Libanon masih disibukkan oleh perdebatan tentang pengadilan khusus di Hague, Belanda. Pengadilan internasional yang akan mengadili para terdakwa pembunuh mantan perdana menterinya. Sementara vonisnya, ibarat panggang jauh dari api.
Setelah proses berkepanjangan selama empat tahun, akhirnya pengadilan khusus untuk mengadili terdakwa pembunuh mantan Perdana Menteri Libanon Rafik al-Hariri, dibentuk di Belanda awal Maret lalu.
Sebagai salah satu pengadilan internasional yang dibentuk berdasarkan pembunuhan mantan perdana menteri itu, pengadilan khusus ini dianggap sebagai preseden yang baik.
Peradilan serupa juga pernah mengadili beberapa terdakwa kejahatan perang dan genosida, seperti di Rwanda dan di negara bekas Yugoslavia. Walau kelihatan aneh bagi orang-orang garis keras Libanon, pengadilan khusus ini memunculkan pertanyaan dan sinisme; urusan politiklah yang memaksa pembentukannya.
Kematian al-Hariri akibat bom mobil, bersama dengan 22 orang lainnya, di tepi laut Beirut empat tahun lalu menjerumuskan Libanon ke dalam krisis politik berkepanjangan. Fraksi-fraksi politik yang memang retak sejak semula terbagi dalam dua kelompok utama, yang pro dan anti-Suriah.
Putra Hariri, Saad al-Hariri, menjadi pemimpin terkemuka “Kelompok 14 Maret anti-Suriah” yang kerap menuding Damaskus berada di balik pembunuhan ayahnya. Sementara itu, dengan dukungan Suriah, kelompok Syiah Hizbullah bergabung dengan partai-partai oposisi menuding hegemoni AS berada di balik semuanya. Hizbullah menilai keputusan membentuk pengadilan khusus itu merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan Libanon dan alat untuk memburu rezim Suriah.
Perdana Menteri populer
Semasa menjabat perdana menteri, Hariri saat itu tampil sebagai pemimpin kaum Sunni Libanon. Ia menjadi representasi Sunni dalam pembagian kekuasaan Libanon sesuai sekte dan mazhab agama.
Pembagian kekuasaan ini berdasarkan kesepakatan tahun 1953 dan diperkuat oleh kesepakatan Taif tahun 1989. Kesepakatan Taif inilah yang mengakhiri perang saudara selama 15 tahun di negara yang terkenal dengan keindahannya itu.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, jabatan presiden dipegang oleh kaum Kristen Maronit, jabatan perdana menteri milik kaum Sunni, dan ketua parlemen jatah kaum Syiah. Pasca usainya perang saudara Libanon tahun 1990, Hariri menjadi perdana menteri paling lama, mulai 1992-1998 dan 2000-2004. Hariri juga dinobatkan sebagai tokoh oposisi oleh kubu anti-Suriah yang kian menguat beberapa tahun terakhir.
Kubu anti-Suriah berhasil memanfaatkan popularitas Hariri di dunia Arab dan internasional. Keberhasilan mereka ada di balik keluarnya Resolusi PBB Nomor 1559 yang menyerukan keluarnya semua pasukan asing dari Libanon. Sebaliknya, kubu pro-Suriah menuding Hariri dan kelompok oposisi lainnya sebagai pengkhianat dan kaki tangan AS, Perancis, dan Israel.
Terkait dengan pembunuhan Hariri, masing-masing pihak berkukuh tidak terlibat. Semua pihak malah saling tunjuk hidung. Israel dan kubu anti-Suriah menuding dinas intelejen Suriah dan Libanon. Sebaliknya, Suriah dan Libanon menuding Israel. Suriah menyangkal segala bentuk keterlibatan dalam pembunuhan al-Hariri tersebut.
Presiden Suriah Bashar al-Assad menegaskan, jika ada tersangka dari Suriah, mereka akan diadili di kampung halamannya. Pernyataan Assad ini kian menambah ketegangan, karena bisa saja pejabat Suriah dijadikan tersangka.
Laporan terakhir komite investigasi internasional di bawah pimpinan Jaksa Penuntut Jerman, Detlev Mehlis, menyebutkan adanya keterlibatan tokoh-tokoh Suriah dalam pembunuhan Hariri. Namun sejak awal 2006, jaksa penuntut berikutnya lebih berhati-hati. Tidak ada bukti apapun yang didapatkan dan dipublikasikan terkait dengan keterlibatan Suriah. Demikian pula, belum ada terdakwa yang disidang.
Pada akhirnya, pengadilan khusus kasus Hariri hanya disambut dengan reaksi sunyi, jika tidak dikatakan apatis. Lembaga peradilan ini hanya muncul di koran-koran sejak Dewan Keamanan PBB secara unilateral menetapkannya pada tahun 2007.
Panitera pengadilan khusus Robin Vincent, awal Februari lalu mengatakan, vonis terhadap terdakwa berkisar antara tiga hingga lima tahun. Hingga kini, ruang sidangnya masih dalam tahap rekonstruksi. Mahkamah Internasional tengah merubah sebuah gedung senam yang biasa digunakan para pejabat Belanda menjadi ruang sidang.
Daniel Bellemare, pejabat Kanada yang memimpin investigasi terbunuhnya Hariri selama bertahun-tahun dilantik sebagai salah seorang kepala jaksa penuntut umum pada sebuah upacara formal di Hague, 1 Maret lalu. Dia juga bertugas menetapkan para hakim yang akan menyidangkan kasus yang menyita perhatian dunia internasional tersebut. Sayang, belum ada bocoran siapa saja yang akan ditunjuk sebagai hakim, karena semuanya masih dirahasiakan.
Satu di antara tugas Bellemare yang paling menonjol dalam beberapa pekan ke depan adalah menyidangkan empat orang jenderal Libanon yang memimpin lembaga-lembaga keamanan ketika Hariri mangkat. Mereka adalah Kepala Intelejen Angkatan Bersenjata Libanon Raymond Azar, Pengawal Kepresidenan Mustafa Hamdan, Direktur Badan Keamanan Internal Ali Hajj dan Kepala Keamanan Umum Jamil al-Sayed, semuanya ditahan pada tahun 2005.
Namun para pengacara mereka mengatakan tidak melihat ada bukti atas tuduhan terhadap keempat jenderal tersebut. Selain itu, tiga orang sipil juga ditahan karena dituduh terlibat dalam kasus tersebut; dua orang Libanon dan satu orang Suriah. Namun mereka dibebaskan dengan jaminan akhir Februari lalu.
Akram Azouri, pembela Jamil al-Sayed, mengatakan kliennya tidak terkait dengan kasus pembunuhan Hariri. Sayed ditahan di penjara Roumieh dekat Beirut karena kasus lain. Azouri berharap sang jenderal dibebaskan dalam waktu dekat.
“Bellemare memiliki waktu dua bulan untuk mentransfer perkara mereka ke pengadilan khusus yang dibentuk. Namun, hingga kini jaksa Libanon menolak karena alasan yurisdiksi hukum dan tidak mau melepaskan mereka,” kata Azouri kepada media Mesir al-Ahram Weekly.
Azouri juga mengajukan permohonan kepada hakim Libanon, Sakr Sakr, agar membebaskan kliennya. “Adalah putusan Libanon untuk menahan para jenderal, tapi statemen resmi mayoritas pejabat pemerintahan menekan pengadilan agar tidak melepaskan mereka (ke pengadilan khusus),” tandas Azouri.
Shafik Masri, profesor pada Fakultas Hukum Internasional di Universitas Amerika Beirut, berharap para jenderal tersebut tidak dibebaskan dalam waktu dekat ini. “Pengadilan akan menganggap mereka tidak bersalah hingga dibuktikan bersalah. Namun jelas, tidak akan ada pembebasan tersangka sebelum itu,” ujarnya.
Sebagian besar orang-orang di Kelompok 14 Maret anti-Suriah kini mengkhawatirkan adanya deal yang dipersiapkan untuk melindungi pejabat-pejabat tinggi Suriah yang bakal diseret ke pengadilan khusus. Tahun 2005, Suriah diisolasi secara luas, termasuk oleh Uni Eropa, karena terbunuhnya Hariri. Kini semua mata memandang pada kartu truf yang dipegangnya di Irak, Palestina, Libanon dan Iran.
Kedatangan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy ke Damaskus September tahun lalu membuka jalan bagi pemimpin-pemimpin Eropa lainnya, termasuk Presiden AS Barack Obama. Apalagi Obama telah berjanji akan melakukan dialog dengan lawan-lawannya, terutama Suriah dan Iran.
Dan jika Eropa dan AS bisa “berdamai” dengan Suriah, maka pengadilan khusus di Belanda kian sulit menjangkau petinggi Suriah yang dituduh terlibat dalam pembunuhan Hariri. Dan vonis yang diharapkan kelompok anti-Suriah, masih jauh panggang dari api.*

Leave a comment