Kasus sodomi terbaru yang menerpa tidak berpengaruh terhadap minat rakyat Malaysia dalam memilihnya. Ia menang dalam pemilu sela dan menjadi anggota parlemen. Akankah ia menjadi perdana menteri berikutnya?
Selasa dua pekan lalu, rupanya menjadi hari bersejarah bagi Anwar Ibrahim, mantan deputi perdana menteri Malaysia, yang digusur bosnya, Mahathir Mohammad. Politisi dan tokoh oposisi yang disangkutkan kembali dengan kasus sodomi itu masih tetap menjadi pilihan publik Negeri Jiran. Ia memenangi pemilihan umum (pemilu) sela dan meraih jabatan legislatif di parlemen.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Malaysia mengumumkan, Anwar memperoleh suara mayoritas 31.195 dari total suara yang diperkirakan 47.000 suara. Dalam pemilu yang dilangsungkan di kawasan Penang Utara itu, rival kuat Anwar, Arif Shah Omar Shah dari koalisi UMNO dan Barisan Nasional hanya memperoleh 15.571 suara. Sedangkan Hanafi Mamad dari Angkatan Keadilan Insan Malaysia (AKIM) cuma mendapat 97 suara.
Kemenangan ini memperkuat posisi Anwar untuk kampanye menuju Putra Jaya, kantor Perdana Menteri Malaysia, walau ia terus digoyang dengan tuduhan sodomi. Dan kini tengah menghadapi masa-masa persidangan terhadap kasus yang dua kali dituduhkan kepadanya.
Bagaimanapun, beragam cara meruntuhkan integritas dan karakter Anwar, tetap tak mampu membendung pilihan publik terhadap dirinya. Suami DR Wan Azizah Wan Ismail itu, telah kembali ke panggung politik Malaysia.
“Ini merupakan pertanda yang sangat menentukan, bahwa masyarakat menginginkan dan telah siap dengan perubahan. Dan mereka percaya, hanya Anwar yang mampu melakukan hal tersebut,” kata Bridget Wels, pengamat politik Asia Tenggara di Universitas John Hopkins sebagaimana dikutip Time.
Menurut Welsh, kemenangan Anwar juga membawa kekuatan tuntutan baru pada partisipasi dalam pemerintahan Abdullah Badawi, perdana menteri yang telah berjanji akan mundur dalam dua tahun ini. “Hal itu menandakan para pemilih telah menolak kepemimpinannya yang goyah,” kata Welsh. “Mayoritas warga lebih menginginkan Anwar yang memimpin negeri.”
Namun Anwar tak boleh terlalu yakin dengan kemenangan awalnya yang gemilang. Ia masih memiliki banyak rintangan untuk dibereskan, termasuk persidangan sodomi selanjutnya yang digelar 10 September 2008. Pemerintah telah mengumumkan kepada parlemen bahwa penuntut umum akan memiliki kasus yang kuat dan menjanjikan proses peradilan yang fair. Anwar tetap kukuh menolak segala tuduhan sodomi terhadap dirinya.
Dua hari pasca kemenangan dalam pemilu sela, tepatnya 28 Agustus 2008, Anwar Ibrahim dilantik sebagai anggota parlemen. Ia benar-benar telah kembali ke panggung politik Malaysia setelah hampir 10 tahun. “Saya merasa nama saya sudah dibersihkan. Saya senang sekali bisa kembali,” katanya kepada para wartawan usai pelantikan.
Dalam balutan busana tradisional Melayu berwarna biru tua dan peci hitam, politisi berusia 61 tahun itu diambil sumpahnya dalam upacara sederhana di Gedung Parlemen Malaysia. Dia disambut tepuk tangan meriah para anggota oposisi ketika masuk ke ruang utama.
Anwar berjanji akan mendongkel Perdana Menteri Abdullah Badawi, yang mendapat tekanan untuk mundur sejak pemilihan umum bulan Maret silam. Mantan orang kepercayaan DR M (Mahathir) itu memberikan tenggat waktu kepada para anggota parlemen dari pemerintah yang membelot untuk memberikan dukungan kepadanya hingga 16 September. “Perdana menteri telah kehilangan mandat dari negara dan bangsa,” katanya sebagaimana dikutip Reuters.
Koalisi Barisan Nasional yang memerintah saat ini memiliki 140 kursi di parlemen yang beranggotakan 222. Koalisi Anwar, Pakatan Rakyat, yang terdiri dari tiga partai memiliki 82 kursi. Dia harus dapat meyakinkan 30 anggota parlemen dari Barisan Nasional untuk membelot.
Anwar Ibrahim sangat sadar dengan risiko dan perangkap kehidupan politik Malaysia. Sekali waktu ia menginjakkan kaki di kantor pemerintahan tertinggi, namun terjatuh, disingkirkan, dipenjara dan dipermalukan. Bebas dari penjara, ia muncul secara de facto sebagai sosok oposisi baru yang kuat, tampil dengan tenang menentang partai koalisi yang telah berkuasa selama 50 tahun.
Anwar dan penjara
Sebuah demonstrasi jalanan besar-besaran terjadi tahun 1999 ketika Anwar dipenjara karena dituduh menyelewengkan kekuasaan. Padahal setahun sebelumnya, bintangnya tengah bersinar dan diperkirakan akan merebut kekuasaan. Ia sangat diharapkan dapat melanjutkan kekuasaan Perdana Menteri Mahathir Mohammad, dan mengambil alih kepemimpinan di Malaysia.
Namun, ketegangan timbul di antara kedua pemimpin tersebut, khususnya terkait dengan kebijakan ekonomi. Pada September 1998, Anwar ditangkap dan ditahan atas tuduhan pelanggaran seksual. Pada tahun 1999, ia dijatuhi hukuman penjara enam tahun dalam kasus korupsi dan tahun 2000 dijatuhi hukuman penjara selama sembilan tahun dalam kasus sodomi. Mahkamah Agung Malaysia menganulir vonis sodomi dan Anwar dibebaskan tahun 2004.
Sejak bebas dari penjara Anwar Ibrahim menjadi penasihat Partai Keadilan Rakyat dan mengajar di kampus-kampus elite di Inggris dan Amerika Serikat. Pada pemerintahan Malaysia, dia pernah mengisi kursi Wakil Perdana Menteri Malaysia antara 1993-998. Dia juga pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan, Pertanian, Pendidikan, serta Menteri Pemuda dan Olahraga.
Kini ia telah kembali ke panggung politik yang telah membesarkan namanya. Akankah ia berhasil menggeser Abdullah Ahmad Badawi dari jabatan perdana menteri. Sang waktu jua yang akan menjawabnya.*

Leave a comment