Lelaki yang pernah berjuang bersama mujahidin Chechnya ini ditangkap dan menjadi anak buah Presiden Chechnya, Ramzan A Kadyrov. Berupaya membongkar kejahatan mantan bosnya, ia dibunuh di Wina pertengahan Februari lalu, oleh kaki tangan Kadyrov lainnya.
Selasa siang itu, Umar Israilov memasuki sebuah toko bahan makanan dekat apartemennya di Wina, Austria untuk membeli yogurt. Begitu keluar dari toko, ia dicegat oleh empat orang tak dikenal yang telah menunggunya dalam dua buah mobil.
Israilov dan keempat orang tersebut terlibat adu mulut yang cukup sengit. Beberapa saat kemudian, Israilov melarikan diri namun dikejar dan berhasil disusul oleh mereka. Tanpa basa-basi lagi, mereka pun menembak Israilov yang membuatnya tewas seketika.
Umar Israilov adalah pria berkebangsaan Chechnya. Ia pernah berjuang bersama para mujahidin Chechen sebelum ditangkap pasukan pemerintah. Israilov bahkan sempat menjadi pengawal Presiden Chechnya, Ramzan A Kadyrov, sebelum melarikan diri ke Eropa.
Akhir 2006, Israilov mengajukan gugatan pada Pengadilan HAM (Hak Azasi Manusia) Eropa di Wina, bahwa ia telah diculik dan disiksa secara sistematis oleh Kadyrov dan pasukan pengawalnya. Penculikan dan penyiksaan ini bertujuan untuk menghukum apa yang disebut Kadyrov sebagai para pemberontak dan keluarga mereka.
Gugatan yang diajukan Israilov itu mencakup kejadian sejak tahun 2003 sampai 2005, ketika Kadyrov masih menjadi Deputi Perdana Menteri Chechnya. Sayang, gugatan tersebut tak pernah diproses dan dipublikasikan. Gugatan Israilov merupakan gugatan resmi pertama terhadap Kadyrov yang dianggap pahlawan oleh Rusia, karena keberhasilannya meredam aksi serangan mujahidin Chechnya tahun 2004.
Kadyrov sudah lama dituduh kerap melakukan pelanggaran HAM karena menjalankan pemerintahan Chechnya dengan cara-cara mengerikan dan kejam. Namun ia selalu mengelak. Ketika tuduhan-tuduhan tersebut semakin memuncak, ia malah naik ke puncak kekuasaan dan diangkat sebagai Presiden Chechnya oleh Kremlin. Kadyrov memang memiliki hubungan yang erat dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Israilov menerima suaka dari pemerintah Austria, namun hidupnya dipenuhi kecemasan dan kekhawatiran. Dalam sebuah wawancara, ia mengaku membatasi gerakan dan hubungannya dengan orang asing setelah seorang utusan Kadyrov mengunjungi Austria dan mencoba membujuknya pulang ke rumah. “Ramzan adalah orang sangat berkuasa,” kata Israilov. “Dan ia dapat membunuh siapa saja.”
Beberapa hari kemudian kantor berita AFP melaporkan, polisi Austria telah menangkap tersangka pembunuhan Israilov, seorang warga Chechnya bernama Otto K. Namun Otto menolak keterlibatannya dalam penembakan tersebut. “Israilov telah bekerja sebagai bagian dari tim keamanan Presiden Kadyrov, dan layak mati karena telah meninggalkan pemerintah Chechnya yang pro-Rusia,” ujar Otto.
Selain Otto K, kepolisian Austria juga telah menangkap delapan tersangka lainnya. Semuanya warga Chechnya. Lima orang di antaranya ditahan, namun sampai kini tak satu pun yang diajukan ke meja hijau.
Terkait dengan gugatan Israilov, jaksa penuntut Austria menyatakan telah melakukan investigasi tentang keterlibatan Kadyrov yang dikenal sebagai boneka Rusia. Jurubicara jaksa penuntut umum Wina, Gerhard Jarosch mengatakan, investigasi Austria terhadap Kadyrov telah lengkap dan diharapkan hasilnya akan dipublikasikan dalam beberapa minggu ke depan. “Keputusan akhir sedang ditunda, apakah kita akan mendakwa Kadyrov atau menggugurkan kasusnya,” kata Jarosch sebagaimana dikutip AP.
Dalam gugatan tertulisnya, Israilov mengungkapkan sejumlah tindakan brutal Kadyrov dan anak buahnya, termasuk eksekusi terhadap orang-orang yang ditangkap secara tidak sah. Salah seorang yang ditahan, kata Israilov, dipukuli dengan gagang sekop oleh Kadyrov dan Adam Delimkhanov, yang kini menjadi anggota parlemen Rusia. Tahanan lainnya, disodomi oleh petinggi polisi ternama kemudian dibunuh atas perintah Kadyrov.
Kadyrov dan Delimkhanov menolak berkomentar atas tudingan tersebut. Salah seorang jurubicara Kadryrov mengeluarkan pernyataan yang mengutuk tudingan terhadap bosnya dan menyebutnya sebagai sebuah “kampanye skala besar dengan maksud tertentu” untuk mendiskreditkan presiden dan pemerintah Chechnya. “Kampanye itu benar-benar merupakan inisiatif konspirasi beberapa orang penganut ideologi terorisme dan gerakan bersenjata bawah tanah,” kata sang jubir.
Kini Kadyrov menjadi orang yang paling berkuasa di Chechnya. Walau kurang berpendidikan, namun ia memiliki semangat dan keyakinan diri yang tinggi. Ia tidak hanya seorang presiden, namun secara de facto juga menjadi pemimpin angkatan bersenjata dan penguasa aliran minyak. Kadyrov dikenal sebagai pribadi yang boros dan secara resmi mensponsori kebangkitan agama dan kultur lokal Chechnya.
Begitu meraih kekuasaan, Kadyrov mengadopsi Stalinisme, sufisme Islam dan nasionalisme Chechnya untuk mengikis apa yang ia sebut pemberontakan dan menebarkan ketakutan di tengah masyarakat. Sepanjang waktu ia dikritik sebagai bandit Rusia paling kejam. Ia dituding melakukan kejahatan di ibukota, provinsi dan kabupaten, mulai dari pembunuhan, penyiksaan, penculikan hingga prostitusi. Namun ia menolak semua tuduhan tersebut.
Dalam wawancaranya dengan The New York Times tahun 2004, ia kadang-kadang menertawakan para penuduhnya dan selalu menyebut dirinya “prajurit” yang berjuang menciptakan perdamaian. “Saya adalah seorang Muslim,” ujarnya. “Muslim yang baik tidak akan pernah melakukan kejahatan. Ia akan selalu menghadap Allah dan selalu berbuat baik kepada semua orang.”
Kisah sang pengawal
Awal tahun 2003, ketika Israilov menginjak usia 22 tahun, ia bersama para mujahidin Chechnya lainnya tinggal di bunker perlindungan di tengah hutan. Pada tanggal April 15, ia bersama dua orang rekannya ke luar hutan untuk membeli makanan dan ditangkap oleh pasukan Chechnya pro-Rusia.
Dan siksaan pun dimulai. Setelah dipukuli selama dua hari, Israilov dan kedua temannya digelandang ke sebuah klub tinju di Kota Gudermes dan diserahkan kepada Kadyrov. Saat itu pakaian Israilov berlumuran darah, seluruh tubuhnya memar dan hidungya patah. Kadyrov menginterogasinya dan menghadiahinya bogem mentah.
Israilov kemudian dibawa ke Kota Tsentoroi, bekas benteng mujahidin Chechnya. Ia dikurung bersama para tahanan lainnya dalam sel bekas tempat latihan angkat besi. Di tempat itu, para petugas dari FSB (Badan Intelejen Domestik Rusia) memukulnya dan memaksanya mengaku bahwa ia telah membunuh 17 orang. Israilov menolak mengakui perbuatan yang tidak ia lakukan. Kadyrov yang juga hadir pada saat itu hanya diam dan melihat saja.
Tiba-tiba Kadyrov mengambil alih interogasi dan langsung menampar Israilov. Para pengawalnya juga ikut-ikutan menampar wajah Israilov. “Saya dipukuli beberapa kali dalam seminggu hingga tiga bulan lamanya. Siksaan ini dilakukan untuk mengorek informasi tentang mujahidin,” tutur Israilov.
Kaki Israilov juga ditusuk dengan tongkat besi yang telah dipanaskan. Tahanan yang lain, kata Israilov, mengalami perlakuan yang lebih buruk. Pada pekan ketiga dalam tahanan, teman satu selnya, Shamil Gerikhanov, disodomi dengan sekop oleh seorang kepala pengawal.
Pada musim panas 2003, para pengawal membelenggu Israilov di ruang sauna, di mana Kadyrov membuat sebuah penawaran padanya; bergabung dengan pasukan pengawal presiden atau mati. Dengan terpaksa Israilov menerimanya. Kadyrov memberinya sebuah pistol dan Israilov pun mulai bekerja sebagai “kadyrovtsie” alias pasukan Kadyrov.
Sekitar 10 bulan lamanya Israilov bertugas di Tsentoroi. Selama itu pula ia melihat sedikitnya 20 orang ditangkap dan disiksa secara tidak sah. Dan Kadyrov turut serta dalam beberapa interogasi. Kebanyakan yang ditangkap adalah keluarga boyeviki, mujahidin yang disebut Kadyrov sebagai gerombolan pemberontak. “Kadyrov sendiri yang mengatakan bahwa cara terbaik untuk membuat boyeviki keluar dari hutan adalah lewat keluarga mereka,” kata Israilov.
Menurut dokumen pengadilan, awal 2004 Israilov ditugaskan di kampung halamannya sebagai komandan kepolisian setempat. Namun ketika perang antara Rusia dan Chechnya kian bergolak, ayahnya, Sharpuddi Israilov mendesak Israilov berhenti karena pekerjaannya menimbulkan ancaman dari bekas teman-temannya (sesama boyeviki). “Saya katakan padanya agar tidak melakukan pekerjaan yang dapat membahayakan semua orang,” kata Sharpuddi.
Setelah Israilov melarikan diri dari Rusia, Sharpuddi diculik, ditahan dan disiksa oleh Kadyrov secara tidak sah lebih dari 10 bulan lamanya. Beberapa bulan setelah pembebasannya, Sharpuddi, yang telah menerima suaka di Eropa, terbang ke Wina untuk mengurus pemakaman putranya.
Ternyata, dugaan Sharpuddi benar, pekerjaan sebagai pengawal Kadyrov memang mengundang ancaman. Dan putranya, sang pengkritik itu pun menghadap Tuhannya. Sementara Kadyrov, masih kokoh dengan kekuasaannya.*

Leave a comment