Mahasiswa sebagai generasi muda calon pemimpin bangsa kini lebih banyak berprestasi di bidang tawuran dibandingkan prestasi lainnya. Saatnya bangkitkan semangat pemuda yang lebih berdaya guna.
Malam Kamis itu, Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar terlihat sibuk bukan kepalang. Tim dokter tampak berusaha keras menyelamatkan nyawa seorang pasien. Leher sang pasien terluka parah kena sabetan parang.
Darah mengucur deras. Sang pasien terluka bukan karena perang atau jihad, apalagi dirampok orang. Ia terluka karena disabet lawannya dalam tawuran di kampusnya, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, sore sebelumnya.
Sang pasien memang mahasiswa Fakultas Teknik (FT) UMI. Ia jadi korban tawuran antar sesama mahasiswa satu kampus. Musuhnya adalah teman-teman sendiri dari Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala). Sebab tawurannya, hanya masalah pemasangan pamflet. Ceritanya, anak-anak Mapala memasang pamflet di kawasan FT.
Sekelompok mahasiswa FT tidak menerima pemasangan pamflet itu sehingga terjadi adu mulut. Walau adu mulut bisa diselesaikan satpam kampus, keesokan harinya tiba-tiba sekretariat Mapala yang tak jauh dari gedung FT diserang anak-anak FT dengan senjata tajam. Karuan saja anak-anak FT berhamburan dan berlarian.
Tak mau kecolongan, anak-anak Mapala balik menyerang anak-anak FT begitu mereka tiba di dekat gerbang kampus. Kesudahannya dapat ditebak, adu fisik dan senjata bak Perang Salib pun terjadi. Hasilnya, ya seperti di awal tulisan di atas, anak FT itu tertebas parang dan masuk rumah sakit.
Inilah berita terkini tentang tawuran mahasiswa yang kerap terjadi di kampus-kampus negeri ini. Tak hanya di kampus-kampus yang terdapat di Makassar seperti UMI dan Universitas Hasanuddin (Unhas) saja, tawuran juga rupanya telah menjadi tradisi di kampus-kampus di seluruh Indonesia. Seolah-olah tanpa tawuran, kurang afdhol rasanya menjadi mahasiswa.
Sebelumnya, pada pertengahan Oktober lalu, tawuran antar mahasiswa terjadi di ibukota Jakarta. Kali ini antara mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) dan Universitas Persada YAI. Penyebabnya, balas dendam. Wuih… nih keren amat, balas dendam! Mirip film-film India, yang tokoh utamanya balas dendam di akhir film dengan membunuh sang penjahat.
Kali ini tawuran kebanyakan dilakukan dengan saling lempar batu. Tentu saja, harus ada korban. Ya, masing-masing kampus menyumbang korbannya sendiri. Sobat Muda, sayang aksi lempar batu ini bukanlah intifadha, di mana anak-anak, para pemuda dan pejuang Palestina melempar batu kepada tentara Zionis Israel demi melawan penjajahan. Lempar batu tanpa sembunyi tangan ini dilakukan demi dendam dan gengsi.
Kekerasan di kampus nampaknya sudah menjadi tradisi dan ibarat penyakit kronis. Anehnya, tradisi tawuran mahasiswa ini mulai semarak justru pasca reformasi 1998. Pada zaman Orba dulu, yang namanya tawuran dapat dihitung dengan jari. Nggak perlu jari kaki lagi, buat nambahin ngitungnya. Cukup jari tangan aja!
Bahkan tahun 2007 lalu, Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI Canberra, Agus Sartono, mendesak tawuran mahasiswa dihentikan karena merusak citra promosi kerja sama perguruan tinggi Indonesia dan mitra mereka di luar negeri seperti Australia. “Saya sudah menyampaikan hal ini kepada delegasi perguruan tinggi Indonesia yang berkunjung ke Canberra,” katanya seperti dikutip Antara.
Pihak KBRI Canberra bahkan meminta para rektor agar memberikan perhatian lebih serius pada aksi-aksi tawuran antar mahasiswa maupun demonstrasi tidak damai yang berujung kekerasan. Kenapa? Supaya citra perguruan tinggi Indonesia semakin baik.
Apalagi saat ini, di mana pemerintah getol-getolnya berupaya mencari dan memperluas kerja sama internasional. Mahasiswa diharapkan tidak hanya mengandalkan kekerasan ototnya, tapi yang lebih penting adalah kualitas otaknya. Buat apa belajar setinggi langit, jika hanya diisi dengan tawuran dan kekerasan.
Selain tawuran, kekerasan dunia kampus yang paling fenomenal menghentak negeri ini adalah kasus STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri) Sumedang, ketika para praja (mahasiswa) senior menyiksa dan mengeroyok praja yunior, yang menyebabkan meninggalnya Wahyu Hidayat, seorang praja yunior.
Kasus yang menggemparkan dunia kampus di akhir 2003 itu benar-benar di luar batas nalar dan kewajaran, di mana aksi kekerasan ‘direstui’ oleh pihak kampus sebagai bentuk dan sistem pendidikan. Aneh bin ajaib! Ada sistem pendidikan tinggi model begini di Indonesia, yang budaya kekerasannya jauh melebihi latihan militer.
Karena tak ingin kejadian terulang kembali, pemerintah kemudian mengganti STPDN menjadi menjadi IPDN (Institut Pendidikan Dalam Negeri). Juga mengganti rektor, sejumlah dosen dan kurikulum. Hasilnya? Sama saja alias sami mawon. Budaya kekerasan di sekolah calon Camat itu masih saja terjadi. Kali ini korbannya bernama Cliff Muntu.
Anehnya, dosen IPDN Inu Kencana Syafei, yang membongkar kasus tersebut malah dipecat dari jabatannya. Weleh, weleh! Karena sering terjadi kekerasan dan banyak mahasiswanya yang jadi korban, beberapa pihak mengusulkan agar IPDN dibubarkan saja dan dihapuskan dari bumi perkampusan di Indonesia. Namun, tampaknya pemerintah masih butuh. Hingga kini IPDN tetap dipertahankan, walau tiap tahun menyerap duit APBN hingga Rp 150 miliar!
Generasi tukang tawur
Lalu kenapa sih generasi muda kita, terutama mahasiswa suka tawuran? Sobat Muda, menurut, pakar kriminologi Universitas Indonesia, Erlangga Masdiana, kekerasan dalam dunia kemahasiswaan sebenarnya tidak hanya terjadi akhir-akhir ini. Dari dulu, kekerasan hampir selalu mewarnai kegiatan perpeloncoan. Tak jarang perpeloncoan mengakibatkan mahasiswa sakit atau meninggal dunia.
“Akan tetapi, kekerasan dalam perpeloncoan itu jarang terekspos ke masyarakat luas. Karena pers sulit menembus dunia kampus. Apalagi urusan perpeloncoan semacam itu adalah urusan internal kampus,” kata Erlangga sebagaimana dikutip Kompas.
Banyak orang bilang bahwa sebagai calon intelektual dan pemimpin bangsa di masa depan, mestinya mahasiswa mempunyai pola pikir dan tindakan intelek. Dalam menyelesaikan persoalan, tidak sewajarnya mereka menggunakan kekerasan dan kekuatan fisik.
Hal ini, kata Erlangga, merupakan perilaku yang menyimpang. “Karena di kampus selalu saja ada individu-individu yang mempunyai kecenderungan berperilaku menyimpang.”
Dalam keseharian, individu-individu menyimpang itu mungkin tidak berpengaruh pada kelompok mahasiswa keseluruhan. Akan tetapi, jika ada kesempatan, individu-individu menyimpang itu bergabung dalam satu kelompok, meskipun jumlahnya tidak besar, perilaku mereka bisa mengganggu kehidupan kampus. Apalagi jika mereka mendapat peluang untuk “berkuasa”.
Tak hanya di dunia kampus, di dunia sekolah menengah, tawuran pelajar justru paling banyak terjadi. Kurun waktu 1997-2002 merupakan periode di mana tawuran antar pelajar menemukan puncaknya.
Mulanya, tawuran pelajar itu hanya terjadi di Jakarta, lalu merambat ke Bekasi, Tangerang dan Bogor. Pemberitaan yang gencar akhirnya membuat tawuran pelajar seolah menjadi tren pelajar di berbagai kota. Bukan hanya di Jakarta dan sekitarnya, tetapi juga di daerah-daerah.
Lalu adakah hubungan antara tawuran pelajar dan tawuran mahasiswa? Erlangga mengatakan tidak mudah untuk mengaitkan hal ini, namun mereka yang dibesarkan dalam subkultur delinquency (kenakalan anak-anak) pada akhirnya memunculkan nilai-nilai sendiri yang bisa jadi berbeda dengan norma yang ada sebelumnya. Salah satunya adalah nilai tentang kekerasan yang sebenarnya merupakan penyimpangan itu, kemudian dianggap lazim. Budaya kekerasan lalu menonjol.
Memang tidak mudah mengubah tradisi tawuran ini, tapi upaya ke arah sana harus secara serius dilakukan lewat sosialisasi dan pendekatan kepada mahasiswa. Departemen Pendidikan Nasional lewat Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) juga harus berperan dalam merombak kegiatan atau kurikulum kampus dan mengeliminasi kegiatan-kegiatan ospek (orientasi pengenalan kampus) yang banyak bermuatan “ritual” berbau kekerasan.
Walau demikian, tak semua mahasiswa doyan tawuran. Masih banyak yang serius belajar, menimba ilmu dan mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan masa depan. “Sehatkan kembali bangsa ini! Kobarkan api semangat pemuda!” bunyi iklan obsesif seorang orator di televisi, sepertinya layak direnungi generasi muda kita. Agar tercipta calon-calon pemimpin bangsa yang kaliber di masa datang.*

Leave a comment