Damai Nan Tak Kunjung Tiba

Ketika konflik tak jua dapat dihentikan dengan beragam cara, satu hal yang coba dilakukan adalah menghidupkan kembali tradisi-tradisi kesukuan.

Hari itu, Abazar Hamid, penyanyi dan penggubah lagu berusia 37 tahun, memutuskan berhenti jadi arsitek demi mengejar impiannya menjadikan musik sebagai sarana mempromosikan perdamaian di Darfur.

Untuk mencapai tujuannya, bapak tiga anak ini dibantu penyanyi-penyanyi wanita Arab yang dikenal dengan sebutan Hakama, yang biasa “dibooking” untuk menggelorakan semangat peperangan lewat lagu. “Hakama mempunyai pengaruh besar di masyarakat dan peran yang sangat berbahaya dalam konflik,” kata Hamid kepada Times.

Dalam balutan kain sarung berwarna hijau, merah, kuning dengan motif buah persik dan celak hitam yang melingkari mata, wanita-wanita ini digunakan untuk menghasut para lelaki agar bertempur dengan gagah.

Melalui kombinasi lirik-lirik nasionalisme Arab dan kisah-kisah seram yang dilantunkan Hakama di medan perang, para lelaki pun bertindak kejam dan brutal terhadap musuh. Dan kemenangan pun dapat diraih. Hakama terdapat di tiap sudut kota dan desa-desa Arab di Sudan.

Sejak awal konflik Darfur, penyair-penyair lokal dibayar untuk menulis lagu-lagu peperangan dan Hakama menerima uang tunai, emas dan barang-barang perhiasan atas jasanya. “Ketika perang, kau harus melakukan itu (bernyanyi),” ujar Khadija Yakub, seorang Hakama, mengenang hari-harinya ketika mengiringi ribuan pejuang ke medan laga.

“Jika kau tidak bernyanyi untuk para lelakimu agar mereka membunuh, maka lelaki lain akan datang dan membunuhmu.”

Kini Hamid bekerja sama dengan belasan Hakama, bernyanyi demi perdamaian. Mengajarkan mereka lirik-lirik lagu “Perdamaian Darfur”. Ia berharap dapat merekam sebuah album berisi lagu-lagu perdamaian, namun terkendala masalah uang. “Ini adalah problem,” katanya. “Bagaimana caranya mendapatkan uang?”

Ia pun mengumpulkan uang dengan menyelenggarakan festival-festival musik. “Banyak orang yang mampu membayar perang, tapi tak satu pun yang mampu membayar perdamaian,” ujar Fatima Usman Ahmad, pemimpin Hakama, menimpali kendala yang dihadapi Hamid.

Walau kini Hakama telah beralih fungsi dari “cheerleader” perang menjadi penyuluh perdamaian, namun kata-kata damai itu masih mahal di Darfur. Konflik dan perang yang telah berlangsung bertahun-tahun di salah satu provinsi Sudan itu, tak jua kunjung henti.

Beragam cara telah ditempuh, termasuk melibatkan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), Amerika dan Inggris hingga beraneka diplomasi. Namun, semuanya tak membuahkan hasil yang diharapkan.

Ketika diplomasi gagal menyelesaikan lima tahun berlangsungnya konflik, tokoh-tokoh Darfur menganjurkan agar para kepala suku menyelesaikan masalah di provinsi yang hancur akibat perang itu dengan cara kembali ke tradisi kesukuan. Menyelesaikan sengketa dengan bertemu dan berunding dalam festival.

“Para kepala suku adalah orang-orang yang dapat memenangkan kepercayaan masyarakat mereka,” kata Walid Madibbo, sebagaimana dikutip Washington Post.

Madibbo, adalah seorang pemuda suku Arab Rizeigat. Bersama pamannya, ia mengorganisir festival selama tiga hari untuk menghidupkan kembali peran kepala suku dalam memecahkan problem Darfur. Festival yang digelar awal Juli 2008 ini menghadirkan para kepala suku, kaum intelektual, pelaku bisnis dan ulama secara bersama-sama untuk mendiskusikan situasi politik lokal dan konflik di wilayah mereka.

Sepanjang hari para peserta festival menghabiskan waktu dengan berdiskusi dan bermusyawarah sembari minum teh. Mereka juga berbicara tentang resolusi konflik dan pentingnya upaya kultural dalam mengikat masyarakat secara bersama-sama.

“Kami telah mempromosikan pemakaian metode-metode tradisional untuk memecahkan konflik,” kata Henry Anyidoho, Pejabat Deputi Politik PBB-Uni Afrika di Sudan. “Anda lihat di seluruh Afrika, dimana sistem rusak, maka Anda memiliki masalah. Jika sistem itu berada pada tempatnya, maka Anda tidak memiliki masalah.”

Konflik politik

Para pemimpin kesukuan menegaskan bahwa konflik Darfur dipicu masalah politik, bukan etnis. “Masalahnya adalah antara orang Darfur dan pemerintah (Sudan), bukan antara Arab dan Afrika,” kata Abdul Majid Ibrahim Muhammad, pemimpin terkemuka suku Fur Afrika. “Pemerintahlah yang memanas-manasi masalah ini,” tegasnya.

Menurut Muhammad, secara sosial penduduk Afrika dan suku-suku Arab di Darfur saling berhubungan. “Saya tidak percaya dengan deskripsi Arab dan non-Arab ini. Ada orang Fur yang dinikahi orang Arab, maka ada sebuah hubungan sosial di antara mereka,” jelasnya.

Konflik Darfur terjadi tiba-tiba, ketika para pemberontak menyerang target-target pemerintahan Sudan karena dianggap melakukan diskriminasi. Ada dua kelompok utama pemberontak, The Sudan Liberation Army (SLA) dan The Justice and Equality Movement (JEM).

Konflik juga meluas hingga Chad yang juga sedang menghadapi perang saudara. Sudan menuduh pemerintah Chad membantu pemberontak di Sudan. Setali tiga uang, Chad juga menuduh Sudan telah membantu pemberontak di negaranya.

Yang lebih memprihatinkan lagi adalah konflik yang terjadi melibatkan sesama Muslim. Baik rezim Sudan, Janjaweed (milisi Arab) dan pemberontak di Darfur, semuanya adalah Muslim. Janjaweed berasal dari Baggra, pemberontak sebagian besar suku Badui dari Fur, Zaghawa dan Massaleit. Munculnya isu etnis Arab-Afrika dalam konflik ini memang mengherankan, mengingat  mayoritas Islam di Darfur dan sudah tidak dapat dibedakan lagi antara Arab dan Afrika.

Pemimpin suku Arab Rizeigat, Mahmoud Musa Madibbo juga menegaskan bahwa konflik yang terjadi bukanlah masalah suku atau etnis. “Ini adalah konflik kepentingan. Kita telah hidup bersama-sama selama 400 tahun,” ujarnya.

Penduduk Darfur berjumlah sekitar 8 juta jiwa yang terbagi menjadi keturunan Afrika berkulit hitam, penduduk asli dan Muslim. Sudan adalah negara dengan jumlah penduduk sekitar 40 juta jiwa, 70 persen Muslim. Terdapat lebih dari 80 etnik dengan bahasa yang berbeda di negara itu, termasuk bahasa Arab.

PBB memperkirakan sebanyak 300.000 orang tewas akibat perang, kelaparan dan penyakit di wilayah seluas Prancis itu. Pemerintah Sudan menyebut korban tewas sebesar 10.000 orang. Lebih dari 2 juta orang terpaksa ke luar dari rumah-rumah karena memburuknya krisis kemanusiaan.

Terwujudnya damai di Darfur dengan cara kembali ke tradisi kesukuan, juga merupakan impian Abazar Hamid. Ia berharap segera mendapatkan cukup uang untuk meluncurkan album barunya. Dan para Hakama tak lagi menyanyikan syair-syair peperangan yang mengiringi denting senjata dan tetesan darah.*

Posted in

Leave a comment