Suatu ketika, seorang sahabat datang kepada Nabi Muhammad dan bertanya, “Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang bila aku amalkan niscaya aku akan dicintai Allah dan manusia.”
Rasulullah saw menjawab, “Hiduplah di dunia dengan berzuhud (bersahaja) maka kamu akan dicintai Allah, dan jangan tamak terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya kamu akan disenangi manusia.” (HR Ibnu Majah)
Beragam definisi zuhud telah dikemukakan oleh para ulama shalih, namun muaranya hampir sama; berpaling dari sesuatu yang tidak diperlukan, meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat demi kehidupan akhirat.
Dalam salah satu firman-Nya, Allah SWT menegaskan: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan…” (QS al-Hadid: 20)
Secara eksplisit ayat ini tidak menyebutkan kata zuhud, tetapi mengungkapkan makna dan esensi kesahajaan. Ia menerangkan tentang hakikat dunia yang sementara dan keabadian akhirat. Kemudian menganjurkan orang-orang beriman untuk berlomba meraih ampunan Allah dan surga-Nya yang baka.
Zuhud bukanlah mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta benda. Zuhud di dunia adalah lebih memercayai apa yang ada di tangan Allah daripada yang di tangan sendiri. Namun sikap percaya terhadap “maunya” Allah ketimbang kemauan sendiri bukanlah perkara ringan. Ia hanya akan timbul dari keyakinan yang kuat dan lurus terhadap kekuasaan Allah.
Hakikat zuhud terdapat dalam jiwa, di mana seorang hamba mampu mengeluarkan rasa cinta dan ketamakan terhadap dunia dari lubuk hatinya. Ia jadikan dunia berada dalam genggamannya, namun hatinya dipenuhi kecintaan terhadap Allah dan akhirat.
Walau demikian, zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total dan menjauhinya. Rasulullah saw telah memberikan teladan. Beliau mampu menyeimbangkan antara kefanaan dunia dan kekekalan akhirat dalam seluruh dimensi kehidupannya.
Bersahaja atau berzuhud bukan berarti berlepas diri dari kehidupan duniawi. Sahaja adalah bersikap arif dan bijak dalam memandang dunia, menjalani hidup dalam keseimbangan. Bukankah Allah sendiri yang meminta manusia bersikap wajar.
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi…” (QS al-Qashash: 77).*

Leave a comment