Dari Indonesia untuk Gaza

Siang itu, di tengah teriknya musim panas yang membalut Kota Gaza, rombongan tim MER-C mendatangi lokasi tempat pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Mereka ingin memeriksa kondisi terakhir tanah seluas 1,5 hektar yang diwakafkan pemerintah Palestina yang terletak di Distrik Bait Lahiya tersebut.

Ternyata lahan kosong ini tidak benar-benar kosong, karena masih dijadikan lokasi latihan militer oleh sayap militer Hamas, Brigade al-Qassam. Tak mau tertunda dengan urusan seperti ini, MER-C berencana menemui Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniyah, memintanya memindahkan lokasi latihan militer agar pembangunan rumah sakit segera dilangsungkan.

Selain mengecek kondisi fisik tanah, relawan yang dipimpin oleh dr Joserizal Jurnalis ini juga melihat-lihat keadaan di sekeliling lokasi. Para insinyur yang tergabung dalam rombongan relawan menghampiri sebuah pabrik material yang terdapat di depan lokasi.

“Nampaknya kita akan mendapat sedikit kemudahan material dengan keberadaan pabrik sederhana ini,” kata Faried Thalib, relawan senior MER-C yang mengurusi masalah teknik sipil.

Lokasi yang akan dijadikan tempat pembangunan rumah sakit dikelilingi tembok setinggi tiga meter dan dalam keadaan tertutup. Para relawan tidak masuk ke dalam dan hanya memeriksa dari luar saja.

Dari sebuah lobang kecil sekepalan tangan yang menghiasi tembok, tak tampak seorang pun di dalam. Yang ada hanyalah beberapa alat dan sarana latihan militer milik Brigade al-Qassam.

Joserizal mengatakan, tujuan pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza adalah sebagai bukti silaturahim jangka panjang antara masyarakat Indonesia dan masyarakat Palestina—khususnya di Gaza—yang mengalami agresi dan blokade oleh Israel.

“Kita ingin menyalurkan dana dan amanah masyarakat Indonesia dalam bentuk bantuan yang monumental dan jangka panjang bagi masyarakat Gaza,” ujarnya.

Distrik Bait Lahiya yang terletak di Gaza Utara terpilih karena berbagai pertimbangan. Di antaranya karena jumlah korban yang syahid dalam agresi biadab Israel awal 2009 lalu terbanyak di Gaza Utara, terutama Distrik Jabaliya.

Sedangkan di Gaza Utara hanya terdapat satu Rumah Sakit pemerintah, yaitu Rumah Sakit Kamal Udwan. Sementara fasilitas rumah sakit ini kurang memadai karena hanya memiliki 70 tempat tidur. Padahal korban luka-luka akibat kebrutalan Israel mencapai ribuan orang pada saat agresi berlangsung.

Gaza Utara juga tidak memiliki rumah sakit khusus trauma. Oleh sebab itu, konsep rumah sakit yang akan dibangun MER-C nanti adalah “Rumah Sakit Perang” atau Traumatology Hospital. Rumah sakit seperti ini sangat dibutuhkan warga Gaza karena kondisi negara yang selalu dalam keadaan perang dan diperangi Zionis Israel.

Pertimbangan lain berkaca pada agresi militer Israel, di mana proses evakuasi korban menuju Rumah Sakit Asy-Syifa di pusat Kota Gaza sangat terganggu karena adanya serangan-serangan di sepanjang jalan sehingga banyak korban meninggal sebelum sempat dirawat. Maka keberadaan rumah sakit trauma di Gaza Utara sangat dibutuhkan.

Menurut Joserizal, Gaza hanya memiliki satu rumah sakit yang mempunyai unit rehabilitasi, yaitu Rumah Sakit el-Wafa yang mengalami kerusakan cukup parah akibat agresi. Namun letak rumah sakit ini sangat dekat dengan perbatasan Israel sehingga membuat pasien takut berobat ke sana.

“Apalagi potensi konflik Palestina-Israel bersifat jangka panjang, maka dengan segala pertimbangan yang ada, kita putuskan pembangunan rumah sakit itu di sini,” kata Joserizal.

“Kawasan utara merupakan daerah perkebunan yang juga merupakan daerah pertempuran. Hingga pendirian rumah sakit di sini sangat dibutuhkan,” lanjutnya.

Total luas seluruh bangunan adalah 4.707 meter persegi. Sementara bangunan utama yang terdiri dari dua lantai seluas 4.592 meter persegi. Sebagaimana rumah sakit pada umumnya, Rumah Sakit Perang ini akan dilengkapi dengan ruang X-ray, ruang CT scan, laboratorium, ruang farmasi dan rawat inap untuk laki-laki dan perempuan.

Selain itu, rumah sakit ini juga akan dilengkapi dengan poliklinik, fasilitas fisiotherapy, unit gizi, ICU (Intensif Care Unit), ruang operasi, UGD serta bengkel prosthetic. Semua pegawai rumah sakit nantinya, mulai office boy hingga dokter spesialisnya akan diisi oleh orang-orang Gaza sendiri.

Total anggaran untuk membangun rumah sakit yang desainnya mirip Masjid al-Aqsha ini mencapai Rp 28 miliar. Seluruhnya merupakan sumbangan dari masyarakat Indonesia. Pemerintah Indonesia disebut-sebut juga turut menyumbang sebesar 2 juta US$.

“Kalau masalah perizinan dan proses administrasi sudah beres, dalam waktu setahun rumah sakit sudah diperkirakan berdiri,” harap Joserizal.

 

Gerak cepat

Untuk mempercepat realisasi pembangunan rumah sakit, MER-C bergerak cepat. Keesokan harinya, Joserizal Jurnalis dan dua relawan lainnya menemui Ketua Parlemen Palestina (Palestinian Legislative Council) di ruang kerjanya yang sederhana. Kedatangan ke PLC ini dalam rangka sowan sekaligus meminta dukungan dan kerja sama parlemen Palestina dalam proses percepatan pembangunan.

Dalam pertemuan dengan Ketua PLC Nafiz Yasin al-Madhoun, Joserizal mengungkapkan secara panjang lebar maksud dan tujuan pembangunan rumah sakit serta hal-hal teknis lain terkait dengan perizinan.

Nafiz menyambut baik rencana ini dan berjanji akan menjalin kontak dengan pihak-pihak berwenang di Jalur Gaza. “Kami menyambut baik rencana ini karena kita membutuhkan rumah sakit traumatology sebagaimana yang anda rencanakan. Apalagi di kawasan utara tidak ada rumah sakit yang layak,” kata Nafiz.

Nafiz juga sepakat dengan konsep pembangunan rumah sakit maupun lokasi yang dipilih MER-C. Ia sadar negerinya dalam kondisi yang rawan dan sewaktu-waktu bisa diserang Israel. Oleh sebab itu, konsep rumah sakit perang sudah tepat menurutnya.

“Pembangunan rumah sakit di wilayah utara ini memang benar, karena jumlah penduduknya yang padat serta sewaktu-waktu dapat menjadi korban serangan Israel. Susah mengirimkan para korban ke Asy-Syifa karena jarak yang terlalu jauh,” ujarnya.

Joserizal juga meminta Nafiz membuatkan semacam surat khusus yang akan diberikan kepada Brigade al-Qassam agar mereka meninggalkan lokasi demi kelancaran pembangunan. “Tak masalah,” kata Nafiz. “Akan saya buatkan surat tersebut, dan akan saya hubungi orang-orang al-Qassam agar segera meninggalkan lokasi.”

Mendapatkan jawaban ini MER-C kian bersemangat mempercepat proses pembangunan. Sore harinya, mereka juga bertemu dengan Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniyah di sebuah kantor pemerintah. Selain bertemu dengan perdana menteri, MER-C juga menemui Menteri Kesehatan Palestina, Dr Basem Na’im.

Ketika menerima tim MER-C, Ismail Haniyah didampingi oleh sejumlah pejabat Palestina. Sedangkan semua relawan MER-C yang berjumlah 10 orang hadir dalam pertemuan tersebut.

Sebagaimana pertemuan dengan parlemen, dalam pertemuan dengan perdana menteri Joserizal kembali mengungkapkan hal yang sama.

“Kedatangan kami ke sini adalah untuk menyampaikan amanah rakyat Indonesia untuk membangun rumah sakit di Gaza. Kami sangat mendukung perjuangan rakyat Palestina, khususnya Gaza,” kata Joserizal dalam sambutannya.

Pakar bedah tulang ini juga meminta dukungan penuh pemerintah Palestina dalam merealisasikan pembangunan. Haniyah menyambut baik rencana ini dan berjanji memberikan dukungan penuh.

“Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan kepedulian anda dan seluruh rakyat Indonesia terhadap Palestina. Kami akan membantu semampu kami agar proses pembangunan berjalan lancar,” kata Haniyah.

Dalam kesempatan itu, Haniyah juga menyampaikan beberapa masalah mendasar yang menimpa warga Gaza. Mulai dari sulitnya memenuhi kebutuhan sehari-hari, terbatasnya pasokan bahan bakar, pemadaman listrik yang terjadi tiap hari hingga kesulitan mengakses air bersih.

Menurut Haniyah, untuk mencukupi kebutuhan air bersih seluruh warga Gaza dibutuhkan 82.000 sumur bor. Sementara saat ini jumlah sumur bor yang ada tak sampai seratus buah. “Selain masalah air, kami juga tengah memikirkan cara bagaimana bisa memiliki pembangkit listrik sendiri agar tidak bergantung kepada Israel,” ungkap Haniyah.

Begitu ia menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba listrik di ruang pertemuan padam. Semua kaget dan terdiam seketika. Namun tak berapa kemudian lampu-lampu di aula kembali menyala.

And this is one of the problem, (ini—pemadaman listrik—juga salah satu masalah). Baru saja kita bicara tentang listrik, tiba-tiba dia mati mendadak,” kata Haniyah yang disambut gelak tawa hadirin.

Pertemuan dengan Ismail Haniyah dan jajarannya diakhiri dengan ramah tamah. Pihak tuan rumah menyediakan aneka minuman dan kue basah.

Selanjutnya, proses mendetail rencana pembangunan akan melibatkan sejumlah pihak di Palestina seperti Departemen Luar Negeri, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Kesehatan dan kontraktor lokal.*

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in

Leave a comment