Hewan kawan petani yang ulet itu kini jadi tenar. Tak hanya meluku sawah dan ditunggangi gembala di padang ilalang, namun ia kini mulai ‘membajak’ jalanan ibu kota. Bukan digiring petani, namun para demonstran.
Hewan yang kerap diasosiasikan dengan kemalasan dan kebodohan itu mengguncang tatanan negara. Ia jadi simbol perlawanan kawula, juga pelecehan kepala negara.
Mengikuti rekan-rekannya sesama binatang, seperti cicak dan buaya, kerbau juga mewarnai dinamika politik Indonesia pada periode kedua pemerintahan penguasa saat ini.
Sebegitu masifnya dampak penampakan kerbau di ibukota, memaksa sang presiden curhat kesana-kemari. Mencari-cari pegangan pada kepercayaan sebagian rakyatnya. Hanya karena cicak, buaya dan juga kerbau; jadilah ia pemimpin juga pencurhat nomor satu di negerinya.
Ia tak lagi mendengar keluh kesah rakyat, malah berlaku sebaliknya. Sebagai simbol dan wajah sebuah birokrasi negara seharusnya ia melayani, bukan minta dilayani.
Kematangan perpolitikan negeri ini memang tidak ditaksir dan dinilai dari sekumpulan hewan yang mengemuka jadi wacana, namun kehadiran makhluk Tuhan itu sebagai simbol dan ikon yang mewakili kata dan rasa, cukup menarik dicermati. Mereka menjadi populer karena kegenitan pejabat dan kegelisahan rakyat.
Andaikata penguasa tidak memaksakan mereka masuk ke ranah politik, maka cicak, buaya, maupun kerbau tetaplah binatang sebagaimana adanya. Memang, hewan-hewan tanpa akal itu tidak sama dengan manusia.
Namun, pada situasi dan kondisi tertentu, mereka tak jauh beda. Dan ketidakberakalan mereka inilah yang mungkin jadi biang “kegenitan” itu. Yang tersindir oleh simbol bereaksi kelewat lebay, karena para penyindir beraksi kelewat pede.
Jika yang tersindir bersikap arif memandang perilaku hewan, masalah usai sudah. Anggap saja polah demonstran yang mengusili kerbau itu bak cambuk yang melecut diri untuk berbuat lebih.
Di balik konotasi negatif yang melekat padanya, kerbau memiliki sejumlah perangai positif. Inilah yang mestinya dikedepankan; menjadikan amunisi lawan sebagai senjata untuk menyerang balik.
Tentu saja dengan berbuat sesuatu, tak cuma mengeluh. Dengan demikian kekurangan dan kelemahan kerbau tidak pantas jika disematkan pada si terolok.
Tak perlulah berlebihan dalam merespons aksi hewan di jalanan hingga harus membuat aturan yang melarangnya ikut berunjuk rasa dengan manusia. Dalam hal ini, kata-kata ajaib Gus Dur yang seolah mantra itu, seyogianya dikedepankan. Gitu aja kok repot!*

Leave a comment