Di negeri ini, yang namanya teror selalu identik dengan bom. Bom selalu identik dengan umat Islam, atau sebut saja sebagian kecil golongan umat Islam. Dan aksi yang disebut terorisme itu akhirnya karib dengan Islam.
Dedengkot teroris di dunia internasional identik dengan Osama bin Laden. Sedangkan di negeri ini, tak lain dan tak bukan; Noordin M Top. Seorang warga negara Malaysia, yang konon cerita, telah malang-melintang dalam dunia pengeboman di Indonesia.
Sesuai dengan namanya, “N”–sengaja diinisialkan–memang orang top. Tiap muncul ledakan bom mengguncang Nusantara, maka jari telunjuk hingga jari kelingking aparat berwenang langsung mengarah ke dia.
“Pelakunya diduga N”, “bom seperti ini adalah ciri khas N”, “dapat diduga N di balik ledakan ini”, dan segudang asumsi serupa muncul menghiasi liputan media massa. Sementara, si N-nya sendiri tak pernah mewujud; absurd, gelap dan gaib. Ia ibarat hantu, hanya terasa efek kehadirannya namun sosoknya antah-berantah.
Aparat keamanan, terutama Detasemen Khusus 88, yang ditugaskan khusus untuk memburu para “teroris”, tak jua berhasil menciduk N. Betul-betul sakti lelaki ini, kecanggihan alat deteksi intelijen seolah tak berdaya menangkap sinyal keberadaannya.
Pria yang kabarnya beristri lebih dari satu ini pun berhasil menjadi “public enemy” dan buronan nomor wahid sebagaimana Osama. N dan Osama mempunyai legendanya sendiri; satunya “teroris” citarasa lokal, yang lainnya menu internasional.
Media massa–sebagai koki–mengolah sajian keduanya sesuai resep masing-masing dan menyuguhkannya kepada konsumen. Hasilnya, seperti yang kita nikmati saat ini.
Jumat pagi, pertengahan Juli lalu, dua bom meledak hampir bersamaan di dua tempat berbeda di Jakarta. Bom yang mengguncang ibukota itu terjadi saat perhatian bangsa tercurah pada penghitungan suara hasil pilpres oleh KPU, dan rencana kedatangan klub sepak bola Manchester United (MU). Apesnya, yang menjadi korban ledakan salah satu bom adalah hotel yang bakal disinggahi oleh rombongan MU.
Dua hari kemudian, aparat kepolisian merilis sebuah inisial, yang diduga adalah pelaku. Siapa lagi kalau bukan N. Seperti yang sudah-sudah, N kembali menjadi sasaran tudingan pelaku teror.
Namun, ternyata ‘N’ kali ini bukan Noordin M Top, tapi Nurdin–saja. Konyolnya, N alias Nurdin yang ini pun ternyata salah. Naga-naganya, N bakal terus berkelana dalam gemuruhnya rimba terorisme di Indonesia.*

Leave a comment