Amerika

Barack Hussein Obama telah menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat lebih dari 100 hari lamanya. Presiden kulit hitam pertama di negeri yang katanya antirasisme, namun masih menyisakan ruang bagi tumbuhnya antipati terhadap kulit berwarna.Negeri yang katanya menjunjung tinggi demokrasi dan HAM, namun pada saat yang sama menjadi kampiun imperialisme dan kolonialisme.

Ia berhasil menduduki kursi empuk ruang oval di Gedung Putih, walau diiringi sinisme sebagian warga lainnya. Sinisme, rasisme dan antikulit berwarna masih membelenggu di sana, di tengah kemajuan peradaban yang dicapai.

Semua ini bermula dari krisis ekonomi yang disebabkan oleh banyaknya masalah yang dibuat pendahulunya, George W Bush. Kegilaan akan perang telah menghabiskan cadangan anggaran negara secara masif.

Miliaran dolar tersedot habis guna perang melawan “teror” yang diciptakan sendiri. Al-Qaidah, Taliban, Osama bin Laden dan Saddam Hussein adalah sasaran dengan seabrek alasan yang menyertainya.

Dunia pun mengamini kegilaannya. Ia bertitah, “Either you’re with us or against us?” Tiada yang berani menentang. Bahkan, hanya untuk bersikap diam. Di situlah semua bermula, kecanduan akan perang dan pelampiasan dendam yang membabi buta telah menghancurkan segala ada.

Negeri itu pun menikmati kekeroposan digdayanya di tubir jurang. Sang pendendam dan si gila perang kehilangan kharisma, dibenci warga sendiri yang selama ini dikhianatinya. Adegan lempar sepatu ke wajahnya di Irak kian menegaskan noda, bahwa ia sangatlah hina.

Lalu muncullah Obama, berjanji membawa perubahan. Kata-kata “the change has come to America” menjadi mantra pamungkas yang mengukuhkannya sebagai “gembala” anyar. Walau mewarisi legacy of ashes, ia tetap merasa percaya bahwa negerinya bisa berubah.

Jutaan manusia memenuhi tempat ia dinobatkan sebagai pemimpin dunia yang bersejarah. Bersejarah karena mampu menghancurkan sekat yang ratusan tahun membelenggu negeri, di mana hitam dan putih memang berbeda.

Namun reruntuhan puing-puing itu, “ashes”, tetap saja hanyalah warisan. Turun-temurun dari satu generasi ke generasi sesudahnya. Tak usah terlalu berharap dan percaya, bahwa ia dapat mengubah segalanya. Di Amerika, ia dan yang lainnya serupa walau tak sama.*

Posted in

Leave a comment