Manuver Kartel di Balik Krisis Minyak

Naiknya harga minyak dunia tak lepas dari manuver The Seven Sisters, kartel minyak Yahudi yang menguasai perdagangan minyak dunia.

Hari Senin itu (30/6), Perdana Menteri Irak, Nuri al-Maliki, bergegas mendatangi al-Amarah. Kedatangan sang perdana menteri di kota Selatan Irak itu guna mendorong moril pasukannya yang tengah melawan pemberontak Syiah.

Al-Maliki berjanji bahwa pasukannya yang loyal kepada pemerintah itu akan terus melakukan serangan hingga kelompok-kelompok bersenjata anti-pemerintah ditumbangkan. Serangan gencar itu merupakan perluasan operasi militer yang bermula di Basra, kota terbesar kedua di Irak, pada bulan Maret lalu untuk mengakhiri kendali pemberontak.

Al-Maliki berulang-kali mengatakan bahwa serangan gencar juga berlangsung di Mosul, di kawasan strategis pipa ladang minyak Kirkuk di utara Turki. Serangan itu adalah bagian dari rencananya menciptakan stabilitas keamanan dan mengembalikan kewenangan pemerintah atas provinsi-provinsi yang menyusahkan Irak.

Sejak perang 2003 yang merobohkan rezim Saddam Hussein, Mosul berada di bawah kendali al-Qaidah dan kelompok-kelompok Sunni bersenjata lain. Sementara al-Amarah dan Basra dikuasai milisi Mahdi, pimpinan ulama Syiah anti-Amerika, Muqtada al-Sadr. Keputusan pemerintah mengakhiri dominasi pemberontak atas provinsi-provinsi kunci ini menimbulkan pertanyaan tentang pemilihan waktu gerakan al-Maliki.

Jawaban terletak pada minyak. Kedua provinsi di selatan itu terletak di atas sebuah danau minyak 150 miliar barrel, 95 persen dari cadangan minyak Irak. Provinsi di utara hanya menyuplai minyak melalui pipa ekspor ke Mediterania. Dengan harga minyak yang menyentuh US$ 150 per barrel dan ekonomi AS hampir di tubir kehancuran, Washington sepertinya memutuskan tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk memanfaatkan cadangan minyak Irak yang sangat besar itu.

Pada 19 Juni, The New York Times melaporkan bahwa Shell, BP, Exxon Mobil, Total dan Chevron, pewaris kartel The Seven Sisters yang mendominasi produksi energi dunia pada paruh abad ke-20, akan menandatangani transaksi dengan Irak untuk mengembangkan ladang-ladang minyak dan gasnya.

Sebuah laporan menyusul dari Baghdad menyebutkan akan terjadi penandatanganan transaksi dengan perusahaan minyak internasional untuk mengeksplorasi ladang minyak Irak yang rusak akibat perang dan aksi sabotase kelompok bersenjata.

Dalam transaksi senilai sekitar US$ 500 juta, kelima perusahaan tersebut akan membantu mengaktifkan ladang minyak Irak dan meningkatkan produksi menjadi 600,000 barrel per hari, meningkat hampir 20 persen. Ekspor minyak Irak kebanyakan berasal dari ladang minyak selatan di sekitar Basra.

Kini ladang minyak itu mampu menghasilkan lebih dari 2 juta barrel per hari untuk pertama kalinya sejak invasi yang dipimpin AS. Kian meningkatnya serangan terhadap pipa-pipa minyak ini membuka peluang Irak untuk meningkatkan ekspor dari ladang minyak utara.

Setelah lima tahun masa perang yang melelahkan, AS dan perusahaan minyak Barat -terutama kartel The Seven Sisters- yang menolak nasionalisasi industri minyak Saddam di tahun 1972, kembali ke ladang-ladang minyak terbesar kedua di dunia itu. Langkah ini diharapkan dapat memberi akses jangka panjang bagi mereka terhadap cadangan minyak Irak, terbesar kedua setelah Arab Saudi.

Dengan sejumlah analisa yang memperkirakan harga minyak akan mencapai US$ 300, maka motif di balik peningkatan produksi di ladang minyak Irak teramat jelas. Apalagi Arab Saudi enggan meningkatkan produksi minyaknya.

Sementara, AS dan sekutunya, terutama negara-negara maju yang tergabung dalam G8 merupakan pengkonsumsi minyak terbesar di dunia. Negara-negara maju ini memakan 64,76 persen dari total energi dunia. Amerika sendiri memakan 22 persen dari total konsumsi minyak dunia.

Hampir tiap hari, rekor demi rekor harga baru minyak mewarnai bursa komoditas dunia seperti di Amerika dan Inggris. Beragam spekulasi bermunculan terkait dengan lonjakan drastis harga emas hitam itu, mulai dari sentimen nuklir Iran, keengganan Arab Saudi meningkatkan produksi hingga hingga ulah spekulan. Namun adanya permainan spekulasi dalam tata niaga minyak ini dibantah keras AS.

Sekretaris Energi AS, Samuel Bodman mengatakan, meningginya harga minyak bukan karena ulah spekulan. “Ini lebih dikarenakan ketidakmampuan negara produsen minyak memenuhi permintaan dunia,” kata Bodman sebagaimana dikutip AP.

“Fundamental pasar memperlihatkan kepada kita bahwa produksi minyak tidak bisa mengimbangi permintaan dunia. Ini mengakibatkan naiknya harga minyak serta volatilitas harga. Tidak ada bukti yang bisa menunjukkan bahwa para spekulan yang mengontrol harga minyak,” tegasnya.

Menurut Bodman, pasar komoditas telah berpengalaman dalam meladeni “banjir uang” investor dalam beberapa tahun terakhir. Ini membuat mereka lebih fokus mengikuti perkembangan pasar ketimbang mengendalikan harga minyak dunia.

AS dan sejumlah negara barat lainnya telah meningkatkan tekanan kepada Arab Saudi, sebagai produsen minyak terbesar di dunia, untuk meningkatkan produksinya. Walau berniat akan meningkatkan produksi minyaknya, Arab Saudi tetap bersikukuh bahwa kenaikan harga minyak dunia bukan karena kurangnya pasokan dari negara produsen.

Ulah spekulan mungkin yang paling benar, karena merekalah yang mengendalikan perdagangan minyak dunia. Nama The Seven Sisters kembali mengemuka. Gonjang-gonjing harga minyak dunia ditengarai tidak terlepas dari peran kartel minyak yang kebanyakan dipegang Yahudi ini. Transaksi dan eksplorasi ladang minyak Irak kian menguatkan dugaan tersebut. The Seven Sisters telah kembali.

The Seven Sisters

Sebutan The Seven Sisters merujuk kepada tujuh perusahaan minyak internasional yang mendominasi produksi minyak dunia pasca Perang Dunia II. Istilah “Seven Sisters” diciptakan oleh pakar energi Italia, Enrico Mattei.

The Seven Sisters terdiri dari Standard Oil of New Jersey, Royal Dutch Shell, Anglo Anglo Persian Oil Company (BP), Standard Oil of New York (Exxon Mobil), Standard Oil of California (Chevron), Gulf Oil dan Texaco. Kepemilikan perusahaan-perusahaan ini didominasi oleh orang-orang Yahudi, sebagaimana diungkap majalah bisnis terkemuka Fortune edisi Mei 1973 silam.

Dominasi The Seven Sisters dalam industri dan produksi minyak telah berlangsung puluhan tahun. Mereka sangat kuat karena menguasai sekitar 40 persen pasokan minyak dunia. The Seven Sisters  begitu penting dan kokoh karena mereka yang membuat aturan, menguasai industri dan pasar.

Namun, berdirinya OPEC (Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak) pada tahun 1960, negara-negara Arab dapat mengendalikan harga dan produksi minyak. The Seven Sisters pun “sekarat” sejak tahun 1960 hingga tahun 1970-an, karena kekuasaan dan pengaruhnya jauh berkurang.

Tahun 2007, The Financial Times menulis profil tentang kebangkitan tren dan dominasi perusahaan-perusahaan minyak transnasional dalam industri minyak global berjudul The New Seven Sister. Seven Sisters baru ini terdiri dari Saudi Aramco (Arab Saudi), Gazprom (Russia), CNPC (China), NIOC (Iran), PDVSA (Venezuela), Petrobras (Brazil) dan Petronas (Malaysia).

Perusahaan-perusahaan milik negara ini menguasai lebih dari sepertiga produksi gas dan minyak dunia dan sepertiga lebih cadangan gas dan minyak dunia. Kebalikannya, Seven Sisters lama –yang menyusut menjadi empat perusahaan karena konsolidasi- kini hanya memproduksi 10 persen gas dan minyak dunia, dan hanya menguasai 3 persen cadangan minyak dunia.

The Seven Sisters juga tergusur oleh pemain-pemain global baru dari negara berkembang, yang sebagian besar di antaranya perusahaan milik negara. Dari 50 perusahaan minyak terbesar dunia, lebih dari separuh adalah badan usaha milik negara (BUMN) dan 15 di antaranya dari negara berkembang.

Bersama sejumlah perusahaan minyak dan gas swasta, perusahaan-perusahaan plat merah ini berkembang menjadi perusahaan-perusahaan multinasional transnasional yang cukup diperhitungkan dan matang dalam beberapa tahun terakhir. Banyak dari mereka yang mencatatkan saham di Bursa Saham New York (NYSE), CNNOC (China), Petrobras (Brasil), Petrochina dan Sinopec. Para pemain global baru ini menjadi bagian dari era baru kebangkitan perusahaan minyak transnasional.

Walau demikian, pewaris Seven Sisters asli seperti Shell, BP, Exxon Mobil, Total dan Chevron tetap memainkan peran penting dalam industri minyak dan gas dunia. Dan mereka kini telah kembali. Salah satu caranya adalah dengan mengeksplorasi ladang minyak Irak. Dan kengototan al-Maliki membersihkan pemberontakan di kawasan Irak selatan, bukannya tanpa alasan.*

Posted in

Leave a comment