Pembual

Hidup di negeri pembual memang membosankan, juga menyakitkan. Bergaul dan digauli pembual sungguh tak nyaman. Pembual tak ubahnya bedebah—sebagaimana kata seorang penyair. Maka negeri para pembual adalah juga negeri para bedebah.

Di tengah minim dan langkanya stok orang-orang baik dan jujur, para pembual dan bedebah ini merajalela. Menguasai tiap sendi kehidupan masyarakat. Mereka tersebar mulai tingkat RT (Rukun Tetangga) hingga lembaga kepresidenan.

Seorang pembual yang hobi berdusta adalah kaum munafik sebagaimana yang ditegaskan Rasulullah. “Tanda-tanda orang munafik ada tiga; apabila berbicara ia dusta, apabila berjanji ia ingkar, dan apabila dipercaya ia khianat.” (Muttafaq Alaih).

Mungkin agak susah mendeteksi orang-orang munafik di sekitar kita. Namun paling tidak, Allah SWT punya gambaran yang patut dicermati. Dalam surat al-Baqarah ayat 8-20, al-Qur’an menggambarkan secara panjang lebar karakter golongan ini. Mereka adalah penipu ulung, pembual kelas kakap dengan penyakit kronis di hatinya. Tak heran jika Allah menambah dan mengekalkan penyakit dalam jiwanya.

Untuk wilayah sebesar dan seluas Nusantara ini, keberadaan orang-orang munafik telah terasa sejak sebelum ia dilegalkan menjadi sebuah negara “berdaulat”. Terlalu banyak contoh yang menegaskan keberadaan makhluk-makhluk ini di Bumi Pertiwi. Musibah dan bencana yang seolah tiada akhirnya adalah salah satunya. Tata kelola pemerintahan yang semrawut hingga melanggengnya ketidakadilan, juga tak lepas dari “andil” mereka. 

Bagaimana mungkin berharap berkah dari langit jika penduduk dan pejabat suatu negeri dikuasai para pembual—kaum pendusta. Mereka adalah orang-orang bebal dan kebal terhadap peringatan Allah. “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih…” (QS an-Nisaa’: 138).

Boro-boro mencamkan peringatan Tuhan, mereka justru kian lena dalam buaian duniawi. Tak heran, walau dianugerahi kekayaan alam yang melimpah ruah, bangsa ini tetap saja sengsara, awet dalam kemelaratan, baka dalam kepapaan. Lantas apa yang harus diperbuat? Mungkin puisi sang penyair bisa jadi solusi. 

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah

Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah

Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum

Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya.*

Posted in

Leave a comment