Kembali

Kematian adalah kepastian. Tiap yang bernyawa pasti mati. Itulah sunnatullah yang tak terbantahkan. Semuanya akan kembali kepada yang memberi hidup.

Manusia apalagi. Justru makhluk inilah yang paling rentan menghadapi maut. Beragam cara, berbagai kondisi dan berupa bentuk kematian harus dihadapinya. Untuk itulah, kita—sebagai manusia—harus selalu siap dijemput maut.

Dua pekan lalu negeri ini dikejutkan oleh kematian berturut-turut dua anak manusia luar biasa. Insan-insan yang telah mengukir sejarah di panggung kehidupannya. Mereka adalah Mbah Surip, sang musisi dan WS Rendra, sang penyair.

Tak ada yang istimewa sebenarnya, karena hidup sendiri adalah menunda kematian. Sebagaimana Chairil Anwar—si ‘Binatang Jalang’—pernah teriakkan. Pun demikian dengan Mbah Surip dan Rendra. Kepergian dua sobat karib dalam jarak dua hari itu adalah kepergian dua insan yang telah mencapai “puncak” kehidupan.

Setelah bertahun-tahun bergelut dalam dunia tarik suara, dan hanya dikenal masyarakat dalam komunitas yang terbatas, Mbah Surip akhirnya berhasil jadi orang tenar. Karyanya yang sarat kesederhanaan menghentak blantika musik Indonesia yang selama ini dikuasai karya-karya komersial dan pesanan.

Mbah Surip berhasil menunjukkan pada dunia, setidaknya negeri ini, bahwa perjuangan itu pada akhirnya akan mencapai akhir; kemenangan atau kekalahan. Semangat inilah yang ia wariskan. Bahwa jadi orang itu harus tangguh, pantang menyerah, tak mudah putus asa. Jika keberhasilan telah diraih, jangan jumawa dan lupa diri.

Pria nyentrik kelahiran Mojokerto ini tetap humble, solider, dan dekat dengan kawan-kawannya. Dalam video klip pertama lagu Tak Gendong, ia dan Rendra tampak dekat dan akrab. Keduanya seolah membawa pesan, bahwa jadi orang hendaknya saling berbagi—“menggendong”, dalam segala kondisi. Mbah Surip wafat di tengah riuhnya popularitas yang ia capai.

Rendra yang beberapa bulan terakhir menderita sakit jantung, dua hari kemudian, menyusul kakek berambut gimbal itu menghadap Ilahi. Sastrawan dan dramawan besar berjuluk Si Burung Merak ini telah meraih berbagai penghargaan atas karya dan dedikasinya dalam jagad sastra Indonesia. Ia pun telah mencapai puncak kariernya.

Perjalanan panjang Rendra, sebagai manusia maupun seniman, memang berakhir. Namun tidak dengan karya-karyanya. Merasa perjumpaannya dengan Tuhan kian dekat, lelaki yang memeluk Islam 38 tahun silam itu, menulis sebuah sajak. “Aku ingin meningkatkan pengabdian kepada Allah… Tuhan, aku cinta padamu.”

Dan kedua sahabat itu pun kembali pulang, ke tempat asal mula kejadian. Meninggalkan “nama” yang akan dikenang.*

Posted in

Leave a comment