Konflik di Thailand Selatan itu telah mendarah daging, setua usia pencaplokan Kerajaan Patani oleh Kerajaan Siam.
Wilayah Thailand Selatan terdiri dari lima provinsi besar, Patani, Yala, Narathiwat, Setun dan Songkhla. Mayoritas penduduknya beragama Islam dan berbicara dalam Bahasa Melayu. Secara etnik maupun kultural warga kelima provinsi itu lebih dekat ke Melayu ketimbang Siam.
Hari demi hari kekerasan disertai kematian menjadi menu sehari-hari di wilayah yang dulu merupakan kesultanan Melayu itu, terutama di Patani, Yala dan Narathiwat. Pembunuhan, penembakan, penculikan maupun ledakan bom mewarnai kehidupan sehari-hari umat Islam.
Bangkok menetapkan Thailand Selatan sebagai daerah operasi militer, dengan dalih menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Yang terjadi malah sebaliknya. Banyak warga Muslim, terutama para guru (ustadz) yang jadi korban penembakan maupun penculikan orang tak dikenal.
Pertengahan Juli-Agustus tahun ini, kekerasan kembali bergolak. Seorang tentara dilaporkan tewas dan lima lainnya cedera, Selasa (22/7), ketika patroli mereka diserang di Narathiwat. Sehari sebelumnya, enam polisi dan seorang warga sipil di Yala, juga luka-luka akibat serangan bom. Pada hari yang sama di Narathiwat, seorang kepala desa ditembak orang tak dikenal hingga tewas.
Tiga hari kemudian, Jumat (25/7) kekerasan berujung maut kembali terjadi. Kali ini di Patani, korbannya empat orang warga Muslim dan seorang ustadz. Guru ngaji berusia 30 tahun ini ditembak seseorang di distrik Yarang, saat pulang ke rumahnya mengendarai motor. Dia adalah guru ke-100 yang dibunuh dalam empat tahun terakhir di ketiga provinsi yang berbatasan dengan Malaysia tersebut.
Pertengahan Agustus, (13/8), sebuah bom meledak dekat sebuah bengkel motor di Patani, melukai 18 orang warga. Pemerintah menuding warga Muslim yang tergabung dalam kelompok pemberontak sebagai pelakunya.
Militer Thailand pun menggelar operasi ke berbagai distrik di tiga wilayah Selatan tersebut. Di Provinsi Narathiwat, dua warga Muslim tewas tertembak dalam sebuah operasi. Pasukan berjumlah 1.000 personil dan didukung helikopter tempur itu melakukan serangan selama lima jam lebih.
Lebih dari 3.300 orang tewas sejak Januari 2004 di kawasan yang dulunya merupakan wilayah kerajaan Patani sampai dianeksasi Thailand pada 1902. Latar belakang inilah yang menimbulkan ketegangan di wilayah itu selama berpuluh tahun. Sejak itu pula, kekerasan terus-menerus dialami umat Islam di Thailand Selatan.
Kerajaan Patani ditaklukkan Kerajaan Siam melalui peperangan. Hubungan kerajaan Thailand dengan rakyat di bekas Kerajaan Patani itu tak jauh beda dengan kekuasaan penjajah atas yang dijajah. Hak-hak rakyat diabaikan. Hak atas penguasaan ekonomi, akses pendidikan maupun akses ke pemerintahan sangat dibatasi.
Perlawanan rakyat pun meletus. Konflik berskala luas dan brutal berlangsung mulai tahun 2004. Pada bulan April tahun itu, terjadi penyerbuan tentara ke Masjid Krue Se, menewaskan puluhan warga yang tengah beribadah. Militer Thailand juga menahan belasan orang yang diduga berbuat onar.
Selanjutnya, pada 25 Oktober 2004 terjadi aksi unjuk rasa di Tak Bai, menuntut pembebasan warga Muslim yang ditahan militer. Dalam peristiwa itu, aparat keamanan menembak mati 6 orang pengunjuk rasa. Sekitar 1.300 orang diangkut dengan enam truk menuju markas militer di Songhkla dalam waktu 5 jam lebih.
Manusia sebanyak itu dijejal di bak truk dengan posisi tiarap dan tangan terikat ke belakang. Sebelumnya, mereka dihantam hingga babak belur dengan popor senapan maupun pukulan tangan. Akhirnya, 79 orang tewas dalam perjalanan mengerikan itu. Kejadian tragis ini dikenal dengan tragedi Tak Bai.*

Leave a comment