatan senjata ini rapuh dan berumur pendek. Hamas belum merubah kulitnya,” kata Olmert dalam sebuah konferensi di Yehoshua, utara Tel Aviv. “Jika teror berlanjut, Israel harus berupaya menghilangkan ancaman itu,” tegasnya sebagaimana dikutip AFP.

Gencatan senjata itu juga diramalkan tidak akan bertahan hingga enam bulan seperti yang telah disepakati. Beberapa menit sebelum lepas senjata diberlakukan, seorang warga Palestina tewas akibat serangan Israel.

Sehari sebelumnya, enam warga Palestina tewas terbunuh akibat serangan udara Israel di Jalur Gaza. Di desa Qarara, sebuah wilayah sipil di selatan kota Khan Yunis, lima orang tewas dan beberapa orang luka-luka, juga akibat serangan udara militer Israel.

Sedikitnya 515 orang tewas terbunuh sejak Israel dan Palestina kembali menggelar perundingan damai dalam sebuah konferensi di kota Annapolis, Amerika Serikat, November tahun lalu. Kebanyakan yang menjadi korban adalah pejuang Palestina dan penduduk sipil.

Di Washington, Gedung Putih memberikan sambutan hati-hati atas kesepakatan “damai” itu, sambil tetap membela Israel dan menyalahkan Palestina. “Kita berharap tidak ada lagi roket yang ditembakkan oleh Hamas pada orang-orang Israel yang tidak bersalah,” kata Gordon Johndroe, juru bicara keamanan nasional Gedung Putih. Gordon berharap gencatan senjata itu akan membantu meningkatkan atmosfir perundingan damai antara Israel dan Palestina yang dipimpin Presiden Mahmud Abbas.

Namun, skeptisme akan perdamaian masih tinggi di antara warga kedua negara. “Mereka membuat persetujuan dan gencatan senjata di sana-sini sejak lama. Kita akan menunggu sampai melihat hasilnya yang nyata,” ujar Hatem, penjual roti berusia 30 tahun di Kota Gaza.

Ahmad al-Samari, warga Gaza berusia 38 tahun juga mengaku tidak terlalu berharap. “Kami hanya ingin segala kekerasan berakhir. Kami hanya ingin merasa jadi manusia, tidur tanpa rasa takut, bertani tanpa takut, makan dan minum, belajar dan bepergian,” kata al-Smari. “Saya kira Israel tidak siap memberikan semua itu pada kami sekarang.”

Georges Adjedj warga Sderot, Israel, berpandangan sebaliknya. Menurut dia, intervensi militer yang permanen diperlukan untuk menenangkan Gaza. “Hanya ketika IDF (Angkatan Perang Israel) berada di Gaza kedamaian akan berlaku,” tegasnya. Rupanya ketenangan versi dia adalah penghancuran Gaza.

David Cohen, warga Israel penjual rokok dan minuman ringan di Sderot memperkirakan gencatan senjata paling banter hanya bertahan selama seminggu. “Aku berdoa semoga itu bertahan lama, tapi aku menganggap tiap hari adalah bonus lebih,” ujarnya.

Israel juga masih enggan mengakui kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas sebagai sebuah perdamaian. “Ini bukan sebuah perjanjian damai, karena sampai saat ini masih ada aktivitas-aktivitas militer yang dilakukan,” kata Amos Gilad, utusan Israel yang dikirim ke Mesir dalam perundingan dengan Hamas.

Sementara itu, jurubicara Hamas Sami Abu Zuhri mengatakan, kesepakatan gencatan senjata ini harus mengikat kedua belah pihak, Israel dan Palestina. Artinya, jika Israel meminta para pejuang Palestina di Jalur Gaza menghentikan tembakan mortirnya, Israel juga harus menghentikan total agresi-agresi militernya ke Gaza.

“Kami di Hamas menegaskan komitmen penuh kami pada kesepakatan ini, bolanya sekarang berada di pihak Israel untuk menerapkan kesepakatan ini di lapangan,” kata Zuhri.

Tak sekali dua negeri Zionis itu melanggar kesepakatan damai dengan Palestina. Kali ini, dunia tinggal melihat sejauhmana komitmen mereka dalam mewujudkan perdamaian di kawasan Timur Tengah.*

Posted in

Leave a comment