Derita Mantan Tahanan AS

Enam  tahun lebih ia jalani hidup dalam tahanan AS, termasuk lima tahun mendekam di penjara militer Guantanamo. Begitu pulang kampung ke Pakistan akhir 2008, qori ini membawa ‘oleh-oleh’; kaki yang pincang, pendengaran yang rusak dan ketergantungan pada obat.

Bulan Nopember 2008 ia mendapatkan perawatan intensif di Pakistan; seorang ahli bedah mengoperasi telinganya yang rusak, terapis fisik berusaha memperbaiki bentuk tulang belakang punggungnya, dan psikiater mencoba melepaskan ketergantungannya terhadap obat yang selalu dibawanya dalam kantong plastik.

Penyakit-penyakit yang diderita Muhammad Saad Iqbal, nama pria 31 tahun ini, merupakan hasil siksaan yang dialaminya ketika ditahan dan diinterogasi militer AS dalam beberapa penjara. Pengacara Iqbal berencana mengajukan gugatan hukum kepada pemerintah AS atas apa yang dialami kliennya.

Iqbal tidak pernah didakwa atas suatu kejahatan, pun tak pernah divonis bersalah. Ia begitu saja dikeluarkan dari Guantanamo, setelah enam tahun lebih disekap, dengan sebuah penjelasan rutin bahwa yang bersangkutan tidak lagi dianggap sebagai pejuang musuh. Ini merupakan salah satu usaha pemerintahan Bush untuk mengurangi populasi Guantanamo.

“Aku merasa malu melihat apa yang dilakukan orang-orang Amerika kurun waktu itu,” kata Iqbal tentang siksaan yang dialaminya. Iqbal berbicara panjang lebar untuk pertama kalinya kepada koran The New York Times. Salah satu interview ia lakukan dari tempat tidur di ruang perawatan rumah sakit di Lahore, Pakistan.

Iqbal ditangkap awal 2002 di Jakarta, Indonesia, setelah “membual” kepada laskar-laskar Islam bahwa ia tahu cara membuat bom. Ia juga mengaku telah bertemu dengan Osama bin Laden. Hal ini dikatakan oleh orang pejabat senior AS di Jakarta pada waktu itu.

Iqbal menyangkal pernah membuat pernyataan tersebut, namun dua hari setelah penangkapannya,  CIA (Central Intelligence Agency) membawanya ke Mesir. Setelah itu dia dibawa terbang ke penjara AS di Bagram Afghanistan, kemudian terakhir mendekam di Guantanmo.

Laporan-laporan tentang Iqbal tak bisa dibenarkan secara independen. Dua orang pejabat senior AS mengatakan, Iqbal “disumbang” dari Indonesia, tapi keduanya tidak mau berkomentar atau mengkonfirmasi detil apa saja yang terjadi atau perlakuan yang Iqbal terima di penjara.

Sebagaimana biasa, Pentagon dan CIA menyangkal adanya siksaan terhadap tahanan. Adapun lembaga-lembaga diplomatik AS, pejabat militer maupun intelejennya, sepakat akan berbicara tentang kasus ini hanya pada kondisi anonim karena files-nya yang bersifat classified (rahasia).

Setelah “dijemput” di Jakarta, Iqbal kemudian diinterogasi selama dua hari. Pejabat berwenang AS kemudian secara umum menyimpulkan bahwa dia adalah seorang pembual dan harus dilepaskan. “Dia hanyalah tukang oceh,” kata salah seorang pejabat senior AS. “Dia ingin meyakini bahwa dirinya lebih penting dibanding kenyataan.”

Tidak ada bukti bahwa Iqbal pernah bertemu Osama bin Laden, atau pernah ke Afghanistan. Namun karena atmosfer ketakutan dan paranoia yang dialami AS, secara diam-diam Iqbal digelandang ke Mesir guna penyelidikan lebih lanjut.

Iqbal mengaku dipukuli, dibelenggu secara ketat, dan wajahnya ditutupi kerudung. Pemuda itu juga dicekoki narkoba dan disetrum. Dan karena menyangkal pernah bertemu Bin Laden, selama enam bulan jatah tidurnya dikurangi. “Mereka membuatku buta dan berdiri sepanjang hari,” ujarnya.

Pentagon dan CIA memiliki kebijakan untuk tidak membicarakan masalah para tahanan, tapi jurubicara CIA Paul Gimigliano mengatakan, program badan penahanan teroris telah menggunakan cara-cara yang sah menurut hukum dalam melakukan interogasi.

“Yang ditinjau dan disetujui oleh departemen kehakiman dan dilaporkan kepada kongres,” katanya kepada The New York Times.

“Orang ini (Iqbal), dari laporan yang sudah saya dengar, mengatakan sesuatu yang samasekali berbeda. Saya tidak tahu apa yang ia bicarakan. Amerika Serikat tidak melakukan atau memaafkan siksaan,” kilah Gimigliano.

Bertemu FPI

Iqbal menuturkan, dirinya ke Jakarta November 2001 dalam rangka perjalanan pribadi; memberitahu ibu tirinya, bahwa suaminya (ayah Iqbal) telah meninggal dunia di Pakistan karena stroke. Menurut laporan mahkamah tribunal Guantanamo 2004, di Jakarta Iqbal bertemu dan bergaul dengan laskar-laskar FPI (Front Pembela Islam). FPI adalah ormas Islam berbasis urban yang tidak dilarang di Indonesia, dan juga tidak ada hubungannya dengan serangan-serangan teroris.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa di hadapan mahkamah tribunal Guantanamo, Iqbal mengatakan pada teman-teman barunya (laskar FPI) bahwa ia bisa membuat bom yang dapat dimasukkan ke dalam sepatu. Namun, Iqbal menyangkal laporan tersebut. “Ada orang lain yang membual tentang hal itu,” katanya.

Bagaimanapun juga, percakapan itu telah menarik perhatian badan intelejen Indonesia. Intelejen Indonesia kemudian memberikan informasi tersebut kepada CIA di Jakarta. Akibatnya, Iqbal ditangkap di kamar kosnya menjelang Subuh, 9 Januari 2002.

Iqbal menerima siksaan fisik pertama kali di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, sebelum masuk pesawat dengan dibelenggu dan mata ditutup kain. “Seorang agen Mesir datang lalu memukul dadaku dengan sangat keras. Ia mencengkeram dan membantingku ke dinding. Mereka kemudian menelanjangi dan menyiksaku,” tuturnya.

Iqbal mengaku tahu penyerangnya adalah orang Mesir dari logat Bahasa Arab-nya. Iqbal dibawa terbang dari Jakarta ke Kairo dengan menggunakan pesawat CIA. Selama penerbangan ke Kairo itu ia mengalami pendarahan di hidung, mulut dan telinga.

Dia tak bisa bergerak karena dibelenggu dengan ketat di sekujur tubuhnya. Ketika pesawat telah mendarat, ia diberitahu bahwa kini sedang berada di Kairo. Di Negeri Piramid itu Iqbal disekap selama 92 hari dan diinterogasi selama 12 hingga 15 jam di berbagai kesempatan.

Dalam sebuah interogasi, Iqbal ditanya kapan ke Afghanistan dan bagaimana ia bertemu dengan Bin Laden? Ketika menjawab bahwa ia tidak pernah ke Afghanistan dan tidak pernah bertemu dengan Osama, sang interogator langsung menyetrum tubuhnya.

“Aku menangis dan berteriak,” ujar Iqbal. “Mereka juga menyetrum otakku dan memaksaku meminum cairan yang dicampur obat… jadi kau tidak tahu apa yang kau katakan.”

Menjelang April, Iqbal dibawa terbang ke Bagram, sebuah pangkalan udara AS di Kabul. Ia ditahan di penjara militer itu selama hampir setahun. Selama itu ia dibelenggu dan dikurung di sebuah kandang kecil bersama tahanan lainnya.

Begitu tiba di Guantanamo, 23 Maret 2003, Iqbal diperlakukan bak orang buangan oleh para napi lainnya karena ia belum pernah dilatih di Afghanistan. Hal ini dituturkan oleh Mamdouh Habib, seorang warga Australia yang menjadi temannya. “Iqbal sangat depresi dan pernah mencoba gantung diri hingga dua kali, juga melakukan mogok makan sebanyak tiga kali,” kata Mamdouh.

Menurut Dr Ronald L Sollock, pemimpin Rumah Sakit Angkatan Laut di Guantanamo Bay, April 2007, dari hasil diagnosa, gendang telinga kiri Iqbal pecah dan berlubang. Ia juga menderita radang kulit telinga kiri bagian luar dan bagian tengah. Ia juga diharuskan mengkonsumsi obat antibiotik. Pada saat pulang ke Pakistan, Iqbal kian tergantung pada sejumlah “daftar panjang obat-obatan”.

Kasus Iqbal kini sedang disidangkan di pengadilan AS. Pengacaranya,  Richard L Cys, yang mengunjunginya di Guantanamo, berencana menggugat pemerintah AS karena penahanan yang sewenang-wenang terhadap Iqbal. Cys juga telah mengajukan gugatan pada pengadilan federal agar merilis rekam medik Iqbal selama ia ditahan di Guantanamo.

Kini sang qori’ telah kembali ke negerinya, Pakistan. Keinginannya sederhana, kembali mengajar al-Qur’an di kampungnya. “Sangat gampang bagi AS mengatakan tak ada tuntutan yang ditemukan,” ujarnya. “Namun, siapa yang bertanggungjawab atas tujuh tahun hidupku?”

Pemerintahan presiden terpilih AS Barack Obama dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk menutup Guantanamo karena maraknya kasus penahanan dan penyiksaan ilegal yang dilakukan terhadap para tahanan.*

Posted in

Leave a comment