Penutupan penjara militer milik AS di Guantanamo mutlak dilakukan, sesuai janji Presiden Barack Obama.
Beberapa pekan terakhir usai mengetahui bahwa penjara tempatnya ditahan bakal segera ditutup, Binyam Mohamad, seorang tahanan berkebangsaan Inggris merasa sedikit terhibur.
Pria yang dituduh menjalani latihan di kamp al-Qaidah di Afghanistan dan dituduh akan mengebom AS dengan bahan radioaktif ini pantas bersyukur. Selain tidak pernah terbukti dan disidang atas kasusnya, Mohamad sebagaimana tahanan lainnya, akan terlepas dari siksa yang dialaminya di penjara angker tersebut.
Selain masalah Guantanamo, pemerintah AS juga berjanji akan meninjau kembali status para tahanan yang dikurung di pangkalan militer AS di Bagram, Afghanistan. Di kedua penjara ilegal ini ratusan orang ditahan karena terkena proyek perang melawan terornya presiden pendahulu Obama, George W Bush.
Salah satu noda Bush adalah menahan orang-orang yang dituding sebagai “pejuang musuh” yang melakukan teror terhadap AS, dengan menahan mereka di Bagram maupun Guantanamo. Merasa ingin memperbaiki citra AS, di awal pelantikannya, Barack Obama berjanji akan menutup penjara Guantanamo. Dan para tahanan yang mendekam di sana akan menghadapi sidang di pengadilan federal AS.
Masih terjadi simpang-siur terkait dengan pemindahan para tahanan “teroris” ini, apakah akan disidang di AS atau di negara-negara asal mereka. Namun, Mahkamah Agung AS memutuskan para penghuni Guantanamo memiliki hak untuk menuntut penahanan mereka di Guantanamo pada pengadilan AS, putusan yang sama juga berlaku bagi para penghuni penjara Bagram.
Walau demikian, militer AS masih emoh jika para penghuni Bagram dipindahkan. Rumi Nielson-Green, jurubicara militer AS mengatakan, para tawanan yang ditahan di Bagram adalah “pejuang musuh yang tak sah”. “Mereka adalah individu-individu yang diciduk dari medan tempur karena mereka berbahaya bagi pasukan kami dan pasukan koalisi,” kata Green sebagaimana dilansir Aljazeera.
Anehnya, di tengah rencananya menutup Guantanamo dan Bagram, Obama juga berencana mengirimkan pasukan tambahan ke Afghanistan sebanyak 17.000 prajurit guna memerangi Taliban. Hal ini ia sampaikan pada sebuah pernyataan yang diumumkannya awal pekan ini.
Amnesti Internasional telah mendesak pemerintahan Obama untuk terus melanjutkan putusannya yang mengubah kebijakan penahanan ilegal yang dilakukan pendahulunya. Lembaga tersebut juga mendesak Obama agar memproses semua tahanan AS di Afghanistan dengan mengikuti kaidah hukum internasional.
“Judicial review (peninjauan kembali) adalah usaha perlindungan mendasar melawan penyalahgunaan eksekutif dan perlindungan terhadap kesewenang-wenangan penahanan rahasia, siksaan, perlakuan menyakitkan dan pemindahan tak sah para tersangka dari satu negara ke negara lainnya,” kata jurubicara organisasi tersebut.
Amnesti Internasional juga menyatakan, sebagian besar tahanan yang berjumlah 615 orang di Bagram, tidak mendapatkan proses persidangan yang legal atau pengacara yang membela mereka. Kebanyakan tahanan tersebut adalah orang-orang Afghanistan, dan mereka telah ditahan selama bertahun-tahun tanpa proses hukum yang jelas.
Sementara itu, Robert Gates, Menteri Pertahanan AS akan meninjau kembali status dan perlakuan terhadap para tahanan AS di Guantanamo. Obama memberikan Gates waktu 30 hari untuk menyerahkan hasilnya dan memerintahkan agar para tahanan Guantanamo diperlakukan sesuai dengan standar hukum internasional.
Binyam Mohamad
Kembali ke Binyam Mohamad, warga Inggris keturuan Ethiopia ini, akan segara dibebaskan atau dipindahkan ke negaranya, Inggris. Menurut koran terkemuka AS, Washington Post, Mohamad akan menjadi orang pertama yang ditransfer dari Guantanamo pada masa pemerintahan Obama.
AS setuju untuk melepas Binyam Mohamad setelah lima tahun lamanya mendekam di Guantanamo tanpa proses persidangan. Menurut Menteri Luar Negeri Inggris, pelepasan Mohamad ini merupakan permintaan formal Inggris kepada Washington sejak tahun 2007 lalu. Pemerintah Inggris meminta lima orang warganya, termasuk Mohamad, yang menjadi tahanan Guantanamo agar dibebaskan dan diproses di Inggris.
Memenuhi permintaan sekutunya tersebut, AS telah membebaskan tiga orang di antaranya. Dan setelah Barack Obama menjadi presiden, usaha ekstra telah dilakukan Inggris guna membebaskan Mohamad. Namun tahanan kelima, Shaker Aamer, diputuskan untuk diproses di AS dan tetap ditahan di Guantanamo hingga waktu yang ditentukan.
Dalam sebuah pernyataan, Menteri Luar Negeri Inggris mengatakan, pemerintah Inggris dan AS telah mencapai kesepakatan dalam masalah pemindahan Binyam Mohamad dari Guantantamo ke Inggris. “Dia akan segera dikembalikan sesegera mungkin setelah kesepakatan dibuat,” demikian pernyataan tersebut.
Pejabat militer AS, Yvonne Bradley yang bertindak selaku pengacara Mohamad di Guantanamo mengaku bahagia. “Saat ini kami sangat gembira. Saya berdebar-debar dia kembali ke Inggris,” kata Bradley. “Keinginannya adalah untuk tinggal di Inggris. Dia bukanlah warga Inggris pertama yang pulang ke rumah dan saya harap dia diperlakukan dengan baik.”
Binyam Mohamad yang ditangkap di Afghanistan tahun 2002 mengaku disiksa dan diperlakukan secara tak manusiawi oleh agen-agen asing selama ditahan. Kata Binyam, ia kemudian diterbangkan ke Maroko dalam sebuah pesawat CIA (Central Intelligence Agency), di mana ia kemudian disiksa kembali sebelum ditransfer ke Guantanamo tahun 2004.
Seperti biasa, Washington tentu saja menolak telah melakukan tindakan ekstra yudisial terhadap Mohamad, dan pemerintah Maroko juga menolak telah menahannya. Mohamad dituduh menjalani latihan di kamp al-Qaidah di Afghanistan dan berencana meledakkan bom radioaktif terhadap kepentingan-kepentingan AS. Sayang, pria 30 tahun itu tidak pernah diadili secara fair dan belum divonis bersalah. Kasus Mohamad mengundang liputan media secara luas di Inggris.
Awal Februari ini, pengadilan tinggi AS memutuskan bahwa dokumen-dokumen yang terkait dengan tuduhan siksaan terhadap Binyam Mohamad tetap dirahasiakan, setelah AS merilis adanya ancaman terhadap kerjasama intelejen antara Washington dan London.
Pemerintah Inggris menjamin Mohamad akan menjadi orang bebas begitu kembali ke negaranya. Status keimigrasiannya juga akan ditinjau ulang.
“Kepulangan Mohamad tidak membutuhkan persyaratan dari menteri dalam negeri. Walau demikian, pertimbangan keamanan lainnya juga akan berlaku terhadapnya sebagaimana yang berlaku terhadap orang-orang asing di negeri ini,” kata jurubicara kementerian luar negeri Inggris.
Para diplomat Inggris dan seorang dokter telah berangkat ke Teluk Guantanamo akhir pekan lalu guna memeriksa kondisi medis Mohamad. Ia melakukan mogok makan selama lebih dari sebulan dan hampir kehilangan nyawanya. Mohamad dibujuk untuk mengakhiri aksinya, dan akan dinilai apakah ia cukup sehat untuk diterbangkan ke Inggris.
Jika cukup sehat, maka ia akan segera pulang ke kampung halamannya setelah hampir lima tahun dikurung di penjara seram, Guantanamo. Dengan ditutupnya penjara terkutuk itu, maka lembar kelam peradaban suatu bangsa akan terkubur pula.*

Leave a comment