Kuasa

Belum usai kasus Century, publik disentak oleh berita-berita seputar penangkapan, penggerebekan dan pembantaian para teroris.  Aksi heroik  Densus 88 ini mewarnai pemberitaan media menjelang kedatangan sang “kawan dekat” dari jauh, Barack Obama. 

Namun dengan beragam alasan, kedatangan pemimpin negeri Adi Daya itu pun tertunda. Dan publik, lama-kelamaan mulai lupa akan rencana Obama yang berkunjung sekaligus mengenang kembali nostalgia masa kecilnya.

Hari-hari ini kita kembali disuguhi drama memiriskan bahkan memalukan, dan merupakan lanjutan dari saga Cicak versus Buaya yang sempat menghentak Nusantara. Salah satu aktor yang dulu kukuh menyikat cicak namun ‘tersingkirkan’ dari arena, memilih buka suara.

Suara yang ia pendam sekian lama, terlepas karena jabatannya atau tugasnya untuk bungkam; yang jelas kini ia berada di luar sana. Menentang dan melawan arus yang pernah ia arungi dengan segudang kemegahan dan gempita kekuasaan.

Kuasa, di negeri ini memang sangat menggoda, juga membuat lena. Hanya segelintir manusia yang mampu mengemban dan memegang kuasa yang dimiliki dengan amanah dan penuh pengabdian: yang memikirkan dan memahami hakikat ‘wewenangnya’ adalah sesuatu yang fana, sebuah mortalitas.

Tak ayal dalam tiap pergantian dan perubahan rezim, akan selalu muncul wajah-wajah kuyu dan putus asa karena kecewa. Kemudian melakukan “perlawanan” dan membangkang, mengangkangi sistem yang sebelumnya ia dekap erat. 

Tipe-tipe makhluk Tuhan seperti inilah yang sebagian besar menguasai rakyat negeri ini. Penguasa yang juga pembual. Bungkam ketika berkuasa namun berteriak lantang ketika terdepak. Lantas ke mana saja mereka selama ini?

Apakah mereka bersembunyi di balik ruang mewah bersaput beludru dan kedap suara hingga tuli mendengar suara kawulanya. Atau tengah keasyikan menikmati dunianya yang bak menara gading?

Seandainya para penguasa, pemimpin, pejabat negara, serta aparatur negara paham akan beratnya hari perhitungan nanti, mungkin mereka takkan berani main-main dengan kedudukannya. Rasulullah saw pernah mengingatkan, “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin.”

Dan janganlah mempermainkan amanah, karena yang demikian bukanlah perilaku orang beriman. “Tiada iman pada orang yang tidak menunaikan amanah, dan tiada agama pada orang yang tidak menunaikan janji.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).* 

Posted in

Leave a comment