Memburuknya situasi keamanan di Afghanistan membuat koalisi internasional, gabungan AS dan NATO, pusing juga. Menghancurkan Taliban ternyata tak semudah yang mereka bayangkan, walau didukung puluhan ribu serdadu terlatih.
Presiden AS yang baru, Barack Obama, membuktikan janjinya mengurangi jumlah pasukannya di Irak. Namun, janji itu tetap saja “ternodai” dengan penambahan jumlah pasukan negara Abang Sam itu ke negeri Muslim lainnya, Afghanistan.
Kian gencarnya serangan yang dilakukan Taliban membuat pasukan koalisi internasional, pimpinan AS, semakin kewalahan. Jumlah serdadu AS dan NATO yang tewas bertambah banyak. Lebih dari 295 prajurit koalisi internasional tewas di Afghanistan tahun 2008, dibandingkan tahun sebelumnya yang cuma 230 orang. Data itu belum termasuk data-data tak resmi yang tewas akibat serangan pejuang Taliban yang dilakukan secara sporadis.
Puluhan ribu prajurit koalisi pimpinan AS dan pasukan NATO berada di Afghanistan untuk membantu pemerintahan Presiden Hamid Karzai memerangi Taliban dan gerilyawan al-Qaidah sekutu mereka. Tahun lalu Taliban meningkatkan serangan-serangannya di Afghanistan. Hampir 1.500 warga sipil yang tewas dalam konflik di Negeri Mujahidin itu sepanjang tahun lalu.
Meningkatnya jumlah korban akibat kekerasan yang dituduhkan kepada Taliban di Afghanistan telah membuat sejumlah negara berencana melakukan pengurangan atau penarikan pasukan yang tergabung dalam NATO. Padahal jumlah korban warga sipil yang tewas akibat serangan-serangan ngawur pasukan koalisi justru lebih banyak lagi. Awal tahun ini, belasan prajurit internasional tewas akibat serangan-serangan gerilya pejuang Taliban.
Tak heran jika Obama memberi perhatian lebih pada Afghanistan. Awal pekan kedua Februari ini, pemerintah AS mengirim Richard Holbrooke sebagai utusan khusus ke Pakistan guna menyelesaikan masalah yang membelit Pakistan dan Afghanistan, terkait dengan meningkatnya serangan yang dilakukan Taliban. Kedatangan Holbrooke ke Islamabad adalah untuk membuka dialog guna menyelesaikan masalah yang ia sebut sebagai “kekacauan” di Afghanistan.
Holbrooke mengatakan, ada sedikit kemiripan antara yang terjadi di Afghanistan dan Irak. “Malah, situasi di Afghanistan lebih keras daripada yang terjadi di Irak,” ujarnya sebagaimana dikutip Aljazeera. Untuk menyelesaikan masalah Afghanistan, kata Holbrooke, dibutuhkan sebuah koordinasi yang lebih baik, antara pemerintah AS, NATO dan negara-negara terkait lainnya.
Pada hari yang sama, Presiden Pakistan Asif Ali Zardari dan Perdana Menteri Yousuf Raza Gilani tengah berdebat sengit tentang pertempuran melawan Taliban dan kelompok bersenjata lainnya di provinsi perbatasan Afghanistan-Pakistan. Apa yang terjadi di Afghanistan sangat terkait dengan Pakistan, karena Taliban menjadikan perbatasan kedua negara sebagai basis perlawanan mereka. Inilah yang merepotkan kedua negara bertetangga itu.
Melihat situasi yang kian memburuk, Obama berencana mengirim pasukan tambahan sebesar 30.000 serdadu ke Afghanistan. Namun masih belum jelas, apakah mereka akan ditempatkan di sepanjang perbatasan ataukah harus masuk lebih dalam ke wilayah Afghanistan. Inggris, salah satu negara sekutu utama AS, adalah kontributor terbesar kedua setelah AS dalam koalisi internasional yang memerangi Taliban.
Inggris mengirimkan 9.000 orang serdadunya ke Afghan. Sedangkan, negara-negara anggota NATO lainnya menyumbang pasukan dalam jumlah yang kurang signifikan. Dengan demikian, AS sangat mendominasi pertempuran melawan Taliban tersebut.
Tak heran, jika kondisi ini memunculkan kritik dan pesimisme di sejumlah negara. “Ada ketakutan yang muncul, bahwa operasi ini menjadi perangnya AS ketimbang NATO,” kata Christopher Langton, anggota senior International Institute of Strategic Studies (IISS) yang berbasis di London.
“Dengan kehadiran anggota NATO lainnya dalam melakukan operasi, AS akan terisolasi. Alih-alih menjadi operasi internasional, itu malah menjadi “koalisi kemauan” sebagaimana di Irak. Walau terdapat perbedaan krusial bahwa di Afghanistan misinya mendapatkan mandat dari PBB,” lanjut Langton sebagaimana dikutip The Independent.
Kini, beberapa negara NATO terpecah dan bersilang pendapat dalam hal penambahan jumlah pasukan ini. Kanada, Jerman dan Perancis, secara signifikan menambah jumlah pasukan mereka di Afghanistan sesuai komitmen yang disepakati tahun 2008.
Namun, beberapa minggu lalu, Menteri Pertahanan Perancis, Herve Morin mengatakan, pertimbangan untuk menambah jumlah pasukan saat ini tidak perlu. Demikian pula, Perdana Menteri Belanda, Jan Peter Balkenende, bermaksud mengurangi jumlah pasukannya menjelang akhir tahun ini.
Paul Smyth, Kepala Program Studi Operasional di London’s Royal United Services Institute (RUSI) mengatakan, koalisi internasional di Afghanistan lebih luas dan lebih banyak daripada di Irak, namun dalam beberapa hal akan mengalami tugas yang lebih berat.
“Walau meningkatnya situasi keamanan di Irak dapat memberikan manfaat bagi misi di Afghanistan. Para pejuang Irak tidak memiliki wilayah “surga aman” di perbatasan Iran, sebagaimana yang dinikmati oleh pejuang Taliban di area perbatasan tak bertuan di wilayah Pakistan. Skalanya benar-benar berbeda,” jelas Smyth.
Rekonsiliasi Karzai
Walau didukung oleh kekuatan penuh AS dan NATO, tetap saja pemerintah Afghanistan pimpinan Hamid Karzai tak mampu berbuat banyak dalam menghadapi dan menghentikan serangan Taliban.
Merasa patah arang dalam menyelesaikan masalah negerinya, Sang Presiden pun berencana melibatkan Taliban dalam proses politik dan menyerukan rekonsiliasi. “”Kami akan mengundang semua Taliban yang tidak menjadi bagian dari al-Qaidah, yang tidak menjadi bagian dari jaringan teroris, yang ingin kembali ke negara mereka, yang ingin hidup dengan konstitusi Afghanistan dan ingin menjalani kehidupan normal, untuk mengambil bagian, kembali ke negara mereka,” ujarnya seperti dikutip AFP, Senin (9/2).
Presiden yang dikenal sebagai “boneka” AS itu meminta pejuang Taliban menurunkan senjata dan menghentikan serangan. Ia juga meminta pasukan asing di negerinya agar berbuat lebih banyak lagi guna mencegah jatuhnya korban warga sipil. Banyaknya warga sipil yang menjadi korban aksi “koboi” pasukan AS dan sekutunya tahun lalu, telah menyulut kemarahan besar di seantero Afghanistan.
Banyak pihak yang menilai, rencana rekonsiliasi ala Karzai ini hanya untuk menaikkan pamornya yang telah merosot selama ia menjadi presiden. Apalagi Afghanistan akan menggelar pemilihan presiden bulan Agustus mendatang. Karzai akan mencalonkan diri lagi dalam pemilihan presiden tersebut, namun popularitasnya memudar di tengah tuduhan-tuduhan korupsi pemerintahannya, produksi opium yang meningkat dan perlawanan Taliban yang semakin kuat.
Walau demikian, Karzai membantah jika Afghanistan telah menjadi sebuah negara narkoba atau negara gagal dan menekankan kemajuan besar yang telah dicapai dalam tujuh tahun terakhir. “Ini waktu yang tepat bagi saya untuk menyerukan proses rekonsiliasi,” katanya.
Amerika Serikat dan NATO serta sekutu mereka yang memerangi Taliban di Afghanistan mempunyai reaksi yang berbeda mengenai usulan rekonsiliasi yang digulirkan Karzai. Sebagian besar dari mereka menyatakan menolak berunding dengan militan yang tangannya bernoda darah.
Karzai menyatakan, akan melindungi pemimpin Taliban Mullah Mohammad Omar sebagai imbalan atas perdamaian, tanpa peduli apakah sekutu-sekutu internasionalnya suka atau tidak. Karzai menekan Mullah Mohammad Omar agar menerima konstitusi Afghanistan, sebuah dokumen pro-demokrasi yang disusun setelah pasukan pimpinan AS menggulingkan Taliban pada 2001. Orang kedua Taliban, Ayman Al-Zawahiri mengatakan, upaya Afghanistan untuk berunding dengan kelompoknya menunjukkan kelemahan.
Setelah digulingkan tahun 2001 oleh invasi AS, Taliban yang memerintah Afghanistan sejak 1996, kembali mengobarkan perlawanan. Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom-bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut. Dan akhir-akhir ini aksi-aksi Taliban kian merepotkan AS, NATO dan para sekutunya. Tak heran jika muncul analisa, Afghanistan akan menjadi Vietnam-nya Obama.*

Leave a comment