Obama, Sama Saja!

Akhirnya “bekas” anak Menteng, Jakarta itu dilantik juga menjadi Presiden AS ke-44. Sebuah peristiwa bersejarah yang menyedot perhatian dunia, untuk pertama kalinya AS dipimpin oleh seorang presiden kulit hitam.

Lebih dari satu juta orang berkumpul di pusat Kota Washington, Selasa pagi itu (20/1). Wajah-wajah mereka dibaluri suka cita mendalam walau cuaca ekstrim menyaputi ibukota AS tersebut. Bagi mereka, selain pelantikan bersejarah presiden kulit hitam pertama, hari itu mereka akan melihat sebuah fajar baru yang mungkin dibawa Barack Obama.

Setelah menanti cukup lama di tengah suhu dingin, massa pun berdiri dan bersorak-sorai ketika iring-iringan rombongan kendaraan yang ditumpangi Obama melintas. “Untuk orang-orang dari latar belakang berbeda, inilah momen yang mengharukan,” kata David Cole, warga Virginia yang sengaja jauh-jauh datang ke Washington.

Bahkan aktor tenar Hollywood berkulit hitam, Denzel Washington, turut bergembira bersama para penggemarnya. “Saya gembira walau kedinginan dan saya merayakannya,” ujarnya sambil terus mengumbar senyum.

Walau dihantam badai ekonomi terparah sejak “The Great Depression” tahun 1930-an, kerumunan massa itu tetap menaruh harapan dan optimisme. “Saya pikir Obama dan pemerintahannya akan berbuat untuk mewujudkan semua mimpi dan aspirasi di Amerika,” kata Patrick Kerans warga West Virginia. “Kami memerlukan tetangga-tetangga lebih baik di dunia.”

Diperkirakan lebih dari 1,5 juta manusia menghadiri pelantikan sang presiden terpilih. Presiden yang pernah menjalani kehidupan masa kecilnya di Indonesia, sebuah negeri Muslim terbesar di dunia.

Pengalaman hidup di Indonesia ini mencuatkan harapan yang demikian besar dari warga dunia, bahwa Obama akan mampu mengubah wajah AS di mata negara-negara Islam. Harapan yang belum tentu benar.

Sikap terhadap Islam

Tentang sikapnya terhadap dunia Islam, dengan lantang Obama berkata dalam pidato pelantikannya, “Bagi dunia Muslim, kami akan mencari cara baru ke depan berdasarkan pada kepentingan bersama dan saling menghormati.”

Menyikapi pidato Obama ini, sikap negara-negara Arab dan Muslim cenderung berhati-hati. Mereka meminta Obama tidak hanya banyak bicara tapi merealisasikan ucapannya.

“Fakta bahwa dia  menyebut umat Islam, memang berarti. Ini menjadi isyarat simbolis bagi dunia Muslim bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat dunia,” kata Hilal Khashan, profesor ilmu politik di American University di Beirut.

Kepala Komite Politik Ikhwanul Muslimin Mesir, Essam el-Erian mengaku sepakat dengan kata-kata Obama, bahwa hubungan dengan dunia Arab dan Muslim harus berdasarkan pada saling menghormati. “Jika sikap ini diterapkan, saya kira akan terjadi transformasi hubungan antara AS dan Arab,” kata Essam kepada Aljazeera.

Komunitas Muslim Inggris yang tergabung dalam Muslim Council of Britain (MCB) juga menilai postif pidato Obama. “Saya harap keretakan antara AS dan dunia Islam yang makin melebar selama delapan tahun terakhir, akan berakhir,” ujar Sekjen MCB, Muhammad Abdul Bani.

Janji Obama kepada dunia Islam memang manis dan cukup melegakan. Namun, dua hari setelah mengucapkan pidatonya, sang presiden menjilat ludahnya tentang janji “kepentingan bersama dan saling menghormati”, karena sikapnya terhadap negara-negara Islam seperti Iran, Palestina dan kawasan Timur Tengah lainnya, tetap tidak berubah.

Dalam pernyataan yang dimuat di situs Gedung Putih Rabu (22/1), AS menegaskan akan menangani masalah Iran secara langsung, keras dan tanpa prasyarat. “Mencari penyelesaian yang menyeluruh dengan Iran merupakan cara terbaik kami untuk menciptakan kemajuan,” demikian pernyataan tersebut.

Obama mengancam, jika Iran tetap melanjutkan sikapnya yang disebut AS sebagai sikap “yang menimbulkan masalah”, maka AS akan mengambil langkah isolasi yang ketat baik dari sisi ekonomi maupun politik. Tentu saja, pernyataan ini tidak menunjukkan sikap Obama yang akan membuka hubungan baru yang saling menghormati dan menguntungkan dengan dunia Islam.

Yang paling gambang lagi adalah sikap Presiden Obama terhadap agresi brutal Israel di Gaza. Sebelum dilantik secara resmi, Obama lebih banyak diam dan mengunci mulut rapat-rapat ketika ditanya tentang krisis kemanusiaan di Palestina.

Ia sama sekali tidak mengecam Israel dan tak menaruh simpati terhadap kaum Muslimin Gaza yang jadi korban kebiadaban Israel. Obama malah mendukung serangan Israel itu yang dianggapnya untuk mempertahankan diri.

Yang lebih menggelikan, justru Obama memerintahkan Hamas menghentikan tembakan roketnya ke wilayah Israel dan menghentikan penyelundupan senjata. “Hamas harus menghentikan tembakan roketnya!” kata Obama.

Ia juga mendukung tuntutan dunia internasional terhadap Hamas agar mengakui Israel, menghentikan kekerasan dan mengakui kesepakatan-kesepakatan damai dengan Israel di masa lalu.

Tentu saja hal ini kian membuat Israel pongah dan congkak. Dukungan AS itu bak durian runtuh yang ditunggu-tunggu. Sehari setelah Obama menyatakan dukungannya terhadap negeri penjajah itu, Perdana Menteri Israel Ehud Olmert mengatakan dirinya berharap negaranya dan AS akan tetap menjadi “mitra penuh” dalam mengusahakan perdamaian di Timur Tengah.

“Kami ucapkan selamat bagi presiden baru dan kami yakin akan menjadi mitra penuh dalam mengusahakan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah,” kata Olmert seperti dilaporkan AFP.

Dengan sikap yang demikian tegas dan gamblang terhadap Hamas dan Israel, masihkah berharap banyak pada Obama? Niat mantan Senator Illinois itu menciptakan perdamaian di Timur Tengah, terutama konflik Israel-Palestina masih setengah hati. Obama tetap menganggap Hamas sebagai kumpulan para teroris dan mendukung penuh agresi Israel.

Hal ini tak mengherankan, mengingat kemenangan Barack Obama juga menjadi lambang kemenangan Yahudi di AS. Tak heran jika dalam kabinetnya, Obama memasukkan beberapa tokoh penting Yahudi AS. Salah satunya adalah Rahm Emanuel yang ditunjuk sebagai Kepala Staf Gedung Putih. Sebuah jabatan sangat vital yang dapat menentukan arah kebijakan AS.

Pada masa kampanye dulu pun, tim sukses Obama dikelilingi orang-orang Yahudi. Salah satunya adalah David Axelrod yang merupakan penasehat senior Gedung Putih dan kepala strategi kampanye Obama.

Menurut, Marc Zell, tokoh Partai Republik yang bermukim di Israel, bukan rahasia lagi jika Obama telah didukung secara finansial dan politik oleh tokoh-tokoh terkenal komunitas Yahudi AS.

“…para pemilih Yahudi akan lebih memercayakan nasibnya dan nasib Israel kepada Obama daripada ke kandidat dari Partai Republik, John McCain,” tulis Zell dalam artikelnya yang dimuat The Jerusalem Post edisi 21 Februari 2008.

Dan memang pada akhirnya Obama mengungguli McCain dengan selisih suara sangat telak. Tentu saja kemenangan ini tak lepas dari kuatnya lobi-lobi politik kaum Yahudi. Tak heran, jika Barack Obama menunjukkan dukungannya terhadap Israel seperti presiden-presiden AS sebelumnya.*

Posted in

Leave a comment