Petaka Rabu Malam

Ketenangan di kota tempat lahirnya Bollywood, pusat perfilman India itu terkoyak. Rentetan serangan beberapa pria bersenjata menebar maut di keheningan malam. 

Ketenangan suasana Hotel Taj Mahal Palace, Rabu Malam (26/11) itu, berubah petaka. Aroma anyir darah dan kengerian maut meruyak beriringan. Semua bermula ketika sekelompok pria bersenjata otomatis serta granat menyerang lobi dan restoran hotel termewah dan mahal tersebut.

Ratusan tamu yang tengah bersantap dan menikmati malam seketika panik. Mereka langsung tiarap di bawah meja dan bersembunyi di dapur hotel selama sekitar tujuh jam.

“Mereka mencari orang-orang asing yang memegang paspor Inggris dan AS. Kami digelandang ke atap. Tetapi saya berhasil lari lewat pintu darurat ketika sampai di lantai 18,” tutur tamu Hotel Taj warga Inggris, Rakesh Patel kepada The Times of India.

“Mereka sangat muda sekitar 20-25 tahunan dan membawa senjata mesin,” imbuhnya. Selain menembaki orang-orang, kelompok bersenjata itu juga menyandera tamu dan penghuni hotel.

Tak hanya Hotel Taj, kelompok bersenjata juga secara serentak menyerang tempat-tempat keramaian lain seperti Pelabuhan Laut Sasoon, Pantai Mumbai, Stasiun kereta Chhatrapati Shivaji, Kafe Leopold, Rumah Sakit Cama dan Albless, Hotel Oberoi-Trident, Gateway of India (Monumen kunjungan George V dan Ratu Mary), dan Nariman House, kompleks permukiman, pusat bisnis dan peribadatan serta sekolah Yahudi Chabad Lubavitch.

Chabad Lubavitch adalah kelompok Yahudi ultra-Ortodoks yang menyelenggarakan pusat kebudayaan di Mumbai. Chabad juga digunakan sebagai sinagog dan pusat kebudayaan bagi wisatawan Israel dan warga Yahudi setempat. Lima orang Yahudi tewas di sini.

Menlu Israel, Tzipi Livni, mengatakan serangan itu jelas ditujukan kepada warga Yahudi dan orang Barat. “Dunia kita sedang dalam incaran, apakah itu terjadi di India atau tempat lain,” kata Tzipi.

Tak menunggu lama, militer dan polisi India segera mengerahkan kekuatan penuh untuk mengendalikan situasi. Tak ayal, adu tembak dan lemparan granat mewarnai pembebasan sandera yang ditawan kelompok bersenjata di seluruh area yang diserang.

Militer India juga mengepung dan menyerang Hotel Taj selama 60 jam. Sebanyak 195 orang dinyatakan tewas termasuk 27 orang asing hingga tiga hari setelah serangan berlangsung. “Semua operasi telah usai. Semua pelaku teror telah tewas,” kata Kepala Polisi Mumbai, Hassan Gafoor.

Pasukan komando India juga berhasil membebaskan 143 sandera di Hotel Trident-Oberoi. Sandera yang dibebaskan itu terdiri beberapa wisatawan asing dan pengusaha yang diturunkan melalui tangga darurat yang dipenuhi ceceran darah. Dua orang anggota kelompok bersenjata tewas di sini.

Pejabat bencana Mumbai R Jadhav mengatakan, 195 orang tewas dan hampir 300 orang terluka dalam serangan maut itu. Orang asing yang tewas terdiri dari 9 orang Israel, 5 warga Amerika, 2 warga Perancis, 2 Australia, 2 Kanada, 1 Jerman, 1 Jepang, 1 Siprus Inggris, 1 Italia, 1 Singapura, 1 Thailand, dan 1 warga Mauritius.

Adapun aparat kemanan India yang tewas mencapai 15 personel. Sebelas orang penyerang dipastikan tewas dan seorang warga negara Pakistan tertangkap.

Warga Pakistan yang tertangkap ini bernama Azam Amir Kasab berusia 21 tahun. Kepada polisi India, Kasab memberikan keterangan rinci tentang aksinya di Rabu malam itu. Menurut Kasab, Serangan tersebut telah direncanakan secara rapi enam bulan lalu dan ditargetkan untuk membunuh 5.000 orang.

Kasab bersama sembilan temannya telah menjalani latihan pendaratan dari laut secara ketat untuk melancarkan serangan di Mumbai. Awalnya, mereka akan meledakkan hotel Taj Mahal Palace setelah terlebih dahulu membunuh para turis Inggris dan AS serta menahan beberapa sandera.

Namun di luar perhitungan Kasab dan rekan-rekannya, mereka tidak berhasil merobohkan Hotel Taj yang berusia 105 tahun itu dengan bahan peledak plastik karena kokohnya pondasi bangunan hotel. Kasab berpura-pura tewas setelah terpojok oleh serangan pasukan keamanan yang menerobos masuk hotel.

Kasab mengatakan, perintah yang diterimanya adalah menargetkan serangan terhadap warga kulit putih, terutama warga AS dan Inggris. Pria muda ini juga mengaku sebagai anggota kelompok Laskar e-Taiba. Namun kelompok tersebut membantah  terlibat serangan di Mumbai. “Saya telah bertindak benar,” kata Kasab kepada para penyidik. “Saya tak menyesalinya.”

Empat hari setelah serangan Mumbai, Perdana Menteri India, Manmohan Singh mengumumkan pembentukan sebuah badan anti-teror, Minggu (30/11). Hal ini ia katakan pada pertemuan seluruh partai di New Delhi yang digelar untuk membahas langkah-langkah baru memberantas terorisme. “Badan anti-teror akan dikenal sebagai Badan Penyelidik Federal,” kata Sing.

Sementara itu, Pakistan berjanji melakukan tindakan paling keras jika terbukti para pelaku serangan itu beroperasi dari wilayahnya. “Sebagai presiden Pakistan, izinkan saya menjamin kepada Anda bahwa jika ada bukti yang mengarah pada individu atau kelompok di bagian negara ini, saya harus mengambil tindakan paling keras,” kata Presiden Pakistan, Asif Ali Zardari dalam wawancara dengan saluran televisi India CNN-IBN.

Hal ini dikatakan Zardari untuk merespon pernyataan Wakil Menteri Dalam Negeri India, Shakeel Ahmad, yang menyatakan pelaku teror di Mumbai berasal dari Pakistan. Walau demikian India tidak menyebutkan bahwa para pelaku itu mendapat dukungan pemerintah Pakistan.

“Para teroris yang tewas dalam serangan di Mumbai berasal dari Pakistan. Demikian juga satu teroris yang ditangkap dalam keadaan hidup. Namun tidak berarti mereka mendapat dukungan dari pemerintah Pakistan,” kata Shakeel kepada AFP, Senin (1/12).

Penegasan India ini dikhawatirkan akan semakin memperuncing hubungan kedua negara. India dan Pakistan selama ini memang telah terlibat peperangan di daerah perbatasan kedua negara.

Sebelumnya, India menuduh secara terbuka Pakistan terlibat dalam serangan yang disusun secara matang itu. New Delhi pada masa lalu juga menuduh Pakistan dan khususnya badan mata-mata militer Inter Services Intelligence (ISI), telah membantu militan menyerang India, termasuk kedubes India di Kabul awal tahun ini. Kedua negara telah berperang tiga kali sejak memperoleh kemerdekaan dari Inggris 1947.

Kelompok tak dikenal dengan sebutan Deccan Mujahidin mengaku bertanggung jawab atas serangan Mumbai. Walau demikian polisi India menuding Mujahidin India di balik serangan tersebut.

Mujahidin India adalah sebuah cabang dari Student’s Islamic Movement of India (SIMI) yang kerap dituding polisi sebagai pelaku tiap pengeboman besar yang menyerang India, termasuk ledakan komuter di Mumbai dua tahun lalu yang menewaskan 187 orang.

Mujahidin India telah mengklaim bertanggung jawab atas hampir dari semua serangan-serangan terbaru dengan target warga negara dalam kurun 2 tahun belakangan ini. Serangan Mumbai nampak telah terkoordinasi dan direncanakan dengan baik, serta melibatkan sejumlah besar penyerang.*

Posted in

Leave a comment