Cicero

Nama lengkapnya Marcus Tullius Cicero, lahir 3 Januari 106 SM. Ia adalah negarawan terkemuka dan orator terbesar Romawi yang juga penulis prosa.

Selain politikus ulung, lelaki yang digambarkan sebagai sosok ceking ini juga dikenal sebagai seorang filsuf dan pengacara andal. 

Bagi Cicero, berkhidmat kepada Res Publica adalah kewajiban tertinggi seorang warga negara. Bermodalkan bakat dan ketekunannya, ia mencoba meraih mimpi menjadi seorang konsul. Cicero pun merangkak di antara situasi politik yang korup, kotor, nepotis dan diruapi konspirasi busuk. 

Kala itu masyarakat Romawi terbagi dalam tiga kelas sosial; patricius (kaum elite), eques (kelas menengah), dan plebeius (rakyat jelata). Pejabat pemerintah disebut Magistratus (senat) yang dipilih melalui pemilu. Magistratus memiliki tingkatan; censores, praetor, quaestor, tribunus, aedilis dan tertinggi konsul. 

Berbekal pendidikan sekolah Apollonius Molon, Cicero menjadi seorang orator andal. Kariernya bermula ketika ia menjadi quaestor Provinsi Sisilia. Ia kemudian menikahi Terentia, seorang perempuan kaya nan cerdas demi biaya kampanyenya. 

Cicero menjelma menjadi pengacara hebat, namun masih berada di bawah bayang-bayang Hortensius, si nomor wahid di Romawi. Untuk mewujudkan ambisinya menjadi aedilis, dia membela Sthenius melawan Gaius Verres, Gubernur Sisilia yang korup, kejam dan serakah.

Pertarungan menjadi sengit karena Verres dibela oleh Hortensius. Dengan keandalan dan orasinya yang memukau, Cicero berhasil menumbangkan Verres dan Hortensius sekaligus. 

Setelah menang dan menjadi seorang aedilis, Cicero bertekad menjadi konsul. Berkat dukungan Terentia, sang istri, ia masuk dalam jajaran senator utama Romawi sepanjang 79-70 SM.

Di akhir hidupnya, Cicero memimpin senat melawan Marcus Antonius –sang Triumvirate– dengan gagah berani namun tidak berhasil. Ia harus membayar kekalahannya dengan nyawa pada 7 Desember 43 SM.

Cicero adalah sosok unik dalam sejarah Romawi, dia mengejar jabatan konsul tanpa bantuan sumber daya apa pun selain bakatnya sendiri. Dia tidak memiliki harta berlimpah untuk melicinkan karier politiknya.

Ia hanya bermodalkan suara. Namun suaranya bukan cuma bunyi tanpa gema. Bukan sekadar celoteh laksana keriuhan di Senayan sana, ketika parlemen melakonkan sebuah drama.*

Posted in

Leave a comment