Obama

“Saya datang ke Kairo untuk memulai awal baru antara AS dan umat Islam di seluruh dunia; sebuah hubungan yang berdasarkan kepentingan setara dan saling menghargai,” ujarnya ketika berpidato di Mesir, awal bulan ini. Tepatnya di kampus Universitas Kairo.

Walau kedatangannya telah merepotkan sebagian besar warga Kairo –karena sterilisasi keamanan– namun kata-kata yang keluar dari mulutnya mampu menyihir ribuan audiens yang memenuhi aula kampus legendaris itu.

Setelah pasang-surut hubungan AS dan dunia Islam kian terkoyak sejak “perang melawan teror”, ia mencoba membuka lembaran baru. Sebuah langkah awal guna meraih simpati kaum Muslimin yang telah tercederai oleh polah pendahulunya, George W Bush.

Kairo ia pilih sebagai tempat “membuka tabir” karena dianggap dapat merepresentasikan umat Islam.

Dan yang lebih penting lagi, dalam pandangannya, sumber masalah utama hubungan AS dan dunia Islam memang berada di kawasan Timur Tengah. Israel versus Palestina, Islam versus Yahudi, plus Kristen.

Kairo baginya, adalah tempat yang tepat untuk bertegur sapa, berdialog, juga menebar salam kepada mereka yang jauh dan berseberangan. Mencoba merangkul mereka dengan cara yang lebih ‘beradab’.

Apa yang dilakukannya di ibukota Negeri Piramida itu mengundang simpati dunia, tak hanya di luar Islam. Dalam pidato selama hampir satu jam, ia bumbui dengan salam, kutipan al-Qur’an, Taurat dan Bibel. Dan mendapat aplaus hadirin hingga empat puluh kali lebih.

Orang-orang terkesima. Berharap ia benar-benar dapat membawa perubahan sebagaimana yang kerap dijanjikannya. Namun, di tengah membuncahnya asa itu, para pengagumnya melewatkan sebuah “frasa”, bahwa presiden negeri adi daya itu tetaplah pembela Israel, seorang pembela Yahudi. Apa pun yang terjadi.

“America’s strong bonds with Israel are well known.  This bond is unbreakable… a Jewish homeland is rooted in a tragic history that cannot be denied,” tegasnya.

Pesannya, “kita boleh berdialog, membuka hubungan, hatta menghentikan permusuhan. Namun satu hal, jangan pernah ganggu Israel!” Sebab, bagi seorang Obama, penentang Holocaust dan pembenci Yahudi adalah orang-orang yang “ignorant” dan “hateful”, bebal dan penebar kebencian.

Pastinya, para pendengar itu –yang memberikan aplaus hingga empat puluh kali lebih– dan orang-orang yang berharap di luar sana, tak mau dikatakan bebal dan penebar dengki.*

 

 

Posted in

Leave a comment