Konflik bersenjata di Kongo kian mengenaskan. Selain menciptakan tragedi kemanusiaan, konflik itu juga mengorbankan bocah dan anak-anak. Mereka dipaksa jadi milisi dan berperang demi ambisi segelintir orang.
“Kami dalam perjalanan pulang dari sekolah ketika bertemu para pemberontak. Mereka meminta kami membawa barang-barang dan mengikuti mereka,” kata Jean Vierre, bocah 16 tahun yang tertangkap kala kerusuhan pecah di timur Kongo.
Jean Vierre bukan nama sebenarnya, ia mengganti namanya karena alasan keamanan. Kini ia dalam perawatan seorang ibu angkat di Kota Goma. Vierre ditempatkan di sana oleh lembaga amal Inggris, Save the Children. Namun kisahnya menunjukkan satu tren baru yang meresahkan. Dalam beberapa bulan terakhir, di tengah berkecamuknya perang antara militer Kongo dan pasukan pemberontak, semakin banyak anak-anak yang diculik untuk menyokong milisi.
Jean Vierre berada dalam salah satu kelompok dari sepuluh kelompok anak yang diculik pasukan pemberontak awal Oktober lalu. Ia bersama enam orang teman sekelasnya dan tiga orang guru diculik dalam sebuah usaha terorganisir untuk mendapatkan rekrutmen baru.
“Ketika kami sampai di kamp, para pemberontak memaksa kami masuk militer. Mereka membawa dan melemparkan kami ke dalam lubang. Kami kemudian diberi seragam militer dan harus memakainya,” tutur Jean Claude (juga bukan nama sebenarnya), rekan Vierre kepada BBC. Keduanya pun melarikan diri setelah disekap selama dua hari. Selain keduanya, banyak anak-anak seusia mereka yang juga disekap di kamp pemberontak.
Haguma (bukan nama sebenarnya) juga demikian. Bocah 18 tahun ini diculik dari rumahnya dan dipaksa menjadi milisi. “Mereka menyuruhku bertempur melawan tentara pemerintah,” ujarnya. Pasukan pemberontak menembaknya di desa Mgunga karena hendak melarikan diri. “Setelah tertembak, aku dibawa pasukan pemerintah ke Goma,” kata Haguma.
Rekrutmen paksa terhadap anak-anak untuk dijadikan milisi bukan hal yang baru di Kongo. Pegiat Save the Children, Beverley Roberts mengatakan, kelompok-kelompok milisi bersenjata kini menargetkan seluruh sekolah dan para siswa sebagai sasaran.
“Kami tahu mereka menjadikan anak-anak sebagai kuli dan pekerja kasar, itu hal yang jelas. Tapi kami juga memiliki laporan tentang anak-anak yang kini menenteng senjata. Hal ini sangat menggangu,” katanya.
Jumlah milisi anak ini sangat banyak. Bahkan sebelum krisis bergolak, lembaga-lembaga bantuan memperkirakan 3000 ribu tentara anak di timur Kongo. Kini jumlah itu dipastikan bertambah banyak. Hal ini sangat berbahaya bagi perkembangan psikologis dan mental mereka. Proses penyembuhannya pun dipastikan tidak mudah.
Dengar saja keluhan yang disampaikan John (bukan nama sebenarnya), bocah 15 tahun yang kini masih bertempur bersama pemberontak. “Aku tahu, suatu hari nanti akan mati ditembak atau mati sakit karena tidak obat dan layanan medis. Aku tidak suka semua ini, namun aku tak mampu berbuat apa-apa. Aku hanya menunggu kematian datang agar semua ini berakhir,” ujarnya getir.
Inilah sebagian dampak konflik bersenjata yang tengah melanda Republik Demokratik Kongo, sebuah negara di tengah Afrika. Konflik antara pemerintah dengan kelompok pemberontak ini benar-benar menyengsarakan rakyat sipil.
Selain perang, wabah penyakit dan kekurangan gizi telah mengakibatkan 45.000 jiwa tewas tiap bulannya. Konflik yang berbuntut tragedi kemanusiaan di Kongo telah menelan 5,4 juta korban jiwa dalam kurun waktu hampir 1 dasawarsa terakhir.
Hingga pertengahan November ini saja, lebih dari 250 ribu warga sipil terpaksa meninggalkan rumah mereka agar tak menjadi korban kekerasan kelompok pemberontak. Sebanyak 100 orang lebih tewas jadi korban. Pengungsi yang tinggal sementara di Kota Goma kini kesulitan mendapat bantuan makanan maupun obat-obatan dari lembaga internasional.
Konflik di Kongo tak berbeda dengan yang terjadi di Rwanda pada 1994, karena dipicu perselisihan dua suku utama di negara itu, Hutu (pemerintah) dan Tutsi (pemberontak). Militer pemerintah Kongo, Armed Forces of the Democratic Republic of Congo (FARDC) melawan kelompok pemberontak yang disebut Kongres Nasional untuk Pertahanan Rakyat (CNDP) pimpinan Jendral Laurent Nkunda.
Nkunda mengaku mengobarkan pertempuran untuk membela suku Tutsi atas genosida yang dilakukan pemerintah. CNDP dibantu beberapa kelompok milisi melawan FARDC yang juga dibantu kelompok milisi yang disebut Mai-Mai.
Sekjen PBB Ban Ki-Moon yang mengikuti situasi di perbatasan timur Kongo mengaku prihatin. “Pertempuran yang berlanjut antara tentara Kongo dan CNDP pimpinan Laurent Nkunda menambah penderitaan penduduk sipil dan beresiko memicu konflik lebih luas di wilayah itu,” kata jurubuciara Ban Ki-Moon, Marie Okabe di markas besar PBB di New York.
Ban meminta kedua belah pihak agar bekerjasama melakukan gencatan senjata secepatnya dan menjembatani perbedaan mereka dengan menggunakan cara-cara diplomatik dan cara damai lainnya.
PBB juga telah mengirim pasukan penjaga perdamaian ke Kongo. Pasukan yang disebut MONUC ini berkekuatan besar dengan jumlah anggota mencapai 17.000 tentara. Inilah pasukan penjaga perdamaian terbesar yang pernah dikirimkan PBB. Alam Doss, Kepala MONUC di Kongo mengatakan, PBB telah berupaya menghentikan konflik itu agar tak meluas.
“Kami telah melakukan usaha semampu kami untuk meredakan ketegangan dan menemukan cara untuk memperbarui pembicaraan yang konstruktif,” katanya.
Sementara itu, Badan Pengungsi PBB, UNHCR, yang telah mulai mendistribusikan bahan pangan kepada pengungsi di Kivu Utara, memperingatkan bahwa pertempuran baru dapat menggangu pengiriman pangan. Kivu utara termasuk lokasi pengungsian besar selain di Goma.
Negara-negara Eropa juga turun tangan mencegah meluasnya konflik ke negara-negara tetangga Kongo dengan bertindak sebagai mediator. Menlu Inggris David Milliband dan Menlu Perancis Bernard Kouchner telah tiba di Kinshasa, ibu kota Kongo.
Secara bergantian mereka menemui Presiden Kongo Joseph Kabila lalu mendatangi lokasi pengungsi di Goma sebelum bertemu Presiden Rwanda, Paul Kagame “Kami akan mencoba bernegosiasi di Kinshasa, di Goma dan di Kigali untuk memperbarui kesepakatan guna menurunkan tensi ketegangan. Mudah-mudahan selanjutnya menjadi pemicu negosiasi damai,’’ kata Kouchner.
Utusan khusus PBB, Olusegun Obasanjo juga berada Kongo untuk melakukan perundingan guna menghentikan kekerasan di negara itu. Ia juga bertemu dengan Presiden Joseph Kabila di Kinshasa dan bertemu dengan pemimpin pemberontakan Laurent Nkunda. Obasanjo juga menawarkan gencatan senjata dan perdamaian kepada Nkunda.
Nkunda mengatakan akan menghormati gencatan senjata dan menjamin bantuan kemanusiaan sampai kepada pengungsi. “Hari ini adalah hari yang baik bagi kami semua, karena kami kehilangan banyak orang dan kini mendapat pesan perdamaian. Kami akan bekerjasama dengan misi ini,” kata Nkunda usai bertemu Obasanjo, Ahad (16/11).
Dunia kini menunggu akankah gencatan senjata dan perdamaian dapat kembali ke negeri kaya deposit mineral tersebut. Agar tak ada lagi anak-anak yang dipaksa jadi milisi bersenjata.*

Leave a comment