Hiperrealitas

Namanya, Jean Baudrillard. Ia seorang teoris postmodern, juga sosok intelektual terkemuka abad ini. Selain dikenal sebagai kritikus dan pemikir yang brilian, Baudrillard juga kerap disebut sebagai ‘guru’ ternama postmodern Prancis dengan karya-karya tulis yang mengagumkan.

Salah satu ‘temuannya’ yang terkenal dalam bidang komunikasi adalah hiperrealitas. Secara singkat, hiperrealitas adalah suguhan ‘realitas’ yang lebih nyata dari aslinya, di mana batas antara yang nyata (fakta) dan maya (palsu) sulit dibedakan. Sebuah dunia yang melebur.

Bagi Baudrillard, televisi adalah salah satu penyuguh hiperrealitas karena kemampuannya dalam membangun sebuah realitas sosial (social constructed reality). Sebuah dunia simulasi.

Dan kini tidak hanya tayangan televisi, tapi berita koran dan majalah juga bagian dari itu. Sulit membedakan antara yang nyata dengan yang imaji, benar dan palsu. Pemberitaan media massa–cetak maupun elektronik–tentang terorisme saat ini, mulai menggelikan dan tidak realistis. Tak lebih dari sebuah simulakrum.

Tayangan penyergapan teroris bak reality show yang mendominasi layar kaca, pemberitaan yang cenderung one sided, pencitraan hingga stigma terhadap suatu kelompok masyarakat terus-menerus didengungkan. Dikonstruksi dengan beragam dalih dan alasan, walau kadang tak masuk akal.

Sementara verifikasi, sebagai sebuah ruh jurnalisme, menghilang ditelan kabut. “Yang benar dan yang nyata mati, lenyap dalam longsoran simulasi,” sindir Baudrillard.

Akhirnya, yang bermain adalah simulasi atas realitas untuk menghasilkan ‘realitas’ baru, di mana ‘realitas’ itu lebih riil ketimbang kenyataannya. Pada tahap ini, berita terorisme kehilangan jarak dengan realitas. Yang benar dan riil adalah kebenaran simulasi itu, tanpa diketahui–dan memang tidak ada lagi–realitas aslinya.

Siapa sesungguhnya pelaku terorisme, benarkah Noordin M Top, apa motif dan tujuannya? Semuanya mengabur, absurd dan misterius.

Media massa–terutama di Indonesia–telah berhasil menciptakan apa yang disebut oleh Baudrillard sebagai sebuah dunia palsu yang dianggap nyata. Media berhasil to feign to have what one hasn’t. One implies a presence, the other an absence.

Oh, Jean Baudrillard, hiperrealitasmu kini benar-benar membumi di Indonesia. Batas ‘realitas’ itu kini melebur dalam cengkeraman pemilik modal, penguasa dan kacung-kacungnya.*

 

 

Posted in

Leave a comment