Telah banyak kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Presiden Amerika ke-43 ini. Perang melawan “terornya” telah menyengsarakan jutaan manusia.
George W Bush, Presiden Amerika Serikat (AS) didakwa pengadilan atas tuduhan penghianatan tingkat tinggi (high treason). Dakwaan ini diajukan Kejaksaan Agung Russ Feingold yang menuduh Bush sangat mengetahui bahwa Irak tidak memiliki senjata pemusnah massal, namun memalsukan informasi demi mengejar ambisinya menciptakan perang di Irak.
Hakim Wilayah Federal Michael Ratner menolak permintaan Tuan Bush untuk membela diri. Ratner adalah mantan Presiden Pusat Hak-Hak Konstitusional. High treason biasanya didefinisikan sebagai partisipasi dalam perang terhadap negeri orang lain, berupaya menggulingkan pemerintahannya, mematai-matai militernya, para diplomat, atau badan rahasianya demi mengobarkan permusuhan, atau berupaya membunuh pemimpin negara yang bersangkutan.
Dakwaan penghianatan ini tidak menuntut kompensasi bagi ratusan ribu warga Irak yang terbunuh dalam perang. Diharapkan para anggota keluarga prajurit AS yang gugur di Irak agar mengajukan ribuan tuntutan atas kematian yang tidak sah tersebut…
Demikian tiga penggalan salah satu artikel pada halaman A1 di koran terkemuka AS, The New York Times yang terbit dan beredar di seantero AS, Rabu (12/11) lalu. Sayang, ternyata koran itu adalah edisi palsu, bukan The New York Times yang sebenarnya. Tanggal terbitnya pun ternyata bukan 12 Nopember 2008, namun 4 Juli 2009.
Walau korannya palsu dan terkesan asal-asalan, namun substansi berita tentang Bush sangat menarik perhatian. Bahwa ia layak diajukan ke Mahkamah Kejahatan Internasional atas kejahatan kemanusiaan yang dilakukannya di Irak dan Afghanistan serta negeri-negeri Muslim lainnya.
Sejak Bush mengkampanyekan perang melawan teror pasca serangan 11 September 2001, kebijakan-kebijakan pemerintahan AS telah menimbulkan ketakutan bahkan berbuah invasi yang berakhir dengan penjajahan Irak dan Afghanistan. Keputusan melawan teror ini tertuang dalam Military Order: Detention, Treatment, and Trial of Certain Non-Citizens in the War Against Terrorism, yang diteken Bush tanggal 13 November 2001. Dua bulan setelah serangan terhadap Menara Kembar WTC di New York.
Perang Afghanistan
Tak perlu menunggu lama, Bush langsung mengarahkan moncong senjata para serdadunya ke Afghanistan. Tanpa bukti yang jelas dan akurat, putra George Bush (presiden AS ke 41) ini menginvasi Afghanistan, dengan dalih Taliban telah menyembunyikan dedengkot al-Qaidah, Osama bin Laden, yang ditudingnya sebagai biang kerok tragedi WTC.
Sayang, sejak 2001 hingga kini, Osama belum juga tertangkap. Sementara jutaan warga Muslim Afghan telah menderita luar biasa. Ribuan penduduk Afghan tewas sia-sia akibat kekejaman tentara dan senjata mematikan Negeri Paman Sam itu.
Para pejuang Taliban yang ditangkap dan ditahan di penjara-penjara Afghanistan mengalami penyiksaan dan pelecehan seksual. Pada tahun 2004 Human Rights Watch (HRW) menerbitkan laporan tentang kebrutalan prajurit dan pejabat intelejen AS dalam menginterogasi para tahanan.
HRW mendokumentasikan kasus-kasus penganiayaan yang dilakukan serdadu AS di beberapa penjara di Afghanistan. Penganiayaan itu berupa pemukulan, menempatkan tahanan di tempat yang dingin hingga tidak memperbolehkan mereka tidur. Para tahanan juga kerap ditelanjangi dan menerima pukulan kala diinterogasi. Tak heran, sejumlah tahanan meninggal dunia akibat siksaan yang dialaminya.
Perang Irak
Irak adalah korban kedua dari perang melawan terornya Bush. Dengan dalih menumbangkan Presiden Irak Saddam Husein karena memiliki keterkaitan dengan Osama bin Laden dan memiliki senjata pemusnah massal, Bush mengirimkan ratusan ribu tentaranya ke Negeri Seribu Satu Malam tersebut. Akibatnya, negeri yang menyimpan banyak khazanah peradaban dunia itu pun porak-poranda dibombardir senjata-senjata canggih milik AS.
Saddam pun kalah dan tertangkap, lantas dihukum gantung akhir 2006 lalu. Sementara pasukannya yang tertangkap ditahan sebagai tawanan perang. Kejadian di penjara-penjara Afghanistan terulang kembali di Irak. Para tahanan menjadi korban pelecehan dan penyiksaan. Tak hanya anggota militer atau tentara Irak, pasukan AS juga menangkap dan memenjarakan anak-anak dan remaja.
Irak benar-benar menjadi ladang pembantaian pasukan AS. Badan kesehatan dunia, WHO dalam hasil studi menyebutkan, sejak invasi AS ke Irak pada Maret 2003 sampai Juni 2006, telah menewaskan 151.000 warga sipil. Jumlah korban warga sipil yang dirilis WHO lebih besar dibandingkan jumlah korban menurut perhitungan kementerian kesehatan Irak atau lembaga-lembaga lainnya.
Organisasi HAM Iraq Body Count menyebutkan jumlah korban antara 80.000-90.000 orang. Namun penelitian yang dilakukan Universitas John Hopkins pada tahun 2006 menyebutkan angka 600.000 korban selama tiga tahun invasi AS ke Irak.
Namun penelitian dari salah satu kelompok riset di Inggris memberikan angka yang jauh lebih tinggi, yaitu 1 juta orang. Jumlah tentara Amerika yang menjadi korban sejauh ini sekitar 4.000 orang. Angka-angka statistik lainnya juga sangat menyedihkan. PBB memperkirakan 4 juta orang Irak mengalami kesulitan mencukupi kebutuhan makanan dan 40 persen dari penduduk Irak yang berjumlah 27 juta orang tidak memiliki sumber air minum yang bersih. Belum lagi korban bangunan berupa rumah, sekolah, gedung-gedung pemerintahan dan bangunan lainnya.
Yang paling menghebohkan adalah terungkapnya kekejaman tentara AS di Penjara Abu Ghraib, tempat militer Negara Adi Daya itu menyiksa para tawanan. Kekejaman ini terungkap lewat beberapa foto yang memperlihatkan perlakuan keji militer AS terhadap tahanan Irak.
Foto-foto itu antara lain memperlihatkan para tahanan Irak keadaan telanjang, beberapa di antaranya dengan tubuh bercucuran darah. Ada juga foto yang memperlihat teknik interogasi dengan menggunakan anjing untuk menakut-nakuti tahanan.
Dalam foto-foto yang dipublikasikan koran berpengaruh di AS, Washington Post, juga terlihat bagaimana para tahanan dipukuli dan ditumpuk membentuk piramid lalu diduduki serdadu wanita. Foto-foto penyiksaan di penjara yang terungkap pada tahun 2004 itu memicu aksi protes di Timur Tengah.
Beberapa orang personel dan komandan militer yang terlibat dalam peristiwa keji ini memang telah diproses secara hukum. Namun, semua itu hanya berakhir di tingkat bawah, tidak sampai ke Pentagon dan Gedung Putih yang seharusnya bertanggungjawab penuh atas peperangan di Irak.
Demi minyak
Biaya perang di Afghanistan dan Irak seharga 850 miliar dolar itu memang bukanlah tanpa alasan. Walau tak mendapatkan Osama di Afghan dan senjata pemusnah massal di Irak, Presiden Bush tetap percaya diri tak terpengaruh atas protes dunia internasional. Bahkan ia berjanji akan terus mengirimkan pasukannya ke kedua negara itu.
“Bangsa kita tak memiliki tanggungjawab yang lebih besar selain mendukung pria dan wanitanya dalam uniform (pasukan), khususnya sejak kita dalam perang,” kata Bush sebagaimana dikutip AP, (30/6). “Inilah tanggungjawab kita semua, sebagai bangsa Amerika…”
Kengototan Bush menginvasi Irak ternyata hanya karena minyak. Kini cadangan minyak dunia kian menurun seiringnya dengan meningkatnya permintaan dari negara-negara berkembang termasuk Cina. Untuk itu, AS memutuskan merampas Irak guna mengamankan pasokan minyaknya. Bumi Irak menyimpan cadangan minyak terbesar ketiga di dunia, dan AS berkepentingan menjamin kelancaran pasokannya.
Selama ini kebanyakan minyak AS dipasok dari Kanada, Meksiko dan Venezuela. Langkah terbaik yang harus ditempuh AS guna menjamin pasokannya adalah dengan melindungi peran dolar sebagai cadangan mata uang dunia. Sekitar 3-5 triliun dolar telah disiapkan untuk membeli minyak dalam jumlah dahsyat tersebut. Sebelum invasi, impor minyak AS kurang dari 100 dolar per tahun.
Bahkan di tahun 2006 total impor minyak AS dari negara-negara OPEC hanya sebesar 145 miliar dolar, dan total defisit perdagangannya dengan OPEC sebesar 106 miliar. Tiga triliun dolar akan dibayarkan untuk impor minyak AS selama 30 tahun ke depan, dan rezim Bush tentu saja memperoleh keuntungan dari gemerincing dolar ini.
Selain itu, penjelasan yang paling memungkinkan atas invasi AS ke Irak adalah karena rezim neo-konservatif Bush ingin membela teritori ekspansi Israel. Israel berharap dapat merampas Tepi Barat dan selatan Libanon untuk memperluas wilayahnya.
Rezim kolonial AS di Irak tidak hanya melindungi Israel dari serangan, tapi juga dapat menekan Syria dan Iran agar tidak menyokong Palestina dan Libanon. Perang Irak adalah perang ekspansi teritori Israel.
Kini Amerika sekarat dan berdarah-darah secara finansial namun tetap melindungi sekutu abadinya itu. Perang melawan terornya Bush adalah bualan yang diciptakan untuk melindungi kepentingan AS di Timur Tengah atas nama Israel raya.
Saat ini reputasi George W. Bush kian merosot. Ditambah lagi dengan krisis ekonomi yang melanda negerinya dan kemenangan rivalnya, Partai Demokrat dalam pemilihan presiden awal Nopember lalu, kian menurunkan reputasinya ke titik nadir. Survei yang digelar stasiun televisi CNN mengungkapkan, hanya 24 persen responden yang percaya Bush melasanakan tugas dengan baik berbanding 76 persen yang mengatakan sebaliknya.
Angka popularitas Bush ini turun dari angka 28 persen dalam jajak pendapat CNN beberapa waktu lalu yang diambil antara 31 Oktober dan 1 Nopember. Hasil itu merupakan rekor terendah sejak angka 67 persen milik Harry Truman pada Januari 1952.
Bahkan Gubernur Hong Kong Chris Patten menuding Bush sebagai pemimpin AS terburuk yang pernah ada sepanjang sejarah. “Presiden Bush adalah pemimpin Amerika terburuk yang pernah ada. Namun dia bukan orang yang bodoh,” kata Patten Selasa, (4/11). Kekecewaan utama Patten pada Bush adalah karena sikap temperamentalnya yang menginvasi Irak dan Afghanistan.
Atas kekejaman, penyiksaan dan pembunuhan anak-anak dan warga sipil tak berdosa di Afghanistan dan Irak yang dilakukan tentara AS semasa Bush menjabat sebagai presiden, ia seharusnya dihadapkan pada pengadilan kejahatan perang.
“Kejahatan Bush rangkap tiga,” kata DR Eric Karlstrom dalam artikelnya yang berjudul The Bush Crime Family di Community Currency. “Ia bersalah dan telah melakukan kejahatan tertinggi baik terhadap kemanusiaan maupun kepada rakyat Amerika.”
Sudah waktunya menggiring Bush ke Mahkamah Internasional untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya terhadap rakyat Irak dan Afghanistan. Dan tulisan The New York Times palsu itu bukan hanya isapan jempol semata.*

Leave a comment