Tiga belas tahun lamanya menuntut keadilan, namun tak jua mendapat tanggapan. Muslim Bosnia tak letih suarakan duka, walau dalam kesunyian.
Rabu pagi itu, (18/6), Munira Subasic menatap hampa ke monumen pembantaian massal di Srebrenica. Di bawah huruf S pada marmer monumen yang mengukir identitas para korban, terdapat nama keluarga Subasic; suami, putra dan putrinya.
Tak kurang dari 22 orang anggota keluarganya yang dikuburkan di sini, bersama dengan 8.000 orang korban pembantaian lainnya. Tanah tempat monumen pembantaian massal itu berdiri hingga kini masih mengungkap rahasia-rahasia kengerian yang telah terjadi di Srebrenica.
Munira menuntut keadilan pada pemerintah Belanda dan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang telah mengakibatkan keluarganya tewas terbunuh oleh tentara Serbia.
“Saya hanya menuntut mereka mengakui akibat perbuatannya yang membiarkan terjadinya pembunuhan massal. Saya juga menuntut kompensasi atas anak-anak yang kehilangan ayahnya, istri yang kehilangan suaminya, atas hidup yang telah direnggut,” katanya sebagaimana dikutip Aljazeera.
Munira Subasic bisa saja adalah ibu dan nenek setiap orang. Perawakannya kecil, namun kokoh dan tegar. Ia kini didaulat sebagai Presiden Asosiasi Ibu-Ibu Srebrenica, kumpulan para ibu yang sanak kerabatnya menjadi korban pembantaian massal di Srebrenica.
Telah tiga belas tahun lamanya ibu-ibu ini dan para keluarga korban pembantaian menuntut keadilan, namun tak jua mendapat tanggapan. Tuntutan dan gugatan mereka ibarat elegi sendu di kesunyian monumen yang di sekelilingnya ditumbuhi pepohonan rindang itu.
Sabaheta Fejzic, juga seorang ibu Srebrenica, tiap hari mencari kuburan-kuburan massal yang belum terungkap, berharap dapat melacak jejak suami, anak dan ayahnya. Semuanya terenggut maut, tewas dibunuh pasukan Serbia.
“Aku tahu, sepertinya tidak mungkin lagi menemukan tulang-belulang mereka saat ini, tapi aku akan tetap mencari di mana pun ada kuburan massal yang digali. Berharap pada akhirnya orang-orang yang kucintai itu dapat istirahat dengan tenang,” ujarnya getir.
Selain dikuburkan, banyak jenazah korban pembantaian yang dibakar atau dibuang ke sungai. Namun bagi beberapa keluarga, tempat ini (monumen pembantaian) menunjukkan bahwa mimpi buruk mereka telah berakhir. “Suatu hari, mungkin akan demikian pula bagiku,” kata Sabaheta.
Zumra Sehomerovic, warga Srebrenica lainnya juga demikian. Beberapa kerangka mayat suaminya telah ditemukan, tapi tidak dengan kepala dan kakinya.
“Mereka membunuhnya di suatu tempat dan memotong-motong tubuhnya. Itu adalah kejahatan yang paling keji. Begitu kepala suamiku ditemukan, aku akan menguburkannya baik-baik agar ia dapat istirahat dengan tenang. Dan aku memiliki tempat untuk meletakkan setangkai mawar,” tuturnya dengan air mata menetes.
Muslim Bosnia tiada henti menggugat pemerintah Belanda dan PBB atas kegagalan mereka dalam menghentikan pembantaian massal yang dilakukan tentara Serbia di “zona aman” Srebrenica.
“Anggota keluargaku dipaksa keluar dari markas (tempat pengungsian) dan diserahkan kepada pasukan Serbia oleh tentara Belanda,” ungkap Hasan Nuhanovic, salah seorang penggugat, sebagaimana dilansir kantor berita AFP.

Pada 1995, Nuhanovic bekerja sebagai penerjemah di kesatuan tentara Belanda yang tergabung dalam pasukan PBB di Srebrenica. Ia kehilangan kedua orang tua dan adiknya yang baru berusia 20 tahun. “Semua terjadi di depan mataku. Bahkan, aku yang menerjemahkan perintah tentara itu kepada keluargaku. Setelah itu aku tidak pernah bertemu mereka lagi,” tuturnya.
Nuhanovic menambahkan, tentara Belanda tahu bahwa orang-orang yang di dalam markas berada dalam bahaya maut, tapi mereka tidak peduli. Mereka hanya mau pergi sesegera mungkin tanpa menghiraukan para pengungsi yang terjebak dalam markas. “Tentara Belanda dan PBB gagal menjalankan tugasnya. Ini harus dipertanggungjawabkan!”
Pemerintah Belanda mengaku pasukannya telah ditinggalkan PBB yang tidak memberikan bantuan serangan udara ketika Serbia menyerbu Srebrenica. Sebuah dokumen publik menyebutkan, PBB memblokir serangan udara itu karena takut serdadu Belanda akan terkena tembakan “friendly fire”.
PBB juga telah mengaku gagal melindungi Muslim Bosnia di Srebrenica dari serbuan militer Serbia, tapi tak satu pun pejabat berwenang yang dimintai pertanggungjawaban.
Keluarga korban hanya menginginkan keadilan bagi orang-orang yang mereka cintai. “Jika tidak melakukan hal ini (menggugat), aku dan istriku tidak akan dapat bertahan. Aku hanya mencari keadilan,” ujar Nuhanovic.
Pengadilan Belanda telah menggelar hearing guna menyikapi gugatan keluarga korban, namun belum ada pernyataan resmi dari para hakim yang akan menyidangkan kasus ini. Pihak pengadilan hanya menyatakan, tuntutan itu akan disidangkan selama beberapa bulan ke depan. Namun, para analis pesimistis kasus ini akan dimenangkan pihak penggugat.
Zona aman
Di tengah berkecamuknya agresi Serbia atas Bosnia, PBB menetapkan Srebrenica (Bosnia) sebagai zona aman pada 16 April 1993, setelah kota-kota di wilayah perbatasan jatuh ke tangan pasukan Serbia.
Keputusan itu diambil setelah pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB yang mendukung keputusan komandan pasukan PBB di Bosnia, Jenderal Phillipe Morillon, yang menawarkan perlindungan untuk membebaskan Srebrenica dari kepungan tentara Serbia.
PBB memutuskan Srebrenica akan dijadikan pusat penampungan pengungsi Muslim Bosnia yang mencari perlindungan dari serbuan tentara Serbia. Penunjukan Srebrenica sebagai zona aman kemudian diperluas dengan ditunjuknya Sarajevo, Tuzla, Zepa, Gorazde dan Bihac pada 6 Mei 1993.
Srebrenica berada dalam kepungan tentara Serbia selama 11 bulan dan para petinggi PBB menyatakan hal itu tidak bisa didiamkan lagi. Situasi di Srebrenica sangat mencekam. Ratusan orang terluka dan banyak yang tewas karena keterbatasan fasilitas medis. Jumlah penghuni kota itu melonjak dengan kehadiran ribuan pengungsi.
Presiden Bosnia, Alija Izetbegovic, menolak mentah-mentah rancangan zona aman tersebut. Ia menyatakan zona itu malah menjadi semacam perangkap maut bagi warga Bosnia yang merasa aman, namun justru menjadi target pembantaian pasukan Serbia.
Pertengahan Juli 1995, pasukan Serbia menyerang Srebrenica secara membabi-buta. Sekitar 8.000 Muslim Bosnia, pria dan anak-anak dikumpulkan di beberapa tempat, dilucuti, disiksa dan dibunuh dengan keji. Sebagian besar korban tewas dikuburkan di sejumlah kuburan massal di perbatasan Srebrenica. Sebagian lagi jenazahnya dibakar dan dihanyutkan di sungai-sungai.
Mahkamah Kejahatan Internasional menggolongkan pembantaian di Srebrenica sebagai aksi genosida, pembantaian terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Pemimpin Serbia, Radovan Karadzic dan komandan militernya, Ratko Mladic yang memimpin serbuan ke Bosnia hingga kini masih buron. Tidak terlihat adanya upaya PBB melakukan pencarian dan penangkapan terhadap kedua penjahat perang tersebut.
Belasan tahun lamanya Muslim Bosnia dan Asosiasi Ibu-Ibu Srebrenica menuntut keadilan atas tragedi kemanusiaan yang mereka alami, namun tanpa hasil. Mereka juga menggugat pengadilan Belanda agar menghilangkan hak kekebalan PBB. Dengan demikian, pasukan PBB yang bertugas di zona aman itu dapat menjalani proses hukum.
Bagi Munira Subasic, masa lalu yang kelam itu harus dibersihkan demi tercapainya masa depan yang lebih baik. “Bagaimana kau dapat memiliki masa depan yang bersih sebelum memiliki masa lalu yang bersih pula,” ujarnya.
Penyelesaian kasus pembantaian massal adalah salah satu caranya, agar nyanyi sunyi di Srebrenica itu tak lagi terdengar.*

Leave a comment