Awal bulan ini, 3-8 Juli 2010 atau bertepatan dengan 22-27 Rajab 1431 H, salah satu ormas Islam tertua dan terbesar di Tanah Air—Muhammadiyah—menggelar hajatan lima tahunan; muktamar yang ke-46.
Dua tahun lagi, organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini akan berusia satu abad. Usia yang terbilang sepuh untuk sebuah organisasi massa Islam. Gerak melintasi zaman. Dakwah dan tajdid menuju peradaban utama. Demikian tema besar yang diusung dalam muktamar kali ini. Sebuah sikap visioner dalam meraih kesuksesan di kemudian hari, sesuai dengan visi dan misi persyarikatan.
Sukses besar Muhammadiyah yang terlihat nyata mungkin dalam bidang amal usaha seperti sektor pendidikan, ekonomi dan kesehatan. Yang ditandai dengan meningkatnya jumlah cabang, menjamurnya sekolah dan perguruan tinggi, serta kian meningkatnya jumlah rumah sakit, panti jompo, juga panti asuhan. Dalam hal ini, konsep Surat al-Ma’un—yang menjadi landasan filosofis Muhammadiyah—mungkin dapat dikatakan berhasil. Walau tidak sepenuhnya.
Demikian pula dengan perjuangan mengembalikan ajaran Islam sesuai al-Qur’an dan sunah melalui pemberantasan penyakit TBC (takhayul, bid’ah dan churafat), organisasi yang lahir pada 18 November 1912 ini juga dapat disebut berhasil. Ini dibuktikan dengan meningkatnya jumlah pengikut (anggota) yang seiring sejalan dengan pembukaan cabang-cabang baru di berbagai wilayah, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Juga seirama dengan peningkatan intelektualitas pengikutnya.
Tantangan yang dihadapi Muhammadiyah—juga ormas Islam lainnya—tidaklah ringan. Dari sekian banyaknya masalah, kepemimpinan persyarikatan yang terkait ideologi dan tajdid organisasi merupakan hal yang cukup mendasar. Sebagaimana tema besar muktamar, peradaban utama hanya akan diraih dengan dakwah dan tajdid.
Ideologi tajdid adalah watak dasar Muhammadiyah sejak ia dilahirkan. Oleh sebab itu, ia juga disebut sebagai gerakan reformis. Selain itu, keberpihakan terhadap kaum miskin dan lemah juga perlu direvitalisasi, karena ideologi keberpihakan ini didasarkan pada semangat teologi al-Ma’un.
Muhammadiyah seyogianya meningkatkan kepekaannya terhadap masalah orang-orang lemah dan terpinggirkan agar menjadi payung sosial kemanusiaan bagi kaum kecil marginal lainnya.*

Leave a comment