Ponari

 

Ia masih anak ingusan, berusia 10 tahun. Walau bocah, ia telah mampu mencipta legendanya sendiri. Memainkan sebuah lakon yang mestinya didominasi orang dewasa, bahkan kaum tua; menjadi dukun.

Sebuah kerja yang mengisyaratkan beribu makna: mulai dari pudarnya kepercayaan terhadap dunia medis, lekatnya sinkretisme, klenik dan magisme di masyarakat, hingga lemahnya peran agama dalam mengolah keimanan pengikutnya.

Kabarnya, semua bermula dari batu “ajaib” yang muncul dari petir. Sebuah batu keramat yang dapat menghilangkan segala lara dalam raga. Ponari “disambar” gledek dan dituahi mujarabat awal Januari lalu. Dengan batu aneh berbentuk kepala belut sebesar kepalan tangan itu, Ponari menjadi “sakti”.

Kedigdayaan anak Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang itu menyebar cepat bak virus kanker. Orang-orang tumpah-ruah dan berbondong-bondong dalam jumlah ribuan datang meminta pertolongan. Berharap sang bocah dapat menghilangkan derita mereka.

Di tengah mahalnya biaya rumah sakit dan pengobatan modern, pilihan terhadap Ponari bukanlah sebuah khilaf dan salah. Sebab, pemerintah belum mampu menyediakan fasilitas kesehatan yang layak bagi rakyatnya. Orang miskin dilarang sakit, orang miskin dilarang sekolah!

Kata-kata miskin, sakit dan sekolah itulah yang kini “ditelanjangi” Ponari. Mereka yang datang berjubel ke gubuk sederhananya adalah orang “miskin” yang “sakit”, orang miskin yang “tidak sekolah”.

Walau tak satu pun dari mereka yang datang itu mengalami kesembuhan atas penyakit yang dirasa, paling tidak mereka telah menunaikan sebuah misi; menunjukkan “kesakitan” dan “kebodohan” karena “kemiskinan”.

Tak usah terlalu jauh bicara soal syirik, musyrik dan segala derivasinya. Ponari dengan sendirinya juga telah menjungkirbalikkan segala pemahaman keagamaan para pengikutnya. Lantas apa yang perlu dipersalahkan?

Ponari, tentu saja tidak. Ia berada di tengah-tengah, di antara semua bentuk persepsi dan asumsi yang dibuat. Ia tidak tersesat karena berada di tengah-tengah. Ponari tidak memilih atau memutuskan sesuatu atas apa yang menimpanya.*

 

 

Posted in

Leave a comment