Dia adalah salah satu pengembara hebat sepanjang sejarah. Dalam pengembaraan tiada henti sepanjang 29 tahun, Ibnu Battuta telah melintasi dua benua dan 44 negara.
Ia menempuh jarak 75.000 mil (120.000 kilometer), tiga kali lebih panjang dari jarak yang ditempuh Marco Polo.
Ibnu Battuta adalah penjelajah yang luar biasa. Perjalanan yang ditempuhnya meliputi Spanyol, Rusia, Turki, Persia, India, China, dan sejumlah negara Muslim lainnya.
Kelebihannya, dia selalu mendeskripsikan kondisi spiritual, politik, dan sosial dari setiap negeri yang disinggahinya. Ibnu Battuta juga berhasil merekam wajah peradaban Timur Tengah pada abad pertengahan.
Sebagai sosok yang memahami dan menguasai Sastra Arab, Ibnu Battuta dapat mengilustrasikan dengan indah kota-kota yang dikunjunginya. Deskripsinya tentang Kota Kairo pada tahun 1326, misalnya, sangat memikat dan puitis.
“Aku bertamu di Kairo, ibunda dari kota-kota dan kursi Fir’aun sang tirani, sang nyonya pemilik wilayah luas nan subur. Bangunan-bangunan tak ada batasnya, tak tertandingi akan kecantikan dan keanggunannya. Tempat bertemunya para pendatang dan yang pulang, tempat perhentian yang lemah dan kuat, di mana berbondong-bondong manusia menyerbu laiknya gelombang laut, dan semuanya tertampung dalam ukuran dan kapasitasnya.”
Seluruh kisah perjalanan dan pengembaraannya, dituturkan kembali oleh Ibnu Battuta dan ditulis oleh Ibnu Jauzi, juru tulis Sultan Maroko, Abu Enan. Karya itu diberi judul Tuhfah al-Nuzzar fi Ghara’ib al-Amsar wa Ajaib al-Asfar (Persembahan Seorang Pengamat tentang Kota-Kota Asing dan Perjalanan yang Mengagumkan), biasa disingkat dan dikenal dengan sebutan Rihla (Perjalanan).

Nama dan kelahiran
Ibnu Battuta yang bernama asli Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim al-Lawati, lahir di Tangier, Maroko, 24 Februari 1304 (723 H). Ia dibesarkan dalam sebuah keluarga kadi (hakim) yang berkedudukan kuat.
Sangat sedikit sumber yang menjelaskan tentang keluarga atau riwayat hidupnya. Rihla merupakan sumber utama untuk mengetahui tentang dirinya, namun ia jarang menyebutkan tentang keluarganya di buku tersebut.
Seperti kebanyakan anak-anak pada masanya, Ibnu Battuta telah memulai pendidikan sekolahnya pada umur enam tahun, dan kehidupan intelektualnya bermula dari al-Qur’an.
Sebagai salah satu dari lima pelabuhan utama sepanjang Selat Gibraltar, Tangier digerakkan oleh kegiatan dan kesibukan inovasi bisnis yang sangat ramai. Tangier tidak terkenal karena ilmu pengetahuan walau termasuk wilayah Maroko.
Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika para pelajar muda berbondong-bondong menuntut ilmu dan melanjutkan pendidikannya di Makkah. Selain dalam bidang akademik, karier Ibnu Battuta juga menunjukkan ketangkasan dan kecerdasan dalam pengembaraan.
Pengetahuan Ibnu Battuta tentang seluk-beluk Bahasa dan Sastra Arab membuat dirinya dikenal sebagai orang yang berpendidikan, walau Tangier bukan merupakan tempat atau pusat pendidikan yang bagus. Selain itu, Battuta juga dikenal ahli dalam ilmu fiqh, ilmu yang didapatnya selama pendidikan sekolah di tanah kelahirannya.
Dan kelana pun dimulai
Tahun 1325, ketika baru menginjak usia 21 tahun, Ibnu Battuta berniat melakukan ibadah haji untuk pertama kalinya ke kota Makkah, sekitar 3000 mil (5000 km) ke arah timur. Tak hanya 3000 mil, ternyata perjalanannya berlanjut hingga sejauh 72.000 mil atau 120.000 kilometer!
Biasanya, usai menunaikan ibadah haji, para jamaah pasti akan langsung kembali ke kampung halaman masing-masing. Namun, itu tidak berlaku buat Battuta. Ia meneruskan perjalanannya menjelajahi negeri-negeri Muslim lainnya.
“Kutinggalkan Tangier, tanah kelahiranku, 13 Juni 1325 untuk melaksanakan ibadah haji ke Makkah… meninggalkan teman-temanku, laki-laki dan perempuan… meninggalkan rumah bagaikan burung yang meninggalkan sarangnya,” kenang Battuta kala beranjak pergi.
Perjalanan haji menuju Makkah ditempuh Ibnu Battuta melalui jalur darat. Dia ikut dalam rombongan beberapa karavan yang menuju Alexandria (Mesir) yang bergerak melintasi Aljir (Aljazair), Tunisia, dan Libya selama berbulan-bulan.
Dalam perjalanan ke Tunisia, dua orang temannya jatuh sakit karena demam, salah satunya meninggal dunia. Ibnu Battuta merasakan kesedihan yang luar biasa karena kesepian.
“… aku merasa sangat sedih di hati lantaran kesepianku sehingga aku tidak bisa mengendalikan air mata yang menetes dan bercucuran. Tetapi salah seorang jemaah haji menyadari penyebab kesusahanku, ia datang padaku dengan hangat dan ramah, dan tetap menghiburku….” tulisnya dalam Rihla.
Itu adalah penyakit “rindu kampung halaman” yang pertama dan terakhir kali dirasakan Battuta. Di Tunisia, Ibnu Battuta bertemu dengan salah seorang sufi yang shalih, Burhanuddin yang dengan ramah menerima dan mengizinkannya tinggal di rumahnya selama tiga hari.
Suatu hari Burhanuddin berkata kepada Battuta, “Aku lihat kau senang mengembara ke negeri-negeri asing?”
“Iya,” jawab Battuta, walau ia belum pernah berpikir akan pergi ke negeri sejauh India dan China.
Burhanuddin berkata lagi, “Kau harus mengunjungi saudara-saudaraku, Fariduddin di India, Ruknuddin di Sind (Pakistan), dan Burhanuddin di China. Ketika kau bertemu mereka, sampaikan salam dariku.”
“Aku kagum pada ramalannya, hanya saja gagasan ke negeri-negeri ini terlintas sekejap dalam pikiranku. Perjalananku tak kan pernah sampai, hingga aku bertemu ketiga orang ini dan menyampaikan salam saudara mereka,” gumam Battuta dalam hati.

Dari Tunisia, Ibnu Battuta bergabung dengan sebuah kafilah menuju ke Alexandria, Negeri Fir’aun. Di Kairo, Dia kerap mencari dan menemui para cerdik pandai dan orang-orang alim. Di sebuah desa bernama Fuwa dekat delta Nil ia tinggal dan berdiam di rumah salah seorang tokoh sufi terkenal, Syekh Abu Abdullah al-Mursyidi.
Kala tertidur tertidur di malam hari beralaskan keset dari kulit di salah satu sudut rumah al-Mursyidi yang sederhana, Ibnu Battuta melihat masa depannya terbentang.
“Aku bermimpi tengah berada pada sayap seekor burung besar yang sedang terbang menuju Makkah, lalu ke Yaman, lalu ke timur, dan sesudah itu ke selatan. Lalu terbang ke timur jauh, dan akhirnya mendarat di sebuah tempat gelap, negeri hijau, di mana ia meninggalkanku….”
Pagi berikutnya, Syekh menafsirkan mimpi itu padaku. “Kau akan menunaikan ibadah haji dan mengunjungi makam Nabi, dan akan berkelana sepanjang Yaman, Irak, Turki, dan India. Kau akan tinggal di sana dalam waktu lama dan bertemu saudaraku, Dilshad, orang India. Siapa yang akan menolongmu dari bahaya yang akan kau datangi?”
“Setelah itu aku pergi meninggalkannya. Tidakkah selama ini aku selalu mendapatkan nasib baik,” ujar Battuta.
Kairo adalah peradaban Muslim pertama yang dicicipi Ibnu Battuta dalam skala besar. Ia memasuki Mesir pada saat di mana penguasa yang bijaksana, birokrasi administrasi yang baik dan ekonomi yang kuat saling meneguhkan satu sama lain dan bersama-sama menciptakan perdamaian, kemakmuran, dan kewibawaan.
Mesir memegang monopoli yang sebenarnya dalam perdagangan dengan Asia, yang kian memperkaya rezim Mamluk, mengembangkan layar-layar kemakmuran kelas menengah, dan memandu laju kapal negara. Bagi anak muda dari Tangier ini, hal itu sangat luar biasa.
Ibnu Battuta melukiskan keindahan Mesir. “Di Kairo terdapat 12.000 alat pengangkut air yang diletakkan di atas unta, 30.000 penyewa keledai dan bagal. Di sungai Nil ada 36.000 perahu milik sultan dan rakyatnya yang hilir-mudik berlayar dari Alexandria dan Damietta membawa barang-barang berharga dan barang dagangan dalam segala bentuk.”
“Di seberang sungai Nil terdapat sebuah tempat yang dikenal dengan sebutan “Taman”, tempat untuk bersenang-senang dan berjalan-jalan yang dipenuhi aneka kebun bunga yang indah, tempat orang-orang Kairo menikmati kesenangan dan hiburan-hiburan…. Sekolah-sekolah sudah tak terhitung lagi…. Rumah Sakit Maristan tak bisa digambarkan keindahannya…”
Walau demikian, Makkah tetap merupakan tujuan utama Ibnu Battuta. Ia berlayar melintasi sungai Nil dan naik karavan ke arah timur menuju Aydhab di Laut Merah, sebuah kota transit “yang airnya payau dan udaranya menyala.”
Sayang, ia hanya singgah sebentar di sana karena klan yang berkuasa tengah mengalami revolusi melawan rezim Mamluk di Kairo. Demi melakukan yang terbaik dari yang terburuk, Ibnu Battuta kembali ke Kairo dan menyeberangi gurun Sinai dengan mengendarai unta. Singgah di Palestina dan Suriah hingga mencapai Damaskus, di mana ia bisa bergabung dengan kafilah haji ke Makkah.

Setelah menghabiskan Ramadhan di Damaskus, Ibnu Battuta bergabung dengan kafilah menuju Madinah. Empat hari lamanya ia berada di Madinah, baru kemudian melanjutkan perjalanan ke Makkah untuk menyelesaikan pelaksanaan ibadah hajinya.
“Kami menyegerakan diri menuju Baitullah…, dan melihat Ka’bah dikelilingi orang-orang yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk melakukan penghormatan… kami mengelilingi Ka’bah tujuh putaran, mencium Hajar Aswad dan meminum air Zam-Zam dan menghampiri Makam Ibrahim….” tulisnya.
Usai menyempurnakan seluruh ritual dan prosesi ibadah haji, Ibnu Battuta tidak pulang ke rumah sebagaimana para jamaah haji lainnya. Ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Irak dan Iran.
Setelah perjalanan ini, Ibnu Battuta kembali ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji kedua kalinya. Ia melintasi Laut Merah dan pantai Afrika Timur. Awalnya, ia berniat berhenti di Aden (Yaman) untuk mengadu nasib sebagai pedagang. Namun, sebelum melakukannya, ia memutuskan untuk berpetualang terakhir kalinya menyusuri pantai Afrika.
Hampir seminggu lamanya dalam perjalanan, ia mengunjungi Mogadishu, Mombassa, Zanzibar, Kilwa, dan lainnya. Karena perubahan musim, ia dan kapal yang dinaikinya kembali ke Arab, menuju Oman dan Selat Hormuz dan kembali ke Makkah.
Pada 1333, Ibnu Battuta melanjutkan pengembaraan lewat darat. Ia menjelajahi stepa-stepa di Rusia Selatan hingga sampai ke istana Sultan Muhammad Uzbegh Khan, Kaisar Mongol di tepi sungai Volga.
Dari Volga, dengan kereta yang berjalan lambat, Ibnu Battuta mencapai wilayah Khawarizm dalam waktu 40 hari. Khawarizm adalah kota oase yang ramai dan kaya, terletak di Laut Aral. Dari Khawarizm, Ibnu Battuta melanjutkan perjalanan ke Bukhara dan Samarkand.

Dari Samarkand, Ibnu Battuta menulis, bahwa dia melanjutkan perjalanan melintasi sungai Oxus, kini Sungai Amu Darya, menuju India. Pada 12 September 1333, setelah perjalanan panjang melewati wilayah Iran, Anatolia dan Asia Tengah, Ibnu Battuta akhirnya singgah di tepi sungai Indus, tepi barat India yang dikuasai oleh Muhammad Shah II, penguasa Islam di Delhi. Di Delhi, Ibnu Battuta menjabat sebagai kadi dengan gaji bulanan 12.000 dirham, dua rumah tinggal dan bonus 12.000 dinar.
Dua tahun kemudian, kekacauan mulai merebak di banyak wilayah India dan pemberontakan merebak di mana-mana tujuh tahun berikutnya. Ibnu Battuta melihat kesultanan Delhi kian tak terkendali dan meminta izin untuk berhaji ke kota Makkah. Alasan haji adalah satu-satunya cara halus untuk mundur dari jabatannya sebagai kadi.
Namun, pada saat-saat terakhir, justru sultan memintanya untuk memimpin 15 orang perwakilan ke China dan beberapa kapal penuh hadiah kepada kaisar Dinasti Yuan, Toghon Timur. Tentu saja Ibnu Battuta mengambil kesempatan berharga ini karena akan memperoleh kesempatan mengunjungi negeri-negeri lain yang belum dijelajahinya.
Rombongan diplomatik yang dipimpin Ibnu Battuta berangkat pada akhir musim panas tahun 1341 menuju pelabuhan Cambay. Namun, dalam perjalanan mereka diserang oleh pemberontak Hindu yang menguasai daerah-daerah pedesaan India. Ibnu Battuta tertangkap, namun berhasil melarikan diri dan bergabung dengan rombongan yang tersisa.
Sebelum memulai perjalanan ke China, Ibnu Battuta sempat mengunjungi wilayah Samudera Pasai atau Aceh. Dalam catatannya, ia menulis, Samudera Pasai sebagai negeri yang menghijau dan kota pelabuhannya sebagai kota besar yang indah.
Menurut Battuta, saat itu Samudera Pasai merupakan pusat studi Islam di Asia Tenggara. Dia melihat Sultan Mahmud Mallik Zahir sebagai penguasa dan pemimpin Samudera Pasai yang sangat mengedepankan hukum Islam.
Selama 15 hari berada di Samudera Pasai, barulah ia melanjutkan perjalanan ke China. Kunjungannya ke negeri China begitu berkesan dalam dirinya. Walaupun tidak beragama Islam, dinasti Yuan sangat bergantung pada kemampuan pejabat dan penasehat militer Muslim dalam urusan perdagangan.
Ibnu Battuta mencatat, di bawah dinasti ini, para pedagang Muslim memperoleh keistimewaan di sepanjang sungai-sungai dan kanal-kanal di seluruh wilayah kekaisaran China.
Walau terpesona oleh kain sutera dan porselennya, China adalah satu-satunya negeri yang membuat Ibnu Battuta mengalami geger budaya karena melihat orang-orang China menyembah berhala dan memakan daging babi dan anjing.
“Mereka adalah orang-orang kafir yang menyembah berhala dan membakar mayat seperti orang Hindu… memakan daging babi dan anjing dan menjualnya di pasar-pasar,” kata Battuta. Tetapi pada saat yang sama ia memuji China sebagai negeri teraman dan ternyaman di dunia bagi para penjelajah.
Selama berada dalam kelananya, wabah mematikan, The Black Death sedang menyerang seluruh wilayah Timur Tengah, termasuk kota kelahirannya. Ketika ia sampai di Tangier pada 1349, Ibnu Battuta mengetahui ibunya turut menjadi korban wabah The Black Death.
Tak lama kemudian, ia berangkat ke Spanyol. Tiga tahun setelahnya, ia memulai perjalanan terakhirnya menuju Timbuktu, kota yang dianggap legenda oleh bangsa Eropa karena tak ada satu pun orang Eropa yang pernah ke sana. Pada tahun 1354, Ibnu Battuta diminta datang ke kota Fez oleh Sultan Abu Enan.

Rihla
Sultan Abu Enan pula yang menganjurkan Ibnu Battuta agar menuliskan kisah perjalanannya yang sangat mengagumkan. Battuta mendiktekan ceritanya yang ditulis oleh Ibnu Jauzi. Setelah penerbitan Rihla, sangat sedikit tentang kehidupan Ibnu Battuta yang diketahui. Ada yang menyebut ia ditunjuk sebagai kadi di Maroko.
Sejarawan Barat, George Sarton, mengagumi jarak sejauh 72.000 mil melalui lautan dan daratan yang ditempuh Ibnu Battuta. Ahli sejarah lainnya seperti Brockellman menyejajarkan namanya dengan Marco Polo, Hsien Tsieng, Drake, dan Magellan.
Sarjana Ross E Dunn menggambarkan titik waktu karier Ibnu Battuta dalam bukunya, The Adventures of Ibnu Battuta yang terbit tahun 1986.
“Ketika ia meninggalkan Tangier, tujuan satu-satunya adalah Tanah Suci… (tapi) ketika berangkat ke Baghdad bersama para jamaah haji Irak, satu fakta nyata, ia sudah tidak lagi bepergian untuk memenuhi sebuah misi religius atau bahkan menjangkau tujuan tertentu. Ia ke Irak hanya untuk berpetualang….” kata Ross.
Walau Rihla telah beredar secara luas dalam bahasa Arab, terutama di Negeri-Negeri Maghribi, tak banyak orang Eropa yang tahu hingga satu setengah abad lampau. Hal inilah yang menarik perhatian sejarawan Hamilton Gibb, untuk menyingkat dan menerjemahkan Rihla ke dalam bahasa Inggris pada 1958.
Pada 1369, Ibnu Battuta meninggal dunia saat berusia 65 tahun. Maut menjemputnya sekitar 11-12 tahun setelah ia menyelesaikan dikte Rihla. Warisan abadinya dalam sejarah peradaban Islam akan tetap dikenang sepanjang masa.*

Leave a comment