Gaza

 

Ketika Jakarta dibombardir kembang api dan petasan menyambut tahun baru, Gaza dihujani tembakan pesawat tempur dan tank-tank laknat Israel.

Ketika Jakarta bertabur cahaya dan tawa ria, Gaza dilanda kegelapan dan air mata. Jakarta menghamburkan uang demi kesenangan sesaat. Gaza mengetam duka tanpa jeda.

Malam tahun baru 2009, tepat tiga hari sudah Israel menginvasi Gaza; membantai anak-anak dan wanita, meluluhlantakkan bangunan, menebar maut sesukanya. Dalihnya, Gaza adalah sarang Hamas, sang teroris yang selama ini meneror Israel dengan Katyusha.

Sebuah alasan tak masuk akal, dikemas dalam bungkus elok pembelaan, yang pada dasarnya adalah rencana genosida. Mereka hanya ingin mengusir bangsa Palestina yang tak berdaya setelah puas mencaplok tanah air mereka.

Tak hanya tanah Tuhan yang dijanjikan, tapi pemusnahan orang-orang di atasnya adalah juga kewajiban, demi tegaknya Israel raya. Dan akhirnya, Yahudi-lah sang pemenang di antara tiga “saudara”.

Dunia menyambut gembira tahun 2009, namun Gaza menyambutnya dengan tetesan darah dan air mata. Darah dan air mata orang-orang kalah tanpa pembela. Hatta dari saudaranya sebangsa; kaum Arab.

Sungguh cinta dunia telah membutakan mata, menulikan telinga mereka. Hingga jerit dan kencangnya raung kesakitan dan kematian itu tak mampu menembusnya. Terhalang oleh tingginya tembok-tembok istana yang membentang dari Arabia hingga Yordania.

Darah dan air mata itu hanya mampu menembus tanah, yang meresapnya hingga lenyap tak bersisa. Sebab, suara-suara sudah tak lagi punya makna di antara ruang megah istana para dewa, yang terlena dan mabuk dunia.

Dan di antara raung pesawat tempur dan kilatan api di udara, bocah-bocah tak berdosa meregang nyawa, menggapai pintu Tuhan tak hendak meminta. Mereka hanya bertanya, kenapa begitu cepat Dia hendak bersua? Padahal, masanya di dunia belum lagi purna menjadikannya sesosok manusia.

Rupanya bara dendam dan angkara murka lebih berkuasa ketimbang cinta dan belas kasih. Dan untuk itu, mereka yang harus membayarnya. Sang durjana yang bukan lagi manusia, berkehendak dan memberi titah, melebihi Tuhan keangkuhannya. Seakan dunia hanya miliknya, dan orang lain hanya anjing penjaga.

Namun, kematian yang tak tertunda itu tiada kan sia-sia. Di mata Tuhan ia tetap ada harganya. Yang tak terbeli oleh siapa saja, bahkan sang durjana dan para dewa. Biarlah masa singkat di dunia berlumur lara dan derita, asal bersama Tuhan mencecap damai dan bahagia. Karena kematian mereka tak sia-sia, ia lebih berharga daripada sekadar tanah yang dijanjikan dan istana para dewa.

Sebuah suara bergema dari Amerika, sekutu utama sang durjana. “Kami tak akan menyerah di Gaza, walau kau hancurkan masjid, rumah dan sekolah kami; karena semangat kami tak pernah mati!”

Senandung Michael Heart yang membela Gaza menyeruak di antara keriuhan para pemimpin dunia yang hanya berperang kata. Kata-kata yang tak berdaya dan sia-sia.

Suara musisi itu tak hanya lenguh dan jerit putus asa, namun semangat juang yang mengobarkan perlawanan dan pembelaan. Sebuah ketulusan di tengah sinisme dan euforia kesombongan bangsanya. Suara berbeda yang murni tanpa prasangka, membumbung ke udara berasap pekat di Kota Gaza:

We will not go down in the night without fight

We will not go down in Gaza tonight.*

 

 

Posted in

Leave a comment