Petaka

Tangis itu belum reda, air mata pun belum kering, namun petaka seolah tak kenal pupus. Di awal September 2009 –Rabu (2/9)– ia menghantam Tasikmalaya dengan kekuatan 7,3 skala Richter. Akibatnya, ratusan nyawa menjadi korban, ribuan rumah hancur-lebur, puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal.

Kurang dari satu purnama, ia kembali menghantam Ranah Minang dengan kekuatan yang lebih dahsyat –7,9 skala Richter– di akhir September. Akibatnya, tentu saja lebih dahsyat. Hingga kini, proses evakuasi, rehabilitasi, serta pemulihan pasca bencana masih terus dilakukan. Gempa bumi, baik tektonik maupun vulkanik, tetap saja mengundang korban; manusia ataupun benda. 

Beberapa saat setelah lindu mengguncang Padang, seorang kawan menulis status di Facebook, yang intinya menegaskan, “Hanya sekularisme yang dapat menjelaskan segala bencana secara ilmiah.” Tentu saja –What’s on your mind? ini mengundang beragam tanggapan, kecaman juga dukungan.

Terlepas dari apakah bencana yang kerap menimpa negeri ini adalah azab, cobaan, atau ujian dari-Nya, jauh sebelum sekularisme menggemparkan dunia, Allah SWT telah lebih dahulu mengingatkan. Empat belas abad lampau al-Qur’an menyatakan: ’’Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?” (QS az- Zalzalah: 1-3).

 Subhanallah, meski turun di padang pasir Arabia yang tandus, namun secara menakjubkan al-Qur’an telah berbicara tentang gempa. Padahal ilmu geologi dan vulkanologi modern –“buah” sekularisme yang disebut ilmiah itu– baru mengetahuinya pada abad ke-19.  

Sebagaimana gerhana, hujan dan panas, maupun pergantian siang dan malam, gempa bumi juga termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah. Setiap pertanda merefleksikan dua sudut pandang berbeda; baik-buruk, hitam-putih.

Kita berharap segala musibah ini bukanlah azab, karena itu berarti murka Tuhan. Kita tentu tak ingin disebut sebagai kaum yang tidak ‘paham’ sebagaimana yang Ia tegaskan: “Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu… Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya).” (QS al-An’aam: 65).

Saatnya mencoba dan belajar memahami apa maunya Allah lewat pertanda yang Ia tampakkan.*

Posted in

Leave a comment