Siang itu, sosok lelaki renta nampak termenung di depan sebuah tenda. Lelaki berusia 65 tahun ini mencoba menggerak-gerakkan kepalanya ke arah datangnya suara. Walau kedua matanya terlihat normal, namun ia tak dapat melihat sesuatu.
Dua orang perempuan yang sebaya dengan si kakek tengah membereskan sisa arang dari tungku di depan pintu tenda. Tungku ini hanya berupa kotak besi persegi empat yang tergeletak begitu saja di atas tanah. Kayu bakar yang belum terpakai berserakan di sebelahnya, menunggu datangnya sesuatu yang dapat dimasak.
Tenda berbentuk kotak yang sobek di beberapa bagiannya itu terletak di pinggiran jalan raya Distrik Jabaliya, Gaza Utara, Palestina. Tak ada perabotan istimewa di dalam tenda beralas tanah ini. Tumpukan baju tergeletak begitu saja di atas dipan kayu rusak.
Piring, sendok dan segala macam alat dapur tertata rapi di papan yang tertutup sobekan karung bekas. Di ruang bagian belakang terdapat sebuah kulkas dua pintu. Kulkas sumbangan relawan ini tak berfungsi karena tidak ada aliran listrik. Ia hanya dijadikan tempat penyimpanan makanan dan obat-obatan oleh penghuni tenda.
Di ruang tengah tenda duduk seorang nenek berwajah keriput dengan bekas luka di sebagian besar wajahnya. Dalam balutan kerudung putih bermotif bunga dan abaya warna hitam, si nenek hanya komat-kamit sambil sibuk menghitung butiran tasbih dengan kedua tangannya. Alas duduknya hanyalah ambal kusam yang menutupi tanah.
Nenek ini bernama Fatimah berusia 105 tahun. Ia adalah ibu ketiga orang di depan tenda. Sedangkan Mursyid, suaminya, telah lama syahid ketika melawan Israel. Rumah keluarga Mursyid dulunya sebuah bangunan flat empat lantai.
Namun, kini telah rata dengan tanah, dihajar bom Israel. Dalam tenda kotak itulah keluarga ini menjalani hidup dalam kekurangan. Mereka menjadi pengungsi di kampung halaman sendiri.
Sejak Israel menghancurkan rumah mereka, hingga kini keluarga Mursyid tidak mendapatkan bantuan apa-apa dari pemerintah. Memang setelah invasi Israel tahun 2009 lalu, UNRWA (Badan PBB Untuk Pengungsi Palestina) pernah memberikan bantuan uang sebesar US$ 1.500 dan beberapa kilogram bahan makanan.
“Namun kami tidak bisa membangun karena tidak ada material. Uang itu pun habis untuk makan sehari-hari,” tutur Suhaila (55), salah seorang anak Fatimah.
Untuk melanjutkan hidup, mereka hanya mengandalkan uluran tangan dermawan dan bantuan kemanusiaan dari para relawan. Suhaila berharap pemerintah memerhatikan kondisi sebagian besar warga Jabaliya yang masih menderita akibat serangan brutal Israel.
“Kami tahu pemerintah tak punya apa-apa, tapi bantuan kemanusiaan dari luar negeri banyak, itulah yang perlu dibagikan kepada warga yang membutuhkan,” pintanya.
Sebagai warga yang independen (tidak pro Hamas atau Fatah), Suhaila menanggung risiko ini, tidak ada yang mau membantu.
Mewakili keluarganya, Suhaila mengungkapkan beban duka yang mereka tanggung akibat serangan Israel. Kakaknya yang bernama Muhammad, lelaki cacat yang duduk di depan tenda, menjadi sasaran keganasan serdadu Israel. Kakek pincang itu berkali-kali ditendang dan dipukul popor senapan karena tak mau mengungkapkan keberadaan milisi Hamas.
“Bagaimana kakak saya tahu di mana pasukan Hamas, dia saja tak pernah keluar rumah karena pincang sejak lahir. Merasa tak mendapatkan jawaban, tentara Israel kemudian menendang dan memukul Muhammad dengan popor senapan. Rintih kesakitan yang keluar dari mulutnya, justru menambah keberingasan mereka,” kata Suhaila.
Sejak itu pula indra pendengaran Muhammad mulai menurun. Demikian pula dengan penglihatannya, lambat-laun mengabur dan menjadikannya buta total. “Kelakuan tentara Israel sangat bengis. Mereka tidak hanya menyiksa Muhammad, namun kami yang wanita juga menjadi sasaran keberingasan mereka,” ungkap Suhaila.
“Saya dan Kifayah (kakak perempuannya) ditendang dan dipukul ketika tengah melakukan shalat. Walau demikian, kami bersyukur kepada Allah karena bisa selamat dari bom dan keganasan tentara Israel,” katanya dengan terbata-bata. Sementara Kifayah hanya mengangguk-anggukkan kepala, seolah mengamini cerita adiknya.
Selain menghancurkan rumah keluarga Mursyid, serdadu Israel juga membombardir Jabaliya dengan bom fosfor. Fatimah yang kebetulan berada di luar rumah waktu itu menjadi korban.
Sekujur tubuhnya terbakar terkena bom laknat tersebut. Walau sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit asy-Syifa, sisa luka akibat fosfor masih membekas di beberapa bagian tubuh dan wajah Fatimah.
Ketika mengepung Jabaliya Israel melepaskan ribuan pasukannya. Mereka datang dengan pesawat tempur, tank dan anjing pelacak. Pasukan Hamas yang tak seberapa jumlahnya, tak kuasa menahan gempuran Israel yang membabi-buta. Akibatnya, ratusan warga sipil menjadi korban. Di pihak Hamas sendiri, sebanyak 20 orang dikabarkan syahid.
Selain menghancurkan rumah-rumah penduduk, Israel juga menghancurkan masjid dengan melepaskan bom dari pesawat tempur dan tank. Masjid terbesar di Jabaliya bernama Masjid Salam itu pun ambruk menyusur tanah.
Warga kemudian mendirikan tenda darurat sebagai penggantinya. Sebuah tempat sujud di atas tanah yang hanya dilapisi tikar dan ambal bekas. Warga belum bisa membangun kembali masjid mereka, karena ketiadaan dana dan bahan bangunan.
Perlawanan tak seimbang
Ahmad Khadad, warga Jabaliya yang selamat dari agresi Israel menuturkan, perang di awal 2009 itu sangat tidak seimbang. Jumlah pasukan Hamas yang menjaga Jabaliya tidak signifikan dibanding ribuan tentara Israel yang datang dengan segenap kekuatan tempurnya.
Bahkan pria yang kehilangan dua anaknya ini menganggap Hamas tidak kuat melawan Israel karena ketidakseimbangan persenjataan di kedua belah pihak. Hamas hanya bertahan sebisanya dengan senjata seadanya.
“Mereka tidak punya RPG (Roket Peluncur Granat) dan senjata berat lainnya. Mereka hanya berbekal senapan AK 47 yang usang dan kekurangan amunisi. Mana cukup untuk melawan pasukan Israel yang berjumlah ribuan yang dilengkapi senjata serba canggih,” ujarnya.
Khadad memperkirakan jumlah serdadu Israel yang menyerbu Jabaliya mencapai 3.000 personel. Sementara jumlah pasukan Hamas tak sampai 100 orang. Tak heran jika Jabaliya, menjadi bulan-bulanan Israel.
“Anda lihat sendiri, desa ini hampir musnah. Ratusan bangunan rumah hancur lebur. Ribuan orang terluka dan ratusan warga lainnya menjadi syahid,” katanya getir.
Khadad memang tidak melebih-lebihkan ceritanya. Bekas reruntuhan dan puing-puing bangunan menghiasi setiap sudut Jabaliya. Wilayah yang dekat dengan perbatasan Israel ini sangat terbuka dan rentan menjadi sasaran tembak. Apalagi Hamas tidak memiliki cukup pasukan untuk menjaga wilayah ini dari serbuan Israel.
“Tentara Israel bisa menyerang dengan sesukanya. Mereka didukung oleh pesawat tempur yang tak henti-hentinya melepaskan bom. Belum lagi tank-tank Merkava yang turut membantu serangan darat. Kami hanya mampu berlindung di rumah, karena tak bisa lari kemana-mana,” tutur Khadad.
Ketika ditanya kenapa warga tidak melawan? Khadad hanya tersenyum sinis. “Bagaimana kami mau melawan? Senjata tak ada, peluru tak punya. Hamas sendiri kewalahan menghadapi Israel karena tak punya apa-apa. Kami hanya mampu bertahan dan memohon perlindungan kepada Allah,” jawabnya.
Tembakan selamat datang
Jarak antara perkampungan warga Jabaliya dengan perbatasan Israel sangat dekat, tak lebih dari dua kilometer. Jalanan yang membelah kampung ini rusak parah. Beberapa bagian aspalnya mengelupas, sebagian lainnya malah hanya berupa tanah biasa. Sekitar 100 meter di luar perkampungan yang mengarah ke wilayah Israel, yang tampak di sisi kiri-kanan jalan hanyalah padang pasir dan lahan kosong.
Beberapa bekas bangunan hancur masih teronggok bisu di beberapa sudut lahan kosong ini. Seorang warga Jabaliya menuturkan, kawasan ini dulunya adalah perkampungan padat yang luluh-lantak akibat gempuran Israel. Dari sinilah tank-tank serdadu Zionis memuntahkan pelurunya.
Makin dekat dengan perbatasan Israel, nampak sebuah masjid kecil dengan cat putih yang nampak kusam. Di belakang masjid terdapat makam warga. Sebagian besar pejuang yang gugur melawan Israel juga dimakamkan di tempat ini.
Sangat mudah untuk membedakan warga yang meninggal dengan wajar dan mereka yang bertempur. Di atas kuburan para syuhada terpampang poster mereka yang menempel di pacak kayu yang tertancap di bagian kepala makam.
Di sebelah kiri pekuburan, persis di belakang masjid, terdapat lahan kosong dengan dengan kontur berbukit. Tanah makam dan perbukitan mini ini dibatasi oleh jalan setapak tanpa aspal.
Tanah di seberang jalan dipenuhi pohon-pohon zaitun milik warga. Hanya beberapa puluh meter dari perkebunan zaitun, terdapat pagar kawat berduri yang membatasi wilayah Gaza dan Israel.
Pada jalan setapak yang menuju wilayah Israel, dekat dengan kawat berduri yang menjadi perbatasan kedua wilayah, terdapat sebuah pos militer Israel. Bangunan persegi berwarna hijau itu dijaga sejumlah pasukan Zionis. Dari kejauhan, sebuah tank Merkava tampak nangkring menjaga perbatasan.
Di sebelah kanan pos militer terdapat tembok putih dengan ketinggian sekitar lima meter. Menurut warga sekitar, di balik tembok putih itulah terdapat barak-barak tentara Israel. Nun jauh di belakang tembok putih, nampak perkampungan kaum Yahudi.
Dari perbatasan yang hanya dipisah kawat berduri inilah Israel kerap menembak warga Jabaliya yang dianggap mencurigakan. Padahal, warga hanya melakukan aktifitas sehari-hari, seperti mengolah tanaman zaitun mereka. Di atas tembok, jauh di angkasa, nampak balon udara berwarna merah melayang-melayang mengitari perbatasan.
Dari kejauhan, balon udara ini hanya sebesar ibu jari. Namun dengan balon inilah militer Israel memantau dan mengawasi perbatasannya dengan Gaza, karena dilengkapi dengan kamera pengintai beresolusi tinggi.
Tiap gerak-gerik warga di sekitar kebun zaitun maupun pemakaman terlihat jelas di layar monitor pusat komando perbatasan. “Tentara Israel dapat melihat kita dengan jelas lewat balon itu. Bahkan hingga ke detil tanah ini,” kata seorang warga sambil menunjuk tanah yang dipijaknya.
Kebetulan di siang yang terik itu, warga Jabaliya tengah melakukan pemakaman terhadap seorang penduduk yang meninggal karena sakit. Areal pekuburan dipenuhi pelayat dan pengantar jenazah. Beberapa orang mendekat ke arah para wartawan yang tengah melakukan peliputan.
Saya dan tiga orang jurnalis televisi swasta saat itu tengah memotret dan merekam suasana sekitar kebun zaitun dan perbatasan dari gundukan tanah yang paling tinggi. Tiba-tiba terdengar empat kali suara tembakan di udara. Abdullah, warga Gaza yang menjadi pemandu para jurnalis berteriak lantang, “Lari, lari, lari! Mereka menembaki kita.”
Namun para jurnalis tak terpengaruh dengan suara tembakan tersebut. Rekan-rekan jurnalis televisi malah tetap LOT (Live On Tape) di lokasi. Warga yang tengah sibuk dengan urusan pemakaman juga nampak terkejut, namun setelah itu tenang kembali. Seolah-olah tembakan semacam itu sudah biasa mereka dengar.
“Paling mereka hanya melakukan psywar terhadap kita. Mereka hanya ingin mengucapkan selamat datang,” canda saya kepada Abdullah.
Sorot mata lelaki tirus itu nampak tak senang mendengarnya. “Ini Gaza, Palestina,” ujarnya. “Israel tidak pernah main-main dengan segala macam psywar. Mereka tak segan-segan menembaki kita semaunya. Tidakkah kau lihat balon udara itu? Mereka sudah tahu kedatangan kita,” ketusnya.
Buumm! Belum usai mulut si ceking ini memuntahkan isinya. Tiba-tiba terdengar dentuman keras di kejauhan. Seperti ledakan bom. Kali ini para jurnalis mulai panik, berhamburan turun dari gundukan dan mendekati kuburan. Bergabung dengan warga yang juga nampak gelisah. Berbagai macam omongan terlontar dari mulut orang-orang yang tengah disibukkan dengan urusan jenazah.
Abdullah juga nampaknya kian khawatir. “Lebih baik kita kembali ke Gaza sekarang. Saya tidak mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu terhadap kalian,” gumamnya.
Sementara itu, warga Jabaliya terus melanjutkan pemakaman jenazah di tengah “psywar” Israel. “Beginilah Gaza. Kami sudah terbiasa dengan serangan Israel yang tiba-tiba. Maut adalah bagian dari kehidupan kami,” ujar salah seorang warga dengan lirih.*

Leave a comment