Ketika Republik Cina diproklamirkan oleh Sun Yat Sen tahun 1912, Mao Zedong melanjutkan sekolah dan tenggelam dalam dunia Marx. Ide-ide tokoh sosialisme macam Karl Marx, Friedrich Engels, Lenin dan Stalin menjadi menu sehari-harinya.
Tanpa berlepas diri dari ajaran para gurunya, ia menciptakan pijakan sosialismenya sendiri, yang kemudian lebih dikenal lewat PKT (Partai Komunis Cina). Selanjutnya, ia menjadi salah seorang filsuf Cina berpengaruh besar di abad 20.
Bagi Mao yang terpenting adalah konflik. Menurutnya, konflik itu bersifat semesta dan absolut: kelas penindas melawan tertindas, pemodal musuh buruh. Mao juga percaya bahwa setiap revolusi pasti menghasilkan kontra-revolusi.
Oleh sebab itu, ia tak segan-segan memberantas dan menangkapi lawan-lawan politiknya, juga mereka yang kontra-revolusi. “Jika kau ingin tahu bagaimana rasa buah jambu, maka kau harus memakannya,” ujarnya suatu ketika.
Dan hari ini, dunia modern abad milenium masih bisa menyaksikan warisan Mao di Xinjiang. Selama bertahun-tahun etnis Uighur yang Muslim menjadi pihak “lawan” dalam pusaran konflik. Mereka ditekan, ditindas, ditangkap paksa dan dibinasakan demi sebuah “kekekalan”.
Aksi unjuk rasa warga Uighur di Minggu pertama bulan ini berubah menjadi ladang pembantaian. Protes warga yang masif dibalas dengan kekerasan oleh aparat keamanan.
Hu Jintao, salah seorang pewaris Mao, tak mau kalah dengan leluhurnya. Ia sengaja mempersingkat kunjungannya pada KTT G8 di Italia guna membereskan Xinjiang.
Hasilnya, dalam kurang dari dua pekan, korban jiwa dalam kerusuhan tersebut versi pemerintah mencapai 200 orang. Lebih dari 1.000 orang luka-luka dan sekitar 1.400 orang ditahan. Data yang lebih mencengangkan dilansir kelompok Uighur di pengasingan, bahwa korban jiwa mencapai 800 orang.
Untuk waktu yang lama, para pewaris Mao akan tetap memegang teguh “petuahnya”, bahwa etnis Uighur di Xinjiang tak ubahnya buah jambu. Memakannya sama dengan merasakannya. Dengan demikian, universalitas dan absolutisme konflik tetap terjaga.*

Leave a comment