Tujuh tahun sudah AS menebar petaka di Afghanistan. Tak terhitung jumlah penduduknya yang tewas menjadi korban perang. Tak terkecuali anak-anak.
Lelaki tua itu terus menjerit, “Mereka membunuh anakku… Anakku mati, anakku mati!” dengan suara memilukan. Air matanya mengucur deras. Tubuh kaku anaknya ia gendong sambil berteriak di jalanan.
Sementara itu, para tetangganya berkerumun di dekatnya dan melakukan protes. Mereka melempari polisi Afghanistan dan pasukan koalisi dengan batu. Kerumunan itu juga meneriakkan yel-yel, “Matilah Bush, Matilah Amerika!”
Lelaki itu memasukkan anaknya ke dalam taksi dan membawanya pergi dari tempat kejadian. Bocah malang itu adalah korban serangan membabi-buta yang dilakukan pasukan koalisi pimpinan AS terhadap warga sipil di salah satu sudut Kota Kabul, (23/11).
Tembakan ngawur yang diarahkan kepada penduduk sipil itu mengakibatkan si bocah mati dan tiga orang lainnya terluka. Seperti biasa, militer AS hanya mengungkapkan penyesalan atas apa yang terjadi. Tidak lebih.
Kekerasan terhadap anak-anak semakin meningkat di Afghanistan seiring dengan kian meluasnya serangan terhadap sekolah-sekolah. Selain menjadi korban tembakan peluru tajam, anak-anak ini juga menjadi korban kejahatan seksual. Hal ini terungkap dalam laporan yang dipublikasikan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), beberapa saat setelah serangan di Kabul terjadi.
Laporan tersebut diperoleh dengan cara mengkombinasikan data dari agen-agen PBB yang bekerja di seluruh Afghanistan dengan data laporan tuduhan kekerasan terhadap anak. “Laporan ini menunjukkan bagaimana sulitnya situasi di sana dan dalam beberapa hal, kondisi ini kian memburuk,” kata Hilde F Johnson, Deputi Direktur Eksekutif UNICEF kepada Reuters.
“Kondisi ini berlangsung dalam beberapa fakta berupa serangan terhadap sekolah, pusat-pusat kesehatan dan sejumlah kekerasan seksual terhadap anak-anak yang direkrut menjadi milisi bersenjata,” imbuhnya.
Laporan yang dibuat UNICEF untuk Sekjen PBB Ban Ki-Moon itu juga menyebutkan kasus anak berusia 12 tahun, yang dijadikan sebagai pelaku bom bunuh diri oleh Taliban pada 16 Mei 2008 lalu. UNICEF juga menyatakan bahwa operasi militer Barat telah membunuh lebih banyak lagi anak-anak Afghanistan., merujuk pada serangan udara AS dan antek-anteknya pada July 2008 yang telah membunuh 30 anak dari 47 orang warga sipil tak berdosa.
Selain korban serangan AS, laporan UNICEF itu juga mendomentasikan kasus rekrutmen anak-anak usia 15-17 tahun yang dilakukan angkatan bersenjata Afghan. Anak-anak diculik dan dipaksa bekerja menjadi serdadu, dan kebanyakan terpaksa menerima pekerjaan itu karena kemiskinan.
“Anak-anak yatim atau anak-anak yang berada dalam situasi di mana mereka tidak mendapatkan makanan atau dalam kondisi sangat miskin serta tidak memiliki banyak alternatif, maka akan sangat mudah untuk direkrut,” kata Johnson.
Bacha Bazi
Salah satu perhatian utama UNICEF adalah kejahatan seksual terhadap anak, terutama anak laki-laki. Ada sebuah kontroversi dan tabu di Afghan, disebut tradisi bacha bazi yang secara harfiah berarti “bermain bocah”. Bacha bazi merupakan praktik kuno di mana anak-anak kecil dipelihara sebagai budak seks oleh orang-orang kaya dan berpengaruh.
Pada Juli 2008, utusan resmi PBB untuk anak-anak korban konflik bersenjata, Radhika Coomaraswamy mengatakan, Afghanistan harus menghentikan praktik bacha bazi.
Sekjen PBB Ban Ki-Moon mendesak semua faksi yang bertikai agar segera menghentikan eksploitasi anak-anak. Menurut Ban, masalah-masalah lain termasuk kejahatan seksual terhadap anak, terutama laki-laki, kian meningkatkan kekhawatiran bertambahnya jumlah korban anak-anak.
“AS, NATO dan pasukan Afghanistan harus melaksanakan aturan-aturan yang telah disepakati termasuk memberikan perlindungan terhadap anak,” kata Ban kepada kantor berita AP.
PBB mengakui bahwa pengawasan kejahatan terhadap anak-anak di Afghanistan agak sulit seiring dengan meningkatnya kekerasan dan kesulitan untuk memperoleh dan memeriksa korban dan jumlah saksi mata. Kebanyakan data yang ada tidak dilengkapi dengan usia dan jenis kelamin.
“Laporan itu hanya terfokus pada tindak kekerasan terhadap anak-anak di Afghanistan dan identifikasi pihak-pihak yang berkonflik. Baik aktor negara maupun aktor non-negara, keduanya melakukan pelanggaran,” tegas Ban.
Anak-anak Afghan telah dijadikan serdadu oleh semua faksi selama 30 tahun lebih dalam sejarah perang di negeri itu. Walau pemerintah Afghanistan telah mendemobilisasi 7.444 prajurit di bawah umur pada 2003, namun tidak diimbangi oleh pengawasan apa pun terhadap mereka yang rentan menjadi rekrutmen.
Tudingan adanya rekrutmen anak-anak oleh kelompok bersenjata diterima PBB dari seluruh wilayah Afghanistan, terutama dari selatan, tenggara dan timur yang merupakan wilayah pertempuran terbanyak.
PBB menuding Taliban sebagai pihak yang paling banyak menggunakan anak-anak sebagai pelaku bom bunuh diri. Hal ini disebutkan dalam sebuah studi tentang kasus-kasus serangan bom bunuh diri yang didokumentasikan PBB. “Kebanyakan anak-anak berusia 15-16 tahun ini ditipu, dijanjikan uang dan dipaksa melakukan bom bunuh diri,” papar Ban.
Selain dijadikan martir, ada juga beberapa laporan tentang anak-anak yang dijadikan pembantu pada kepolisian nasional Afghanistan, bahkan direkrut menjadi anggota polisi nasional. Ban Ki-Moon meminta angkatan bersenjata Afghanistan agar mengadopsi prosedur verifikasi batasan usia rekrutmen dan mengambil tindakan yang sesuai untuk meningkatkan perlindungan terhadap anak-anak. “Penyiksaan terhadap anak tidak hanya dibatasi di medan perang saja,” tandasnya.
Afghanistan berbeda dengan negara-negara lain setelah mengalami konflik, yang mana lebih banyak anak laki-laki yang diculik untuk dijadikan “sajian seks” dibandingkan anak perempuan.
Anak-anak Afghan selain terbunuh akibat serangan dan pemberontakan milisi, mereka juga menjadi korban kekejaman militer AS dan pasukan Afghanistan. Menurut data yang dihimpun kantor berita AFP, tahun ini lebih dari 230 sekolah hancur hingga Juni lalu. Dan lebih dari 570 anak kini ditahan di penjara dan beberapa kamp tawanan militer AS.
Menurut Johnson, keruntuhan Taliban telah menciptakan asumsi pada sebagian besar masyarakat, bahwa Afghanistan tengah menghadapi fase baru pasca konflik dan beberapa aspek yang mengakibatkan anak-anak menjadi korban terparah.
“Tapi saya kira harus ada perbandingan realitas yang merangsang semua pihak bahwa ini bukan hanya sebuah masalah. Dan kita harus dapat merespon kemiskinan dalam memverifikasi kejahatan terhadap hak-hak anak di Afghanistan,” katanya.
Derita anak Afghan sepertinya tiada berkesudahan. Selain menjadi korban kejahatan seksual sesama warga Afganistan, mereka juga menjadi korban serangan militer AS dan sekutunya.*

Leave a comment