Mantan Telik Sandi Menguak Tabir

Dulunya ia Kepala Agen Rahasia Mantan Presiden Serbia-Bosnia, Slobodan Milosevic. Namun, intervensi CIA (Central Intelligence Agency) membuatnya berpaling muka. CIA menyebutnya telah melakukan “banyak kebaikan”.

Di waktu malam, ketika suasana sepi dan hanya temaram lampu sepanjang jalan yang menjadi sumber cahaya, Taman Topcider di pinggiran Kota Belgrade, Serbia merupakan tempat pertemuan yang sempurna. Apalagi untuk para telik sandi atau agen-agen rahasia.

Di sinilah tahun 1992 silam—ketika bekas negara Yugoslavia itu meledak dalam kekerasan etnis—agen CIA William Lofgren, melangkah ke gazebo taman dan berjabat tangan dengan Jovica Stanisic.

Stanisic adalah Kepala Intelijen Presiden Serbia-Bosnia, Slobodan Milosevic. Ia juga dianggap sebagai otak rezim Milosevic yang telah menciptakan istilah baru bagi dunia, “pembersihan etnis”. Tatapan mata Stanisic sangat dingin. Reputasinya lebih-lebih. Menyeramkan.

Namun, si agen CIA, Lofgren, membutuhkan bantuannya. CIA sama sekali dalam keadaan buta setelah Yugoslavia tercabik oleh perang saudara. Peperangan telah memecah Bosnia-Herzegovina, dan Milosevic dipandang sebagai ancaman bagi keamanan Eropa. Oleh sebab itu, CIA nekat memasukkan agen rahasianya ke pusat huru-hara.

Malam itu pun berlalu, kedua mata-mata sepakat membentuk hubungan gelap yang hingga kini masih tersaput misteri. Selama delapan tahun Stanisic menjadi tokoh utama CIA di Belgrade. Pada tiap pertemuan rahasia yang dilakukan di atas kapal maupun rumah-rumah di sepanjang Sungai Sava, Stanisic membagi informasi tentang orang-orang inti dalam lingkaran Milosevic kepada CIA.

Ia membeberkan lokasi-lokasi sandera pasukan NATO, membantu agen-agen CIA dalam mencari tempat kuburan-kuburan massal, juga membantu dinas rahasia negara Adi Daya itu dalam membangun basis jaringan rahasia di Bosnia. Pada saat yang sama, Stanisic membentuk ‘pasukan maut’ buat Milosevic, yang bertugas melakukan aksi genosida.

Pengadilan Kejahatan Perang (ICC) untuk bekas Yugoslavia, yang didirikan DK PBB 1993 untuk mengadili orang-orang yang bertanggung jawab atas kejahatan dan pelanggaran HAM berat dalam perang Balkan, kini tengah menyidangkan kasus Stanisic. Proses hukum di Hague, Belanda ini dapat menjerumuskan Stanisic ke pengapnya jeruji besi seumur hidup, jika ia terbukti terlibat dalam kejahatan perang dan kejahatan atas kemanusiaan.

Dalam sidang, Stanisic mengungkapkan hubungannya dengan CIA. Anehnya, CIA malah menyerahkan dokumen-dokumen berklasifikasi rahasia kepada pengadilan yang memuat daftar kontribusi Stanisic dan memperlihatkan perannya yang sangat ‘membantu’. Dokumen itu memang masih disegel, namun isinya telah diungkap oleh seorang sumber koran Los Angeles Times.  

Agen Lofgren, yang kini telah pensiun mengatakan, maksud dinas membuat dokumen tersebut adalah untuk menunjukkan “bahwa orang jahat ini telah melakukan banyak kebaikan”. Walau demikian, Lofgren tidak menyangkal segala tuduhan terhadap Stanisic. “Namun selain mendakwanya, ada hal-hal baik yang dilakukan manusia ini untuk menghentikan peperangan dan menciptakan perdamaian di Bosnia,” katanya seolah membela.

Melalui pengacaranya, Stanisic menolak berkomentar karena dilarang berkomunikasi dengan media oleh pengadilan. Namun ia mengaku tak bersalah, dan menolak segala perannya dalam pembentukan pasukan maut dan tidak mengetahui kejahatan yang mereka lakukan.

Upaya-upaya CIA yang menempatkannya dalam posisi tak biasa dalam melakukan tugas-tugas rahasia, menurut seorang saksi, menjadikan Stanisic sebagai terdakwa kejahatan perang. CIA menolak berkomentar tentang dokumen tersebut, dan pengadilan hanya akan memeriksanya dalam sidang tertutup.

Pejabat pengadilan mengatakan, tak jelas apakah dokumen itu cukup signifikan untuk dijadikan pembelaan terhadap Stanisic, ataukah hanya dimainkan untuk mendapatkan hukuman yang lebih toleran jika ia divonis.

Dalam sebuah memo, Stanisic melukiskan dirinya sebagai sosok yang berusaha memoderatkan Milosevic dan orang yang bekerja keras dengan CIA untuk menghentikan krisis. “Saya bekerja sama secara institusional dengan intelijen AS walau terdapat hubungan yang buruk antar dua negara,” tulisnya. “Kolaborasi ini, berkontribusi secara signifikan untuk meredakan konflik.”

Kepala Jaksa Penuntut ICC, Dermot Groome, mengatakan tindakan Stanisic yang membantu CIA dan melawan Milosevic hanya memperlihatkan kekuasaan yang dimilikinya. Dalam kalimat pembuka tuntutannya, Groome berkata, “Kemampuan menyelamatkan nyawa orang, tragisnya, sama dengan kewenangan dan kemampuan yang digunakannya (Stanisic) untuk mengambil nyawa orang.”

Si manusia es

Stanisic bergabung dengan dinas rahasia Yugoslavia pada 1975, ketika negeri itu masih di bawah pemerintahan rezim komunis Josip Broz Tito. Walau tak pernah dianggap sebagai ideolog atau nasionalis fanatik, namun Stanisic memiliki kemampuan luar biasa dalam spionase.

“Stanisic bukanlah pejabat agen intelijen biasa. Ia adalah seorang intelektual dan bukan polisi radikal. Ia terpelajar dan mumpuni, dan ia tahu bagaimana mengendalikan dinasnya,” kata Dobrica Cosic, seorang penulis yang juga penentang Milosevic.

Di masa-masa jayanya, Stanisic pernah memimpin 2.000 orang bawahan. Ia selalu mengenakan pakaian gelap dan kaca mata, laiknya James Bond ala Balkan. Nama samarannya Ledeni, bahasa Serbia untuk “dingin”. Karena kemampuannya ini, Milosevic menunjuk Stanisic sebagai kepala dinas rahasianya, walau terdapat ketidakpercayaan di antara mereka.

Milosevic meraih kekuasaan dengan mengeksploitasi semangat kaum nasionalis dan permusuhan agama. Ia menyebut dirinya sebagai pelindung Serbia, sebuah sikap yang secara kuat mendidihkan rakyat yang masih menandai hari ketika nenek moyang mereka ditaklukkan oleh Turki Utsmani yang Muslim di abad ke-14.

Tahun 1991, ketika kekerasan etnis memanas, Milosevic memerintahkan dibentuknya sebuah unit paramiliter rahasia dengan nama “Red Berets” dan “Scorpions”, yang akan menjelajahi seluruh Balkan. Mereka menggunakan seragam tanpa tanda, dipimpin oleh para penjahat bengis dan melakukan tindakan-tindakan paling keji selama perang.

Dalam persidangan yang berlangsung tahun lalu, Groome menunjukkan foto-foto Stanisic yang berpose dengan para anggota unit khusus tersebut. Pada salah satu foto, Stanisic tampak memainkan alat audio penangkap komunikasi dan berhubungan dengan anak buahnya.

Pada kesempatan lain, Groome juga menunjukkan rekaman video yang menampilkan orang-orang Muslim, dewasa dan anak-anak–tangan mereka terikat kawat–sedang digiring ke arah pepohonan dan ditembak satu per satu oleh anggota Scorpions.

“Jovica Stanisic yang membentuk unit ini,” kata Groome. “Dan Stanisic yakin, mereka memiliki segala yang dibutuhkan, termasuk membersihkan negerinya dari orang-orang yang tak diinginkan dan diperbolehkan membunuh.”

Setelah melakukan aksi kekerasan terhadap Kosovo, Milosevic didepak dari jabatannya tahun 2000. Setahun kemudian ia ditangkap dan dibawa ke Hague, di mana ia menghadapi sidang atas kejahatan perang. Tahun 2006 Milosevic tewas karena serangan jantung. Serangkaian pembunuhan terjadi, di tengah-tengah menguatnya kecurigaan terhadap Stanisic. Ia dituding terlibat dalam pembunuhan-pembunuhan tersebut, apalagi ia masih berkuasa.

Ketika Perdana Menteri Serbia, Zoran Djindjic (yang mengirim Milosevic ke Hague) dibunuh tahun 2003, Stanisic ditangkap dan ditahan selama tiga bulan. Setelah itu, tanpa keterangan yang jelas, ia pun dikirim ke Hague. Selama lima tahun terakhir, Stanisic bolak-balik pergi antara Belgrade dan Belanda.

Persidangannya ditunda tahun lalu, guna memberinya kesempatan pulang ke Belgrade untuk perawatan gangguan pencernaan akut yang dideritanya. Menurut catatan pengadilan, penyakit itu membuat Stanisic kehilangan banyak darah. Jika kesehatan Stanisic kembali stabil, persidangannya diperkirakan akan dilanjutkan kembali tahun ini.

Hingga kini, Stanisic yang memasuki usia 58 tahun, masih terlihat di Belgrade. Kadang ia disapa oleh orang-orang yang mengenalnya. Namun hidupnya hancur-lebur. Ia bercerai dengan istrinya, diasingkan oleh anak-anaknya, dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. “Terakhir kali saya melihatnya di rumah sakit, tubuhnya tersambung pipa,” kata Vlado Dragicevic, mantan anak buahnya.

Dragicevic menuturkan, kadang Stanisic terlihat baik dan semangat membicarakan kasus yang menimpanya. “Tapi, ia lebih sering terlihat seperti sosok yang telah menyerah. Orang yang memegang begitu banyak jabatan, yang dulunya orang penting dan sangat terkenal, kini menjadi orang yang paling kesepian,” ujarnya.

Dan CIA, pihak yang selama ini menganggapnya “orang baik” telah melupakannya pula. CIA berpaling darinya, sebagaimana ia dulu berpaling dari Milosevic.*

Posted in

Leave a comment