Melawan Islamophobia di Negeri Hitler

Tak semua masyarakat Eropa alergi terhadap Islam. Di Jerman, warga Kristen justru menolak kongres anti-Islam yang digelar kelompok Pro Koln. Bagi mereka, Pro Koln tak lebih dari sekumpulan kaum rasis.

Ribuan warga Jerman turun ke jalan-jalan Cologne, kota di sisi Barat Jerman, akhir September lalu. Mereka berunjuk rasa menentang kongres anti-Islam yang digelar kelompok ultra kanan Eropa, Pro Koln. Aksi protes ini melibatkan masyarakat Jerman dari berbagai lapisan, mulai dari aktivis gerakan anti-rasisme, tokoh-tokoh gereja, pengusaha, mahasiswa dan persatuan-persatuan perdagangan.

“Kami di sini untuk memperlihatkan kartu merah terhadap rasisme,” ujar Walikota Cologne, Fritz Schramma, yang ikut dalam aksi tersebut. Ia mengutuk Pro Koln yang mengorganisasi kongres dan menyebut pertemuan itu sebagai tindakan rasis dan penyulut kriminalitas yang bersembunyi di balik gerakan warga. “Ekstremis dan orang-orang rasis tidak diterima di sini,” tegas Schramma.

Sambil membawa spanduk berbunyi “Kami Adalah Cologne-Menyingkirlah Nazi” para pengunjuk rasa berkumpul di luar katedral kota untuk menunjukkan penolakan terhadap kongres. Beberapa pendemo juga membawa pamflet lain bertuliskan “Nazi Keluar dari Cologne”, “Kuil, Sinagog, Gereja dan Masjid, semuanya OK”, “Tidak Terhadap Rasisme”, dan “Cologne Memberontak”.

Mereka memang bertujuan mengganggu kongres Pro Koln dan memastikan sekitar 50 delegasi dan peserta membubarkan diri. Kongres tiga hari yang dibuka Jumat (19/9) itu menghadirkan 150 politisi ekstremis kanan, penulis, pengusaha dari seluruh Eropa untuk memprotes kehadiran Muslim di Benua Biru.

Perlawanan warga Cologne terhadap kaum anti-Islam ini tidak hanya dalam bentuk demonstrasi, tapi juga dalam jual-beli. Sekitar 150 bar di Cologne misalnya, menyetop penjualan bir Kolsch yang terkenal kepada anggota Pro Koln.  “No Kolsch for Nazis,” begitu tulis sebuah spanduk.

Sebanyak  200.000 tatakan gelas minum dicetak dengan tulisan yang sama. Tidak hanya itu, sejumlah taksi dan pengemudi bis menolak mengantarkan delegasi menuju arena kongres. Bahkan salah satu hotel membatalkan booking kamar dengan alasan “tidak diinginkan”.

Fritz Schramma adalah pemimpin dewan kota yang baru-baru ini memberikan lampu hijau konstruksi bangunan yang bakal menjadi salah satu masjid terbesar di Eropa. Ia mengundang seluruh warga kota untuk memberikan “peringatan” kepada para anggota ultra kanan.

Polisi Jerman akhirnya melarang kongres tersebut karena aksi demonstrasi berakhir rusuh.  Hanya beberapa saat sebelum kongres dimulai, bentrokan terjadi antar pihak berlawanan. Akibatnya, sebanyak delapan  orang polisi dan puluhan pendemo menderita luka-luka. Sekitar 500 orang pendemo yang diduga melakukan aksi anarkis ditahan polisi.

Larangan yang ditetapkan polisi tersebut membuat pendemo senang. “Ini kemenangan bagi Kota Cologne dan kemenangan bagi kekuatan demokrasi di kota ini,” ujar Walikota Schramma kepada kantor berita DPA (Deutsche Presse Agentur).

Namun, tidak demikian dengan Pro Koln, mereka memprotes keputusan polisi tersebut dan melakukan unjuk rasa tandingan. “Ini sangat diktator,” kata Andreas Molzer, anggota Parlemen Eropa dan kelompok ultra kanan Austria. Molzer bahkan menyebut pelarangan kongres itu sebagai “skandal anti-demokrasi”.

Menurut kepolisian Jerman, massa yang berkumpul menentang Pro Koln sekitar 40 ribu orang. Sementara aksi yang dilakukan Pro Koln hanya diikuti oleh segelintir orang saja. Meski telah dilarang secara resmi, Pro Koln masih mengharapkan 1.500  orang akan hadir pada kongres yang membahas penentangan masjid dan invasi imigran Muslim ke wilayah Eropa tersebut.

Walau Islam adalah agama terbesar kedua di Eropa, Muslim Eropa sering menghadapi propaganda golongan ultra kanan yang mengklaim keberadaan masjid adalah tanda Islamisasi Eropa.

Penolakan masjid

Kongres anti-Islam ini dipicu oleh rencana pembangunan masjid di Kota Koln. Walau gerakan ini menyebut dirinya Pro Koln, mayoritas warga Kota Koln menentang kelompok tersebut. Ratusan poster yang tersebar di kota menyerukan aksi perlawanan pasif.

Sejumlah organisasi massa secara spontan menggelar aksi tandingan dengan menyelenggarakan seminar anti gerakan kanan. Perhimpunan warga Muslim mengumumkan unjuk rasa damai di lokasi pembangunan masjid yang baru. Kemudian muncul Inisiatif Kristen-Muslim yang menyerukan oposisi terbuka bagi aksi kelompok kanan.

Pakar ekstremisme, Wolfgang Kapust, menyebut Pro Koln sebagai kelompok radikal kanan. “Ini tampak dari biografi para pemimpin mereka. Sebagian adalah bekas anggota Partai NPD (Partai Nasionalis Jerman), dan sebagian lagi penggagas “Liga Jerman untuk Rakyat dan Tanah Air”. Semua organisasi ini terkenal karena posisi mereka yang ekstremis kanan, rasis, anti warga pendatang dan rasa nasionalisme berlebihan,” paparnya.

Sebagian anggota Pro Koln juga aktivis yang diidentikkan dengan gerakan neo-NAZI. Kelompok ini menjadi salah satu kelompok yang diawasi badan intelijen Jerman karena aktivitasnya melakukan provokasi dan kerap melontarkan fitnah terhadap warga minoritas di Jerman, utamanya Muslim.

Menurut agen intelijen Jerman, Pro Koln telah mengundang 1.000 ekstremis sayap kanan untuk hadir di kongres tersebut, diantaranya adalah para politisi sayap kanan ekstremis dari Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Austria, Belgia, Inggris, Spanyol dan Italia. Fokus utama Pro Koln adalah penentangan mereka terhadap rencana pembangunan masjid bagi sekitar 150.000 penduduk Muslim Cologne. Pro Koln memiliki 5 kursi dari 90 anggota dewan kota Cologne.

Sebulan sebelum acara kongres anti-Islam ini digelar, Organisasi Konferensi Islam (OKI) telah mendesak seluruh lapisan masyarakat Jerman untuk menentang acara tersebut. Menurut organisasi negara-negara Islam yang bermarkas di Jeddah, Arab Saudi ini, kongres tersebut bertujuan untuk memicu sentimen anti-Muslim di Eropa. “Motivasinya adalah rasa kebencian,” kata OKI dalam siaran persnya, (09/8).

Dalam pernyataannya, OKI juga mengingatkan masyarakat Jerman bahwa kongres anti-Islam akan merusak hubungan yang harmonis antara para penganut agama yang berbeda di Jerman. Kongres itu berpotensi menimbulkan ancaman terhadap hubungan yang damai dan harmonis di tengah masyarakat. Oleh sebab itu, OKI yang beranggotakan 57 negara Muslim menyerukan agar seluruh masyarakat Jerman menentang pelaksanaan kongres tersebut.

Jerman kini menjadi tempat tinggal bagi sekitar 3,5 juta Muslim, dan merupakan negara Eropa dengan populasi Muslim terbesar kedua setelah Perancis, sekitar 2,5 juta di antaranya adalah Muslim Turki.

Di era demokrasi dan beradab seperti saat ini, bukan masanya lagi menunjukkan antipati terhadap pemeluk agama lain. Kecuali, jika Hitler hidup kembali.*

Posted in

Leave a comment