Hanya gara-gara sebuah obor, pemerintah Cina menebar teror kepada warga Muslim Uighur di Xinjiang. Wajah lain di balik topeng komunisme.
Boleh jadi rute pawai obor Olimpiade membawa keceriaan di wajah-wajah penduduk Cina. Tapi di wilayah Muslim Xinjiang, obor itu hanya membawa kepahitan. Demi memuluskan jalannya lintasan obor, pemerintah Cina melakukan penindasan terhadap Muslim Uighur. Pemerintah negeri komunis itu juga menuduh warga Muslim akan meneror pagelaran Olimpiade Beijing.
Medio Maret lalu, penguasa Negeri Tirai Bambu itu mengaku telah ‘membatalkan’ rencana serangan teror tersebut. “Sungguh, gerombolan (Muslim Uighur) itu telah merencanakan suatu serangan yang mengarah ke Olimpiade,” tuding Wang Lequan, pemimpin Partai Komunis Xinjiang.
Aparat keamanan pun segera melakukan razia dan penggerebekan ke rumah-rumah warga. Menurut Wang, dalam penggerebekan tersebut aparat menyita pisau, kampak, granat dan buku tentang terorisme. “Acara Olimpiade dalam bulan Agustus ini ditetapkan sebagai sebuah peristiwa besar, tetapi selalu ada beberapa orang yang berkomplot melakukan sabotase. Itu sudah bukan rahasia lagi,” ujarnya.
Sekretaris Jenderal World Uighur Congress, Dolkun Isa mengungkapkan, penggeledahan dilakukan di segala tempat, di rumah-rumah maupun hotel-hotel. “Orang-orang ditangkapi. Bahkan orang-orang tanpa catatan kriminal pun ditangkap hanya karena mereka terlihat mencurigakan.”
Menurut Isa, lebih dari 10,000 orang Muslim ditahan dalam empat hingga lima bulan terakhir, sebagai bagian dari serangan pra-Olimpiade. Wilayah Xinjiang telah memiliki pemerintahan otonom sejak 1955 dan merupakan rumah bagi 20 juta Muslim, sebagian besar suku Uighur dan minoritas Muslim lainnya.
Wang mengklaim komplotan tersebut bekerja sama dengan Gerakan Islam Turkistan Timur (ETIM), sebuah organ yang di-blacklist Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Amerika Serikat (AS). Wang, bos Partai Komunis di Xinjiang itu juga mengancam akan melakukan pre-emptive actions (tindakan pencegahan). “Kita siap melakukan serangan, kapan pun konspirasi itu terdeteksi. Para teroris, penyabot dan kaum separatis akan ditindak tegas, tak peduli apapun etnis mereka dan darimana mereka berasal.”
Sebelumnya, pada Januari 2007, serdadu Cina telah membunuh 18 orang Muslim Uighur dan menahan orang 17 lainnya dalam sebuah penggerebekan yang di suatu tempat yang diduga sebagai kamp latihan ETIM. Para pembela hak azasi manusia (HAM) menuduh penguasa Cina telah melakukan penindasan agama terhadap suku Uighur atas nama perang melawan terorisme.
Obor Olimpiade
Pawai obor yang melewati Xinjiang ke arah Turkistan Timur diprotes warga Muslim Uighur karena aparat bertindak represif dalam melakukan tindakan pengamanan. Rute domestik obor Olimpiade Cina yang dimulai pada 4 Mei itu juga mendidihkan suhu politik Tibet dan Xinjiang.
“Saya menentang pawai obor Olimpiade karena datang dengan penindasan kejam terhadap orang-orang Uighur,” kata Rebiya Kadeer, Kepala Asosiasi Uighur Amerika (UAA) kepada AFP.
Pemerintah Cina ingin memanfaatkan Olimpiade Beijing yang digelar 8 Agustus mendatang untuk memoles citra internasionalnya di tengah meningkatnya keprihatinan mengenai catatan HAM. Para pemimpin Suku Uighur percaya bahwa Cina tengah berusaha menggunakan pertandingan internasional guna mengelak dari tudingan pelanggaran HAM.
“Cina menggunakan kesempatan sebagai tuan rumah Olimpiade 2008 untuk menghancurkan legitimasi penduduk Uighur dan perjuangan mereka, serta untuk melegalkan penindasan di Turkistan Timur,” tandas Kadeer.
Tindakan represif pemerintah Cina itu juga mengundang protes anggota Kongres AS, Frank Wolf. Wolf menyebut Cina telah bertindak kasar terhadap kaum Muslimin di Xinjiang. “Pemerintah Cina seharusnya tidak diizinkan menggunakan ‘perang melawan teror’ atau keamanan Olimpiade sebagai front (medang tempur) untuk mengeksekusi orang-orang Uighur,” ujar anggota DPR dari Partai Republik ini.
Pada tanggal 9 Juli 2008, Cina mengadili 15 orang Muslim Uighur dalam sebuah sidang tertutup, dengan tuntutan melakukan aksi teroriseme. Dua orang di antara mereka telah dieksekusi, tiga orang ditangguhkan hukuman matinya dan sepuluh lainnya dipenjara seumur hidup.
Pada saat bersamaan, polisi di Urumchi (ibukota Xinjiang) membunuh lima orang Uighur yang dituding terlibat dalam kelompok 15 orang pelaku terorisme. “Ini adalah penghinaan terhadap proses hukum,” kata Wolf. “Persidangan itu tak lebih dari sekedar cara untuk menekan kebebasan agama dan kelompok suku minoritas.”
Tahun ini saja, polisi Cina telah menangkap 82 orang di Xinjiang yang dituding merencanakan serangan teror Olimpiade. April lalu, pemerintah Cina menyatakan telah menghancurkan sebuah kelompok di Xinjiang yang akan menculik wartawan-wartawan asing, para wisatawan dan para atlet selama Olimpiade.
Dalam kasus yang lain, polisi Urumqi mengaku telah menghancurkan sebuah kelompok, dimana para pemimpinnya sedang merencanakan serangan di Beijing dan Shanghai dengan bahan peledak dan beracun.
Suku Uighur adalah umat Islam minoritas di wilayah Cina yang berbicara bahasa Turki, berjumlah sekitar delapan juta jiwa. Cina memerangi mereka karena dianggap berjuang untuk memerdekakan diri dan menciptakan “Turkistan Timur” di Xinjiang.
Beijing (ibukota Cina) memandang Xinjiang sebagai salah satu aset yang tak ternilai karena lokasinya yang strategis dan penting, karena dekat Asia Tengah. Dan yang paling penting, Xinjiang menyimpan cadangan gas dan minyak yang sangat besar.*

Leave a comment