Penduduk di kawasan indah nan subur ini hanya ingin menikmati kedamaian selamanya. Sayang, konflik berkepanjangan telah memusnahkan segala asa.
Sarwa tak dapat melupakan kejadian enam bulan lalu itu, ketika sejumlah orang mengetuk pintu rumahnya dan menembak suaminya. Tembakan enam kali di bagian dada seketika menewaskan suaminya di malam buta itu. Ia tak tahu siapa gerangan yang membunuh suami tercinta.
Sarwa adalah warga sebuah desa kecil di Kashmir. Seorang wanita paruh baya dan ibu beberapa anak. Anak sulungnya kini jadi pendiam sejak kematian bapaknya. Sarwa mengaku sangat sedih, terus memikirkan sang suami. “Aku ingin bunuh diri tapi kasihan anak-anak,” ujarnya kepada IslamOnline dengan mata menerawang.
Di dekat Salwa, anak-anaknya duduk tanpa senyum dan menatap curiga orang-orang yang tak dikenal. Sarwa dan anak-anaknya, sebagaimana sebagian besar penduduk Muslim Kashmir, adalah korban yang selamat dalam konflik berkepanjangan. Namun, tidak demikian dengan suaminya. Pria yang dikasihinya itu menjadi martir pergolakan Kashmir.
Menurut data resmi pemerintah, sebanyak 42.000 orang tewas terbunuh dalam konflik yang telah berlangsung dalam kurun 18 tahun itu. Namun data yang dirilis lembaga-lembaga kemanusiaan lebih mencengangkan lagi, lebih dari 60.000 nyawa melayang sia-sia. Konflik disertai aksi kekerasan antara India dan Pakistan, Hindu dan Muslim, selain menyebabkan hilangnya nyawa orang juga meninggalkan guratan luka dan gangguan mental pada korban yang selamat.
Sarwa mengeluh karena tidak bisa tidur nyenyak, sering diserang nyeri mendadak di sekujur tubuhnya, sakit kepala, merasa ketakutan dan mengalami mimpi buruk. Namun ia tak sendirian. Tetangganya, bahkan sebagian besar warga desanya juga mengalami hal serupa.
“Tetanggaku juga menderita gejala-gejala penyakit yang sama denganku, tidak bisa tidur dan pusing-pusing,” tuturnya. Sarwa dan tetangganya juga merasa takut jika bertemu aparat keamanan ataupun pejabat pemerintah.
Menurut DR Arshad Hussain, konsultan psikiatri di rumah sakit Srinagar, ketakutan warga ketika bertemu pejabat pemerintah sudah sedemikian parahnya. Trauma, kata Hussain, ternyata tidak hanya muncul dari kamar-kamar dokter atau ruang perawatan rumah sakit tapi juga di jalanan. “Tak ada kepercayaan pada siapa pun, yang muncul adalah masyarakat paranoid.”
Sebuah survei yang dipublikasikan oleh kelompok bantuan medis Medecins Sans Frontiere tahun lalu menunjukkan, satu diantara sepuluh orang Kashmir telah kehilangan satu atau lebih anggota keluarga inti. Sepertiganya mengaku kehilangan satu atau lebih anggota keluarga jauh. Survei yang berdasarkan wawancara dengan 510 orang itu menunjukkan, satu dari enam orang warga pernah ditahan aparat keamanan. Lebih dari tiga perempat mengaku telah disiksa.
Guratan luka
Skala konflik yang diwarnai kekerasan dalam beberapa tahun terakhir, telah menyebabkan kian bertambahnya korban gangguan mental di Kashmir. “Ke mana pun kau menoleh, akan kau dapatkan guratan luka mental akibat perang,” kata Arjimand Hussain Talib, manajer proyek Actionaid, sebuah lembaga kemasyarakatan yang melayani konseling bagi penderita gangguan mental.
Kisah orang-orang yang selamat dalam konflik seperti Sarwa menyebar di seantero Kashmir, diungkapkan oleh para dokter berdasarkan penuturan para korban yang juga menjadi saksi pembunuhan, perkosaan dan penyiksaan terhadap sanak kerabatnya.
Orang-orang ini (para saksi) menderita Post-Traumatic Stress Disorders atawa gangguan mental pasca trauma. Meskipun di Kashmir terdapat stigma negatif bagi mereka yang memasuki “rumah sakit jiwa”, namun antrean orang-orang yang datang untuk meminta pertolongan dan konseling terus bertambah tahun demi tahun.
Dokter-dokter psikiatri di rumah sakit Srinagar telah menerima 63.000 orang pasien tahun lalu. Melonjak drastis dibandingkan tahun 1989 yang cuma 1.500 pasien. Di kota Pulwana, Actionaid telah menangani 1.200 kasus konseling. “Kekerasan mungkin menurun, tapi sangat mengejutkan melihat tak ada penurunan jumlah orang yang datang melakukan konseling,” kata Saudia Qutab, salah seorang konselor Actionaid di Pulwana.
Baru-baru ini, Qutab menghadapi kasus seorang ibu yang tak dapat mengendalikan tangisnya, tidak bisa tidur dan sering marah-marah tanpa sebab. Penyebabnya, sang ibu kehilangan putra tercinta tujuh tahun lalu. Sang anak pamit berangkat sekolah di suatu hari, namun tak pernah kembali ke rumah. Inilah yang membuat ibu itu menderita gangguan mental.
“Kasus kehilangan anggota keluarga kerap menjadi kasus terburuk, karena pihak keluarga tidak mau menutupnya (mengakhiri),” lanjut Qutab. Diperkirakan sekitar 10.000 orang Kashmir “hilang”.
Sengketa di surga dunia
Kashmir merupakan salah satu wilayah konflik yang tak terselesaikan hingga kini, sejak kawasan itu dianeksasi India pada 27 Oktober 1947. Wilayah yang terkenal dengan keindahan alamnya itu menjadi rebutan India dan Pakistan. India mengingkari janjinya memberikan kesempatan kepada rakyat Kashmir untuk menentukan nasib sendiri sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB).
“Vale of Kashmir” atau Lembah Kashmir dikenal sebagai salah satu tempat paling indah dan menakjubkan di dunia. Sebuah “surga” dunia di Asia Selatan. Datarannya rendah dan dikelilingi gunung-gunung tinggi menjulang dengan beragam aliran air yang menghiasi lembah-lembah. Tak heran jika grup band legendaris, Led Zeppelin, menciptakan sebuah lagu berjudul Kashmir.
Kashmir dikaruniai tanah yang subur, dimana sumber air mengalir lancar dan melimpah ruah. Kebun buah terdapat di mana-mana. Sawah-sawah dengan tanaman padi yang menyebar di seluruh negeri ini dapat digunakan sebagai bukti, betapa suburnya negeri dan tanah ini. Kashmir juga berada di posisi yang sangat strategis untuk latihan militer karena wilayahnya bergunung-gunung dan dikelilingi hutan rimba.
Luas keseluruhan wilayah Kashmir sekitar 222,237 km persegi, dengan jumlah penduduk sekitar 13 juta jiwa. Populasi Muslim merupakan mayoritas di wilayah dengan ibukota Srinagar ini, sekitar 80 persen. Sisanya, Hindu 16 persen, Sikh 4 persen, serta Budha dan Kristen menempati jumlah minoritas.
Hingga kini aksi kekerasan masih jua menampar wajah Kashmir, meninggalkan guratan luka yang kian lebar dan dalam. “Surga” dunia itu belum dapat memberi kenikmatan “surgawi” bagi penduduknya.*

Leave a comment