Perjalanan Menembus Gaza

Pesawat Singapore Airlines yang membawa 10 relawan MER-C tinggal landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Selasa (13/7/2010), pukul 17.00 WIB.

Perjalanan ke Mesir dilalui dengan dua kali transit, yakni di Singapura dan Dubai. Keesokan harinya, Rabu (14/7/2010) pukul 07.00 waktu Mesir atau pukul 11.00 WIB, pesawat mendarat di Bandara Internasional Kairo.

Di pintu keluar bandara para relawan dijemput oleh beberapa staf KBRI Kairo, kemudian diantar menuju kantor KBRI menggunakan minibus. Lalu lintas Kairo terlihat lengang pagi itu. Negeri Piramida ini belum menampakkan wajah aslinya.

“Aktivitas warga Mesir dimulai pukul 10.00 atau 11.00, karena saat ini tengah musim panas,” kata Amir Syaifuddin, salah seorang staf KBRI Kairo, ketika bus keluar meninggalkan bandara.

Misi MER-C ke Gaza kali ini adalah untuk melanjutkan misi sebelumnya yang masih belum tercapai, yaitu membangun rumah sakit di Gaza, tepatnya di Distrik Bait Lahiya. Pemerintah otoritas Palestina telah menyediakan tanah wakaf seluas 1,5 hektare di lokasi yang terletak di Gaza Utara itu.

Rencananya rumah sakit ini nantinya akan diberinama Rumah Sakit Indonesia, karena pembangunannya didanai secara penuh oleh warga Indonesia yang peduli Gaza.

Perjalanan ke Gaza ditempuh melalui jalur darat, melewati al-Arish. Namun sebelum berangkat ke al-Arish, para relawan yang terdiri dari dokter, insinyur dan jurnalis ini terlebih dahulu disambut dan dijamu oleh Duta Besar Indonesia untuk Mesir, AM Fachir.

Dalam sambutannya, Fachir berharap perjalanan MER-C ke Gaza akan lancar dan tidak menemui hambatan. “Kami telah mencoba membantu semaksimal mungkin dengan melakukan komunikasi dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Semoga perjalanan ke Gaza tidak mengalami gangguan atau hambatan,” harap sang Dubes.

Sebelumnya, memang telah beredar kabar bahwa kemungkinan masuk ke Gaza cukup sulit, walau pintu gerbang perbatasan Rafah dibuka. Situasi ini sempat mengkhawatirkan seluruh relawan. Walau demikian, mereka bertekad untuk tetap masuk Gaza dengan segala daya dan upaya.

Usai makan siang bersama di kantin KBRI Kairo, pada pukul 14.00 waktu Mesir, seluruh relawan MER-C berangkat ke al-Arish menggunakan minibus sewaan. AM Fachir sendiri yang melepas keberangkatan mereka.

Perjalanan dari Kairo ke al-Arish ditempuh dalam waktu sekitar 5 jam. Jarak antara kota terdekat dengan pintu Rafah ini dengan Kairo sekitar 500 kilometer. Di al-Arish para relawan menginap di Hotel Palestina untuk kemudian langsung berangkat ke Rafah keesokan harinya.

Pagi itu, sekitar pukul 11.00, suasana di gerbang Rafah sangat padat. Lalu-lalang warga yang akan masuk ke Gaza tampak berjubel di depan pintu gerbang. Aparat keamanan yang terdiri dari polisi dan tentara Mesir sibuk mengawasi dengan ketat kerumunan orang yang berlomba-lomba menembus pintu gerbang.

Para relawan MER-C pun demikian, mereka turut mengantre di antara kerumunan manusia yang akan menyeberang perbatasan. Sebagian besar para pelintas batas ini adalah warga Gaza yang baru kembali dari Kairo atau al-Arish.

Begitu lolos dari pemeriksaan di pintu gerbang, para relawan MER-C harus melewati kantor imigrasi yang merupakan pintu keluar Mesir yang berbatasan dengan Gaza, Palestina.

Pemeriksaan di sini lebih ketat daripada di pintu gerbang. Setelah melalui proses pemeriksaan panjang yang memakan waktu hingga empat jam lamanya, hanya lima orang relawan yang diperbolehkan masuk.

Sementara lima relawan lainnya, termasuk saya dan tiga jurnalis dari stasiun televisi swasta ditolak masuk Gaza. Alasannya, mereka belum mendapatkan surat izin dari badan intelijen Mesir.

Para relawan yang tertolak pun kembali ke al-Arish. Menunggu hingga surat izin yang dimaksud keluar. Hingga tiga hari lamanya, surat yang dimaksud tak jelas juntrungannya. Sementara pihak KBRI mengaku telah berupaya melobi kementerian luar negeri dan badan intelijen Mesir, namun belum menampakkan tanda-tanda yang menggembirakan.

 

‘Kapal Harapan’ yang diserang

Di tengah penantian yang tak berujung ini, pada Jumat (16/7/2010), muncul kabar bahwa kapal bantuan kemanusiaan dari Libya merapat di Pelabuhan al-Arish karena tak diizinkan masuk Jalur Gaza oleh pemerintah Israel. Kapal kargo bernama Amalthea ini membawa bantuan dari Qaddafi International Charity and Development Foundation (QICDF).

Kapal kargo ini membawa 1.800 ton bantuan kemanusiaan yang terdiri dari bahan makanan seperti susu, gula, beras, minyak goreng dan obatan-obatan. Total penumpang kapal berjumlah 21 orang yang terdiri dari 12 awak kapal dan 9 relawan QICDF.

Ketika kapal yang dijuluki Safinah Amal (Kapal Harapan) ini mencoba mendekati pantai Gaza, patroli angkatan laut Israel langsung mencegat dan mengancam akan melakukan serangan.

Namun, Safinah Amal tetap nekat melaju mendekati bibir pantai. Hal ini membuat militer Israel sewot. “Jika kalian mendekati Gaza, akan kami tembak,” demikian ancaman Israel, sebagaimana dituturkan Osama al-Mahamid, Manajer ACA Shipping Groups.

ACA Shipping Groups adalah perusahaan pemilik kapal yang disewa oleh Saiful Islam Qaddafi—putra Presiden Libya yang juga pemimpin QICDF—untuk mengirimkan bantuan ke Gaza. “Namun kami tidak takut. Justru mereka yang penakut. Mereka hanya berani memprovokasi dan menebar ancaman,” kata Osama.

Melihat kenekatan Amalthea, pasukan patroli Israel yang terdiri dari empat kapal perang dan satu helikopter mulai mendekat hingga jarak empat meter. Kapal perang Israel hanya berputar-berputar mengelilingi Amalthea, sementara helikopter hanya bermanuver di udara.

“Kami tetap gigih dan tidak gentar. Melihat kami nekat, mereka kembali berteriak-teriak mengancam akan menyerang,” tutur Osama.

Angkatan laut Israel nampaknya naik pitam dan mulai melepaskan tembakan ke udara. “Cahaya dan sinar putih bertebaran di angkasa. Mungkin suasananya mirip dengan kapal Mavi Marmara,” kata Osama dengan senyum dikulum.

Melihat situasi yang mulai tegang Osama dan anak buahnya tak mau mengambil resiko. Mereka memutuskan mundur dan menepi di perairan Mesir. Osama melakukan kontak dengan otoritas Pelabuhan al-Arish dan meminta izin berlabuh.

Bak gayung bersambut, otoritas Pelabuhan al-Arish segera mempersilakan Amalthea bersandar. “Warga Mesir menyambut gembira kedatangan kapal ini. Mereka senang bisa membantu menyalurkan bantuan Libya ke Gaza melewati pintu gerbang Rafah,” ujarnya.

Begitu mendarat, isi kapal tak serta merta diturunkan karena harus menunggu truk kontainer yang akan mengangkutnya ke Gaza. Begitu telah truk telah terkumpul, isi perut kapal pun segera dibongkar. Proses bongkar muat berlangsung hingga dua hari dan membutuhkan 22 truk untuk menguras habis isi kapal.

Otoritas Pelabuhan al-Arish juga menyambut baik seluruh awak kapal maupun para relawan asal Libya tersebut.

“Kami di sini disambut dengan ramah dan hangat. Warga al-Arish bangga karena pelabuhan mereka dapat digunakan sebagai tempat bongkar muat bantuan kemanusiaan yang dikirim Libya,” kata salah seorang relawan bernama Azis.

Walau demikian, tak semua truk langsung bisa menembus Rafah. Pemberangkatan truk ke kota yang telah tiga tahun lebih diblokade Israel itu berangkat satu per satu dalam rentang waktu hingga satu jam.

“Ini untuk mempermudah proses pemeriksaan di Rafah hingga gampang disalurkan ke Gaza,” kata salah seorang pejabat pemerintah al-Arish yang enggan disebutkan namanya.

Menurut sang pejabat, walau pintu gerbang Rafah telah dibuka, namun tak berarti proses keluar masuknya orang maupun barang akan mudah. Hal ini tak lepas dari kondisi keamanan yang belum terlalu kondusif.

“Kita sangat ingin membantu warga Gaza yang merupakan saudara kami, namun kami juga harus berhati-hati dalam melakukan proses tersebut. Ada situasi dan kondisi tertentu yang memang menuntut kita untuk berlaku demikian,” lanjutnya.

 

Masuk Gaza

Melalui sejumlah lobi dan jalur-jalur komunikasi dengan berbagai pihak, akhirnya kelima relawan MER-C yang tertahan di al-Arish berhasil masuk Gaza. Kelima relawan yang terdiri dari seorang insinyur dan empat jurnalis tersebut berhasil masuk Gaza pada Sabtu (17/7/2010) pukul 14.00 waktu setempat.

Setelah keluar dari imigrasi Rafah, para relawan disambut dengan suka cita oleh para penjaga perbatasan Gaza. Selain itu mereka juga ditemui oleh sejumlah relawan asing yang telah masuk Gaza lebih dahulu. Sebelum memasuki kota Gaza yang berjarak sekitar 30 kilometer dari perbatasan, mereka juga dijamu oleh otoritas perbatasan.

Ketua Tim MER-C, dr Joserizal Jurnalis, beserta salah seorang relawan datang menjemput rekan-rekan mereka menggunakan taksi sewaan.

“Benar kan kata saya, untuk masuk Gaza itu susah-susah mudah. Jalur resmi tak berhasil, jalur tak resmi malah berhasil. Inilah yang disebut dengan pertolongan invisible hands (tangan-tangan tak terlihat),” kata Joserizal, ketika taksi melaju ke Kota Gaza dengan kecepatan tinggi.*

 

 

 

 

Posted in

Leave a comment