“Gitu aja kok repot!” Kata-kata ini tidak akan terdengar lagi selamanya, karena sang empu telah berpulang ke haribaan Ilahi.
Kiai yang dikenal sebagai tokoh demokrat, pejuang HAM, guru bangsa dan beragam sebutan lainnya itu wafat hari Rabu 30 Desember 2009 pukul 18.45 WIB di RSCM Jakarta. Ia pergi meninggalkan kefanaan dunia dua hari menjelang pergantian tahun.
KH Abdurrahman Wahid, karib disapa Gus Dur merupakan sosok penuh kontroversi dan multi-interpretatif.
Ia mampu menyandingkan gagasan tradisionalnya NU dengan modernitas demokrasi dan kebangsaan hingga pluralisme dalam satu wadah. Biasa mendengarkan Mozart namun juga pencinta musik keroncong, kadang juga dangdut.
Daya intelektualitasnya luar biasa dan sungguh menawan. Lebih suka nonton bioskop ketimbang kuliah kala studi di Al-Azhar, Kairo, Mesir. Namun, selalu lulus dalam ujian. Si kutu buku ini memang dianugerahi kecerdasan di atas rata-rata Bumi Putera negeri ini.
Gagasan-gagasan kontroversialnya pun kerap mengundang kritik tajam, tak jarang kecaman. Namun, ia kukuh, keras hati dan teguh pendirian. Sebuah sikap yang jarang dimiliki pemimpin lain kala menghadapi selaksa prahara dan cobaan.
Begitu dilengserkan dari jabatannya sebagai presiden pada 2001 silam, ia tak patah arang, kecewa, apalagi putus asa. Baginya, jabatan tertinggi–presiden–bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan mati-matian.
Usai terusir dari istana “rakyat” yang ia coba bangun, esoknya dengan santai ia sudah blusukan ke daerah-daerah. Menemui rakyatnya; para pendukungnya.
Di sini kita bisa belajar tentang egalitarianisme padanya, bukan sekadar rumusan teoritis tapi langsung pada level praktiknya. Sikap inilah yang jarang dimiliki para penguasa negeri ini. Menerima “takdir” yang ditentukan tanpa harus memberontak pada kenyataan. Siap memerintah, juga siap diperintah. Siap berkuasa, juga siap menghamba.
Bagi Islam harakah (baca: ‘garis keras’), Gus Dur adalah musuh nomor satu karena ia kerap bermesraan dengan “pihak” lain, ketimbang sesama Muslim. Bagi kaum minoritas dan marginal, ia bak dewa penyelamat sekaligus pelindung.
Keakrabannya dengan golongan Kristen dan Yahudi, di satu sisi menuai pujian, namun di sisi lain hujatan. Ia bergeming, karena menurutnya, rahmatan lil alamin-nya Islam terletak pada kelenturannya dalam mengadopsi lokalitas kultur setempat tanpa harus memaksakan tekstualitas yang jumud dan rigid.
Islam harus bisa merangkul manusia, tanpa harus menanggalkan sakralitas tauhid. Tak heran jika ia begitu mudah keluar masuk kuburan untuk berziarah, dan pada saat bersamaan menghadiri forum-forum intelektual bertaraf internasional.
Anomali dan ambiguitas Gus Dur inilah yang susah dipahami oleh sebagian besar orang. Dalam tradisi ke-NU-an, Gus Dur bahkan dianggap setaraf wali. Nun di pihak lain ia adalah pejuang demokrasi dan HAM tiada tanding. Sementara di sisi yang satu ia bak ancaman bagi gerakan dan proses penegakan Islam di negeri ini.
Kini, manusia yang secara fisik serba kurang namun secara psikis serba lebih itu, telah tiada. Meninggalkan semua orang yang selama ini dekat atau berseberangan dengannya. Gus Dur boleh tiada, tapi namanya akan tetap dikenang.
Di akhir hayatnya ini, terlepas dari pihak manapun kita, mari memandang Gus Dur sebagai manusia, sebagaimana Rasulullah memandang ke-‘manusia’-an setiap insan. Selamat jalan, Gus!*

Leave a comment